Puncak Salju Hutan Tropis Indonesia

Scan0040IA tampak tegar dan kokoh berdiri menjulang tinggi menembus batas langit Indonesia. Lapisan salju abadi yang menghampar luas menyelimutinya, membuat Carstensz Pyramid tampil semakin menawan, memancarkan segala perbedaan dan kesejukan yang hanya dapat kita temui di atap Indonesia tersebut, Ya atap Indonesia, karena tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi dari puncaknya.

Hembusan angin berhawa dingin sesekali bertiup memecahkan kebekuan suasana. Lapisan udara yang beroksigen tipis jelas menandakan daerah ini merupakan bentukan dari relief bumi yang berada pada daerah tinggi ribuan meter dari permukaan laut. Salju abadi seolah mutiara putih yang menyibak cakrawala angkasa yang tak pernah absen setiap waktu ini terdapat di pelosok paling timur negeri ini, Papua. 

Memasuki hutan tropis Papua membawa fantasi kita pada pepohonan yang berdiameter lebar dengan kerapatan yang tinggi. Akar-akar pohon besar menggelantung seakan-akan mendekorasi hutan yang segaris tampak dibingkai oleh tanaman lumut dan paku-pakuan. Warna hijau monoton ini yang hanyalah perhiasan kecil yang memagari kawasan Pegunungan Sudirman, yang berdiri megah dengan rangkaian puncak-puncaknya yang menjadi fenomenal dengan lapisan salju di atasnya. Sebuah pemandangan alam yang luar biasa mengagumkan.

Di negeri kita yang dilalui garis khatulistiwa ini, kita hanya mengenal dua musim saja yaitu musim hujan dan musim kemarau. Sehingga kita tidak pernah merasakan adanya musim semi atau musim dingin seperti yang sering dialami di negara-negara lain. Menyaksikan adanya salju di Indonesia tentunya sesuatu yang mustahil untuk bisa dimengerti. Namun fenomena alam pun berkata lain. Ya, ternyata daerah tropis Indonesia memiliki titik yang diselimuti lapisan salju. Carstenz Pyramid (4884 mdpl) adalah salah satu puncak yang bersalju tersebut. Puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Pasifik ini terletak di rangkaian Pegunungan Sudirman. Puncak ini terkenal tidak hanya karena tingginya, tetapi juga karena terdapat lapisan salju di puncaknya. Lapisan salju ini seakan-akan menyelimuti puncak Carstensz dan memanjakannya sepanjang tahun.

Pemberian nama Carstenz Pyramid sendiri diilhami oleh nama seorang Kapten kapal kecil Belanda (1629), Jan Carstenz, yang kala itu sedang melewati laut di sebelah selatan Papua. Dengan seksama, ia menyaksikan pemandangan alam di sekitarnya. Dan tampak dari kejauhan lapisan salju di sekitar puncak gunung. Pengalaman ini kemudian diabadikan dalam catatan perjalanannya. Ketika berita ini tersebar di daratan Eropa, banyak orang yang tidak percaya dan menyangsikan keberadaan salju di khatulistiwa seperti yang dilaporkan oleh Jan Carstenz. Namun pada tahun 1899 tim ekspedisi Belanda yang memetakan wilayah Papua menemukan kebenaran laporan Jan Carstenz yang dibuat hampir tiga abad ekspedisi ini dilakukan. Maka sebagai penghargaan atas jasanya, dinamakanlah wilayah glacier ini dengan nama Puncak Carstenz. Sementara tambahan kata pyramid disebutkan untuk puncak tertingginya karena bentuk puncaknya yang menyerupai pyramid.

Lapisan salju yang menyelimuti permukaan puncak Carstensz bisa menyebabkan suhu udara di sini mencapai hingga 2 derajat Celcius. Bisa dibayangkan dinginnya, dengan suhu minus ini air dalam suhu kamar akan segera merubah wujud ketika mendekati suhu titik bekunya. Fenomena terbentuknya salju di wilayah khatulistiwa ini disebabkan oleh kondensasi uap air yang melewati daerah yang bertekanan udara rendah serta suhu yang dingin. Hal ini menyebabkan terbentuknya kristal-kristal es yang berjatuhan hampir sepanjang tahun.

Dinding terjal serta batu-batuan cadas yang keras merupakan gambaran kondisi fisik penampilan Carstenz. Melintasi medan yang sulit ditambah dengan hawa dingin serta persedian oksigen yang tipis tidak jarang membuat pendaki yang mencoba mengadu nyali sangat kewalahan hingga harus berakhir gagal Tidak hanya itu, untuk bisa mencapai puncak Carstenz pyramid ini selain dibutuhkan perlengkapan yang memadai juga diperlukan skill mountaineering yang baik serta kondisi fisik yang kuat. Karena nantinya kita akan merayap di medan yang curam dengan permukaan yang licin akibat lapisan es. Setiap genggaman yang membebani pegangan tangan harus pasti dan posisi kaki yang menempel di jalur harus diperhitungkan secara matang. Sebab sedikit saja kesalahan dalam mengambil langkah akan mengganggu keseimbangan gerakan dan berarti nyawa dipertaruhkan.

Satu dari Tujuh Seven Summit Dunia

Untuk bisa mendapatkan akses menuju Puncak Carstenz, kita harus melalui birokrasi perizinan yang rumit. Hal ini dibuat memang tampak disengaja mengingat kondisi keamanan di daerah ini yang cukup rawan konflik. Paling tidak untuk menuju ke sana, kita harus mengantongi izin untuk bisa memasuki wilayah PT. Freeport Indonesia. Artinya memang tidak sembarang orang bisa memasuki wilayah ini, dan hanya diperbolehkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu saja. Namun ketika sudah mengantongi izin dari PT. Freeport Indonesia, maka segala akses untuk menuju ke sana akan lebih mudah.

Perjalanan dapat dimulai dari Timika, dengan menaiki bus menuju ke Tembaga Pura. Di sini kita masih dapat menjumpai perumahan penduduk dan beberapa pusat keramaian. Kemudian dilanjutkan dengan trem ke Grassberg di kawasan pertambangan Freeport. Daerah ini sudah cukup terisolir, karena selain orang-orang perusahaan, penduduk sipil tidak boleh bermukim di sini. Setelah itu dilanjutkan dengan bus ke Zebra Wall. 

Daerah ini dinamakan demikian karena persis di tempat terdapat dinding tebing yang bercorak hitam putih seperti zebra. Selanjutnya perjalanan menuju basecamp terakhir, lembah danau-danau, sebelum pendakian dengan berjalan kaki sekitar 4,5 jam. Di lembah ini biasanya pendaki bisa beristirahat dengan mendirikan tenda. Lembah Danau-Danau inilah yang dijadikan sebagai titik start pendakian menjejali langkah demi langkah menuju puncak yang menawarkan suatu kepuasan batin bagi pendaki.

Ya, meski kita kita tidak akan pernah mendapati musim salju, tetapi kita telah memiliki puncak bersalju tertinggi di lempeng Autralasia. Puncak yang juga terdaftar sebagai salah satu dari tujuh puncak benua (Seven Summits) yang sangat fenomenal dan menjadi incaran pendaki gunung di berbagai belahan dunia.

Suatu kebanggaan bagi kita memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah. Dan kita sebagai putra bangsa sudah seharusnyalah lebih mengenal dan menguasai alam serta watak ibu pertiwi kita. Karena kita adalah putra Indonesia yang akan mewariskan kekayaan alam ini kepada anak cucu kita nantinya kelak. Semoga. (Fauzan Gusti Wardhana-Mapala Unand)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian PADANG EKSPRES edisi Minggu, 27 November 2005.


Category: Info Carstenz
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
5 Responses
  1. Walad BERTA says:

    Salam lestari……!
    salam buat seluruh Anggota MU, semoga maju and jaya selalau

  2. maera says:

    pegunungan itu namanya sudirman?:???:

  3. Tiar Camp says:

    :cool:
    Asslammualaikum…
    perjalanan yang sangatlah melelahkan
    kami dari MAPASTI Cilegon

  4. maulana chapions matematika says:

    bagus!.. bagus lagu nya bagus menyentuh hati qu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by Sweet Captcha
Verify your real existence,
Bring the piggie his cigar.
  • captcha
  • captcha
  • captcha
  • captcha