Batubusuak dan Limaumanih Paling Parah dihantam Galodoh

KERUSAKAN terparah banjir bandang Selasa malam (24/7), terlihat pada Kelurahan Limau¬manih, dan kawasan Batubusuak Kelurahan Lambungbukik. Ada 4.800-an jiwa di Limau Manih dan di Batubusuak 312 KK, terisolasi akibat jembatan putus. Juga dikabarkan 1.500 jiwa mengungsi karena rumah tak bisa dihuni lagi.

Batubusuak dan Limaumanih merupakan daerah paling parah kerusakannya karena termasuk kawasan hulu sungai. Batubusuak berhadapan dengan hulu Batang Kuranji dan Limaumanih berha¬dapan dengan hulu Batang Limaumanih. Kerugian materil selain rumah dan sawah siap panen yang rusak, juga binatang ternak hanyut terbawa arus. Sementara dua jembatan jebol di Batubusuak dan Limaumanih.

Kepala BPBD Padang, Dedi Henidal didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik, Az¬dimar Alwi menyebut, dam¬pak banjir bandang dira¬sakan di lima kecamatan yakni, Ku¬ranji (Kalumbuk), Pauh (Limaumanih, Batubusuak Lambungbukik), Lubukkilangan (Beri¬ngin, Padangbesi), Nang¬galo (Tabiang Banda Gadang, Kurao pagang, Gurunlaweh, Suraugadang), Lubukbegalung (Paraklaweh, Kampung Baru, Gurunlaweh). “Untuk seka¬rang, korban meninggal belum kita temukan,” ujar Dedi.

BPBD baru mendirikan satu tenda pengungsian di Tabiang Banda Gadang atas permintaan warga. Semen¬tara di lokasi lain, masyarakat yang menjadi korban dieva¬kuasi di tempat-tempat yang lebih aman seperti ke Masjid Raya Limaumanih, atau ke rumah saudara mereka.

Tetapkan Status

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyatakan, banjir bandang yang terjadi di Kota Padang, statusnya ditetapkan sebagai bencana daerah. Kare¬na itu, proses tanggap darurat selama satu bulan ke depan.

“Tanggap darurat satu bulan ke depan. SK-nya dike¬luarkan oleh provinsi dan kota. Tidak tertutup kemungkinan masa tanggap darurat diper¬panjang sesuai kebutuhan,” ungkap Irwan saat rapat koor¬dinasi penanggulangan banjir bandang dengan Dirjen Rehab-Rekon BNPB Har¬men¬syah, SKPD dan muspida, Rabu (25/7) di Gubernuran.

Irwan menginstruksikan SKPD terkait untuk mendata seluruh kerusakan dan ke¬rugian. Data itu perlu dimak¬simalkan sehingga diketahui seluruh dampak banjir, baik itu kerusakan sawah, ternak, dan harta benda serta jembatan.

Tak Ada yang Hanyut

Wako Padang, Fauzi Bahar mengatakan, untuk meme¬nuhi kebutuhan korban dila¬ku¬kan langkah assessment de¬ngan membangun dapur umum.

“Ada empat lokasi, yang akan digunakan untuk dapur umum, yakni di Nanggalo dengan melibatkan Batalyon, Limaumanih melibatkan Bri¬mobda Polda Sumbar, Lubuk¬begalung melibatkan Marinir dan di Pauh melibatkan TNI AU,” terangnya.
Fauzi Bahar juga me¬mas¬tikan tidak ada korban tewas dalam kejadian banjir ban¬dang ini. “Enam orang yang semula diduga hanyut dan hilang, ternyata sudah kem¬bali ke rumah masing-masing. Begitu juga kabar adanya satu orang tewas, ternyata tidak ada,” ujar wako.

Untuk penyediaan air ber¬sih bagi korban banjir ban¬dang, Fauzi Bahar menjamin, penyaluran air PDAM dapat diaktifkan kembali, mulai Ka¬mis (26/7). Pemko menurutnya juga menyediakan tenda-tenda darurat bagi korban yang rumahnya hanyut serta perlengkapan logistik lainnya.

Evakuasi, Bantuan dan Siaga

Rabu siang, bantuan sudah mulai mengalir, mulai dari organisasi swasta, partai politik, hingga bantuan yang dikumpulkan mahasiswa.

Sementara, puluhan warga yang terisolasi karena ambruknya jembatan Talawi Kotopanjang, berhasil die¬va¬kuasi Badan SAR Nasional (Ba¬sar¬nas) Padang, Rabu pagi (25/7). Salah satu titik isolasi adalah di RT 04/RW 08 Kelu¬rahan Limaumanih. Para kor¬ban die¬vakuasi ke beberapa titik.

“Jalannya evakuasi me¬mang agak sulit karena ter¬jalnya medan. Sekarang para korban sudah mendapatkan perawatan medis dan ma¬kanan,” tutur personel Ba¬sarnas Padang, Roni, di pe¬ngungsian Limaumanih.
Titik evakuasi berbeda dari lokasi sebelumnya, di mana untuk melawati jalur evakuasi ke masjid terdekat sulit untuk dilaksanakan. Se¬hingga tim harus melewati lokasi berputar dan diu¬saha¬kan para korban sampai di terowongan kampus Unand. Kawasan Limaumanih, me¬rupakan daerah yang paling sulit untuk mengevakuasi para korban.

Sementara itu, curah hu¬jan yang diperkirakan masih tinggi beberapa hari ke depan, warga yang tinggal di daerah perbukitan, tetap diminta was¬pada. Lokasi rawan longsor dan banjir bandang adalah, Bukit Gado-Gado, Bukit Putus di Telukbayur, Bakit Lampu hingga Bungus.

Kepala BPBD Padang Dedi Henidal mengatakan, data se¬mentara BPBD Padang men¬catat, korban yang ditim¬bulkan akibat banjir mencapai 646 orang. Sementara, rumah yang terendam mencapai 448 unit. Kerusakan lain yang ditimbul¬kan akibat banjir ada¬lah ter¬ganggunya air bersih dan ru¬saknya jalan raya Kampus Unand sekitar 150 meter.

BPBD Padang juga masih memberlakukan status siaga bencana daerah terhadap banjir, terutama berlaku bagi warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Batang Kuranji. “Kita meminta warga yang ada di kawasan Sungai Batang Kuranji untuk meningkatkan kewaspadaan, sebab saat ini telah ditetapkan status sia¬ga,” jelas Kepala BPBD Pa¬dang, Dedi Henidal.
“Jika hujan sudah lebih dari satu jam, warga diminta mengungsi ke tempat lebih aman,” tambahnya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumbar HM Tauhid, ketika melihat lokasi banjir bandang di Batubusuak, meminta Pemko dan Pemprov segera merampungkan pen¬da¬taan untuk selanjutnya mem¬bangun kembali infras¬truktur yang rusak. Komisi III, kata Tauhid, bakal mengkaji dana sharing yang melibatkan pemerintah kota dan provinsi. Di samping itu Tauhid berha¬rap PT Semen Padang ikut mem¬bantu pembangunan rumah warga dan jalan yang rusak.

“Sebelumnya sudah ada alokasi dana Rp16 miliar untuk jembatan Batubusuak dan Arai Pinang. Tapi saat ini masih terkendala dengan belanja modal. Pemprov perlu meng¬alokasikan dana itu untuk tahun jamak,” terang Tauhid yang tergabung di Fraksi Hanura.

Bentangkan Pohon Kelapa

Jembatan Batubusuak yang putus sudah mulai dibangun warga dengan menggunakan pohon kelapa. Di kelurahan ini 8 rumah me¬ngalami kerusakan berat, dan satu mushala nyaris roboh.
Rabbanis (45) warga se¬tempat, terlihat sibuk mem¬bersihkan rumah yang teren¬dam banjir. Bagian belakang rumahnya rusak tersapu arus sungai. Ia kehilangan hewan ternak berupa kambing satu ekor, belasan itik dan ayam. Nasib yang sama juga dialami saudaranya, dengan lokasi rumah berdekatan. Sebagian dinding belakang rumah terli¬hat roboh. Sementara itu areal persawahan dan belasan pohon kelapa tampak tum¬bang di pinggir sungai.

Warga Batubusuak lain¬nya, Enek (44) menyebut, banjir bandang muncul secara tiba-tiba saat warga sedang berbuka puasa. Ketika itu hujan turun cukup lebat. Se¬bagian warga sempat terje¬bak di mushalla, karena air bah dengan cepat menjang¬kau lantai mushalla. Dinding dan lantai mushalla, tiba-tiba ambruk.

“Warga masih sempat me¬nyelamatkan diri. Kami tidak menyangka air bah datang begitu cepat, padahal hujan hanya sebentar,” ujar Enek.

Bersihkan Lumpur Kompleks

Selain itu, puluhan rumah di Kompleks Indah Pratama Kelurahan Suraugadang, Nang¬galo, masih menyisakan genangan lumpur setebal lebih kurang 40 cm. Sedang¬kan warga Kompleks Banda Gadang Permai juga sibuk membersihkan lumpur. Se¬mentara, di Tabek Gadang, 44 kepala keluarga terpaksa mengungsi. (Harian POSMETRO Padang, 26 Juli 2012)


Category: Profil MU
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by sweet Captcha