<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MAPALA UNAND</title>
	<atom:link href="http://mapalaunand.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mapalaunand.com</link>
	<description>OFFICIAL SITE - MAPALA UNAND</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 17:50:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Gunung Talamau Yang Tidak seperti Dulu Lagi</title>
		<link>http://mapalaunand.com/berita/733/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/berita/733/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 17:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harry Kurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Alih fungsi lahan bukan lagi sekedar kabar burung. Kebutuhan hidup masyarakat yang terus mendesak, telah memaksa terjadinya pembukaan lahan secara serampangan. Hutan lindung dan pegunungan pun akhirnya dibabat, demi mendapatkan sepetak lahan pertanian. Di Sumatera Barat, kondisi demikian salah satunya terjadi di Gunung Talamau. Berikut catatan perjalanan anggota Mapala Unand, Yudhi Halim. Gunung Talamau, barangkali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Alih fungsi lahan bukan lagi sekedar kabar burung. Kebutuhan hidup masyarakat yang terus mendesak, telah memaksa terjadinya pembukaan lahan secara serampangan. Hutan lindung dan pegunungan pun akhirnya dibabat, demi mendapatkan sepetak lahan pertanian. Di Sumatera Barat, kondisi demikian salah satunya terjadi di Gunung Talamau. Berikut catatan perjalanan anggota Mapala Unand, Yudhi Halim.<span id="more-733"></span><a href="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2012/02/P1022330.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-734" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2012/02/P1022330-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p style="text-align: left;">Gunung Talamau, barangkali banyak yang merasa asing dengan nama gunung tersebut. Gunung Talamau memang tidak sepopuler Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang telah dikenal luas di masyarakat, mulai dari masyarakat biasa hingga para penggiat alam bebas. Gunung Talamau terletak di Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat, sekitar 200 km dari kota Padang. Ketinggian gunung ini mencapai angka 2.910 mdpl, atau paling tinggi di Sumatera Barat.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa tahun lalu, orang mengenal Gunung Talamau sebagai gunung yang rupawan, cantik, indah, dan bersih. Gunung Talamau yang diselimuti oleh hutan hujan tropis yang lebat dan alami, digadang-gadang sebagai gunung terindah dengan 13 telaga diatasnya. Maka tak mengherankan, banyak orang yang langsung merasa jatuh hati padanya. Para pecinta alam pun tak akan sungkan untuk mengulang lagi pendakiannya dikemudian hari. Semacam ada kerinduan yang terpatri di hati mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak mengherankan juga jika rombongan petualang dari Multimedia University Malaysia, menggelar tiga kali perjalanan ke Gunung Talamau. Perjalanan penuh persahabatan itu didampingi oleh personel Mapala Unand pada tahun 2001, 2005, dan 2007. Tentu saja pendakian itu berulang karena daya tarik Gunung Talamau yang begitu mempesona.</p>
<p style="text-align: left;">Memang, segala pesona yang dimiliki Gunung Talamau bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Tapi melalui proses penjagaan rutin dan ketat. Misalnya, untuk memasuki kawasan pendakian, setiap pendaki harus diperiksa barang bawaannya. Pemeriksaan tidak hanya ketika akan naik, tetapi juga ketika turun dan akan meninggalkan area kawasan gunung tersebut. Semua barang bawaan diperiksa, terutama barang bawaan yang menjadi sampah. Semua sampah yang ia buat harus dibawa turun, misalnya kalau kita membawa 10 bungkus mie, maka turun kita juga harus membawa plastik pembungkus 10 mie tersebut. Kemudian, setiap pendaki juga harus membawa perlengkapan yang cukup, bahkan kalau ada pendaki wanita, harus ada tenda khusus untuk wanita tersebut dan minimal harus ada 2 pendaki wanita dalam setiap tim. Sebegitulah ketatnya aturan yang dijalankan untuk memastikan tidak ada barang bawaan dan sampah yang tercecer di gunung tersebut agar keindahan dan kebersihan gunung tetap terjaga, serta masih dihargainya etika pergaulan antara laki-laki dan wanita.</p>
<p style="text-align: left;">Tetapi, itu dulu. Sekali lagi itu dulu. Ketika masih ada seorang pecinta gunung yang menjaga dan merawat gunung tersebut tetap bersih agar setiap pendaki yang datang tetap terkesima, tetap bisa bisa menikmati keindahannya, dan menggantungkan asa kerinduan padanya. Pria itu yang biasa dikenal dengan “Daniel”, yang tinggal di pintu gunung tersebut, yang orang biasa mengenalnya penghuni camp “Harimau Campo”. Tetapi, sekali lagi itu dulu. Sekarang Talamau tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi pria yang bernama Daniel tersebut. Tidak ada pemeriksaan ketat yang bertujuan menjaga keindahan dan keasrian gunung tersebut. Kita tidak akan menemui lagi permukaan gunung yang mulus dan diselimuti hutan hujan tropis yang lebat dari kaki hingga puncak. Bahkan, pada beberapa titik, hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi ladang penduduk, ladang jagung dan kelapa sawit. Di sekitar camp Harimau Campo di ketinggian 670 mdpl telah habis dibabat dan berubah menjadi ladang penduduk. Mungkin, suatu saat camp Harimau Campo itu hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang  akan diceritakan pada kerabat dan anak cucu kita nantinya. Pada ketinggian 900 &#8211; 925 mdpl juga terjadi pembabatan hutan baru, yang bahkan tidak lama lagi akan mencapai camp “Rindu Alam” yang berada pada ketinggian 1.170 mdpl. Bisa jadi, suatu saat lokasi “camp rindu alam” hanya tinggal rindunya saja. Sedangkan alamnya hilang entah kemana. Hutan hujan tropis tidak kan dijumpai lagi pada kawasan ini.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak dampak yang mungkin bakal timbul. Selain terjadinya kerusakan dan gangguan ekosistem kawasan gunung, juga akan menyebabkan terganggunya aktivitas pendakian ke gunung tersebut. Banyaknya tanda-tanda jalur yang hilang akan menjadi persoalan serius yang bisa membahayakan keselamatan pendaki. Bahkan untuk sekadar jalan setapak saja yang biasa dilalui oleh para pendaki menuju puncak, tidak tampak lagi. Jangankan tanda jalur berupa penanda tali (<em>stringline</em>) dan bacokan kayu, bekas jalannya saja tidak tampak, tertutupi oleh pohon-pohon yang ditebang. Bagi pendaki berpengalaman yang telah terbiasa ke gunung mungkin tidak terlalu meresahkan. Namun bagi mereka yang pemula dan sekali-sekali ke gunung serta tanpa ilmu rimba gunung yang cukup itu akan menjadi sumber masalah yang luar biasa hebat. Bagaimana nantinya kalau mereka hilang jalur dan tersesat. Tentunya akan merugikan banyak pihak. Tidak hanya pendaki, tetapi juga masyarakat sekitar dan tim terkait.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa penduduk beralasan, pembukaan lahan di gunung tersebut untuk mata pencaharian mereka dan gunung tersebut merupakan hak ulayat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka kepada mereka.  Jadi mereka berhak melakukan apa saja pada gunung tersebut, tidak peduli itu akan melanggar dan merugikan orang lain, terutama orang-orang yang tetap mencintai gunung tersebut dengan kesungguhan hati yang menginginkan gunung tersebut tetap asri, indah, alami, dan rupawan sebagaimana diciptakan <strong>Allah SWT</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Begitulan benar adanya kondisi yang terjadi pada gunung Talamau sekarang. Gunung Talamau yang  tidak seindah dulu dan tidak seperti dulu lagi. Mudah-mudahan dan kita berharap tidak kan ada lagi talamau-talamau lain yang mengalami nasib se-tragis ini. Kita berharap dan hanya bisa berharap pemerintah cepat mengambil tindakan tegas dan mencegah terjadinya pembabatan hutan yang membabibuta di gunung  tersebut, sehingga kita tetap bisa mengunjungi dan menikmati keindahan alam gunung Talamau yang rupawan dan anggun tersebut. Satu hal yang sangat mengkhawatirkan, sebuah gunung harus diubah demi memenuhi desakan perekonomian penduduk setempat.<strong><em> Yudhi Halim (MU 170 Wsl.)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/berita/733/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POSKO RELAWAN MAPALA UNAND</title>
		<link>http://mapalaunand.com/berita/posko-relawan-mapala-unand/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/berita/posko-relawan-mapala-unand/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 16:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-decoration: blink; text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 2px solid black; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://i43.tinypic.com/se0xs3.png" alt="" width="543" height="356" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/berita/posko-relawan-mapala-unand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Bandang Hantam Pesisir Selatan Sumbar</title>
		<link>http://mapalaunand.com/berita/banjir-bandang-hantam-pesisir-selatan-sumbar/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/berita/banjir-bandang-hantam-pesisir-selatan-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 05:36:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Banjir bandang melanda 11 dari 12 kecamatan di Pessel. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, hanya Kecamatan Ampek Nagari Bayang Utara yang selamat dari terjangan banjir akibat hujan lebat sepanjang Senin (31/10) pukul 20.00 WIB hingga Kamis (3/11) siang. Ancaman kelaparan –akibat kekurangan pasokan makanan– dan penyakit kulit, juga mengintai ribuan warga yang rumahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 2px solid black; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://skalanews.com/filemodul/berita/file_item/2/6/2011-11-03/4-orang-tewas-akibat-banjir-bandang-di-pesisir-selatan-sumbar_big__20111103182124_file_vino_cms.jpg" alt="" width="420" height="247" /></p>
<p style="text-align: justify;">Banjir bandang melanda 11 dari 12 kecamatan di Pessel. Catatan Badan  Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, hanya Kecamatan Ampek  Nagari Bayang Utara yang selamat dari terjangan banjir akibat hujan  lebat sepanjang Senin (31/10) pukul 20.00 WIB hingga Kamis (3/11) siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ancaman kelaparan –akibat kekurangan pasokan makanan– dan penyakit  kulit, juga mengintai ribuan warga yang rumahnya terus tergenang air.  Selain itu, sawah gagal panen, irigasi jebol, kerusakan rumah dan  infrastruktur hingga ternak yang hanyut, juga terjadi akibat terjangan  banjir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bupati Pessel, H Nasrul Abit menyebutkan, enam unit rumah juga  dilaporkan hilang akibat diterjang banjir bandang di Pasir Putih  Kambang. Selain itu, sebanyak 17 ribu unit rumah terendam air, 340  hektar sawah gagal panen dan 25 hektar kebun jagung direndam banjir.<span id="more-716"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“28 unit rumah juga rusak berat di Kambang, 6 unit rumah hilang  diserat banjir di Kenagarian Tapan Timur dan 2 unit rumah lainnya, juga  hilang terserat air bah di Muaro Jambu, Air Haji. Total rumah yang  hilang terserat air sebanyak 14 unit. Selain itu, sepanjang 700 meter  jalan negara mengalami rusak berat alias terputus sehingga jalur  tranportasi darat terganggu,” terang Nasrul Abit.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan Nasrul Abit, 3 ton beras, ratusan nasi bungkus juga selimut  dan keperluan lainnya, telah disalurkan ke kampung dan nagari yang  tertimpa musibah banjir. Jika di kecamatan Ranah Pesisir, Linggo Sari  Baganti, BABT, Bayang dan Tarusan terisolasi, bantuan sembako dan  makanan siap saji disalurkan dengan kapal-kapal nelayan setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala BPBD Pessel, Nasharyadi memperkirakan, kerugian diperkirakan  mencapai lebih Rp650 miliar. Jumlah itu, menurutnya, masih sementara  sebab masih banyak kampung dan nagari yang terisolir karena tak bisa  dilewati melalui jalur darat.<br />
Terpisah, Kadis Sosial dan Nakertrans, Zefnihan mengaku, tengah bersama  stafnya tengah di lokasi banjir di Kambang. “Karena akses jalan darat  terkendala banjir, maka penyelamatan korban dan masyarakat, dilakukan  melalui perahu karet. Namun, sangat dibutuhkan tambahan perahu untuk  mengevakuasi warga yang terjebak banjir,” kata Zefnihan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Butuh Tenda dan Obat</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" style="border: 2px solid black; margin: 2px;" src="http://sin.stb.s-msn.com/i/75/D9BB4C461DBC639CD83BE4EB14872D.jpg" alt="" width="400" height="220" />Desa Koto Baru, Desa Koto Kandih dan Desa Tampuniak di Kecamatan  Lenyayang termasuk daerah terparah selama hujan lebat kemarin. Ribuan  rumah dipastikan terendam banjir. Warga setempat mulai mengevakuasi  perabotan dari jangkauan banjir. Hingga tadi malam warga belum bisa  tidur nyenyak di rumah mereka. Genangan air belum menyusut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Air masuk ke dalam rumah setinggi lutut orang dewasa,” kata Ujang (29) warga Kalumpang Desa Koto Baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Ujang, hujan lebat disertai badai terjadi sejak sepekan  terakhir. Warga tak punya pilihan untuk mengungsi lantaran hujan hampir  merata di semua daerah. “Semua kampung juga kebanjiran,” papar Ujang. Di  samping itu warga bertahan di rumah guna memastikan keamanan barang dan  hewan ternak.</p>
<p style="text-align: justify;">Banjir selain menimpa pemukiman warga, juga merendam ribuan hektare  sawah siap panen. Genangan air berasal dari perbukitan dan luapan aliran  sungai yang berhulu di Koto Pulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tokoh Masyarakat Katik Aril menyebutkan, warga terancam penyakit  diare dan penyakit kulit. Warga juga kesulitan untuk memasak makanan dan  Mandi Cuci Kakus (MCK). “Bantuan terpal, makanan dan obat-obatan sangat  kami butuhkan,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Katik, daerah Pessel khususnya Desa Koto Baru dan Tampuniak  kerap dilanda banjir. Pemerintah kata Katik, juga belum memberi  perhatian serius terhadap upaya pengendalian banjir. Imbasnya hampir  setiap tahun rumah warga kebanjiran serta timbul kerugian dari lusaknya  lahan pertanian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditambahkan Katik, sungai yang berhulu di Koto Pulai belum tersentuh  proyek normalisasi. Upaya perbaikan hanya berupa pemasangan bronjong  pada titik-titik tertentu. Lantaran jumlahnya tidak banyak, bronjong  dengan mudah disapu banjir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sungai ini dari hulu sampai hilir panjangnya mencapai 30 kilometer.  Perlu dilakukan normalisasi. Karena melewati ribuan rumah penduduk,  termasuk sejumlah saluran irigasi. Pemerintah harus menyikapi kejadian  ini karena menimpa hampir setiap tahun,” harapnya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Daftar Korban Banjir<br />
Kecamatan Linggo Sari Baganti</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Kibit laki-laki 65 tahun belum ditemukan<br />
2. Rayos 24 tahun perempuan ditemukan Tewas<br />
3. Azil anak Rayos umur 1 tahun perempuan belum ditemukan</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kecamatan Lengayang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Cintia 21 tahun perempuan belum ditemukan<br />
2. Ismaidarnis 42 tahun perempuan belum ditemukan<br />
3. Naisa panggilan Eza 8 tahun perempuan ditemukan Tewas</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pukul 10.00 WIB, Senin 7 November 2011, ditemukan 2 warga tewas  dari 6 yang dinyatakan hilang. Pencarian korban masih dilakukan aparat  gabungan dan relawan. <em><strong>(Heru Dahnur)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/berita/banjir-bandang-hantam-pesisir-selatan-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengincar Puncak Kedua</title>
		<link>http://mapalaunand.com/berita/mengincar-puncak-kedua/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/berita/mengincar-puncak-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 10:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Puncak pertama dari tujuh gunung tertinggi di dunia, Carstenz Pyramid di pegunungan Jayawijaya, Papua dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut (mdpl) sudah tiga kali dicapai Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unand. Yakni sejak 2005, 2006, dan teranyar April lalu. Mengawali misi untuk melewati ketujuh puncak tertinggi dunia (Everest, Aconcagua, McKinley, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson Massif, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 2px solid black; margin: 1px;" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/230107_1385921584289_1719511652_653606_1010966_n.jpg" alt="" width="193" height="283" />Puncak<strong> </strong>pertama dari tujuh gunung tertinggi di dunia, Carstenz Pyramid di pegunungan Jayawijaya, Papua dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut (mdpl) sudah tiga kali dicapai Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unand. Yakni sejak 2005, 2006, dan teranyar April lalu.</p>
<p>Mengawali misi untuk melewati ketujuh puncak tertinggi dunia (Everest, Aconcagua, McKinley, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson Massif, dan Carstenz Pyramid) tersebut, mereka memilih Carstenz sebagai pelabuhan awal. Selain masih berada di wilayah teritorial Indonesia, Papua, biaya yang dibutuhkan pun relatif lebih murah daripada pendakian puncak lainnya.</p>
<p>“Alhamdulillah, kami bisa melewati puncak itu dengan selamat,” kata Hardi Diarmi, pendaki senior Mapala Unand. Menurutnya, itu langkah awal yang baik untuk melakukan pendakian selanjutnya. Dalam waktu dekat, Hardi dan timnya berencana sudah mencapai puncak Elbrus di Pegunungan Kaukasus, Rusia dengan ketinggian 5.642 mdpl, dan  Gunung Kilimanjaro setinggi 5.895 mdpl di Tanzania, Afrika.<span id="more-588"></span></p>
<p>“Targetnya sampai akhir 2012, kami sudah mencapai kedua puncak itu,” ujar Baron, panggilan akrab Hardi.Mendaki, bagi Baron sarat filosofi hidup. Melatih kesabaran, menaklukkan kesombongan dan ketakutan diri. Berbagai tantangan dan risiko mesti diperhitungkan seksama. Pendaki harus mampu menganalisis dengan baik medan yang akan dilalui, sebab dalam pendakian hanya ada dua pilihan; selamat melewati rintangan atau jatuh menemui ajal. “Kepuasannya ketika sampai di puncak,” imbuh Baron, alumni Marlboro Adventure Team di Colorado, AS, itu.</p>
<p>Maka jangan heran, banyak pendaki top dunia kehilangan nyawanya dalam misi menaklukkan Seven Summits (sebutan untuk tujuh puncak tersebut). Seperti halnya yang menimpa salah satu pendaki yang juga wartawan Kompas, Norman Edwin dan rekannya Didiek Samsu, menghembuskan napas terakhir di puncak Aconcagua di Pegunungan Andes, Argentina.</p>
<p>Baron lalu menuturkan pengalamannya dalam pendakian Carstenz. Ada banyak rintangan yang harus dilewati. Seperti cuaca ekstrem, batu cadas nan terjal, suhu di bawah nol derajat, udara tipis, hingga binatang buas. Rintangan itu harus diperhitungkan sedetail mungkin. Keberhasilan pendaki dalam petualangan sangat bergantung seberapa disiplin mereka menyiapkan diri untuk proses pendakian.</p>
<p>Baron menggarisbawai persiapan fisik, mental, dan bekal untuk memulai proses pendakian. “Ketahanan dan kesehatan fisik sangat perlu, termasuk juga peralatan yang digunakan selama pendakian. Apalagi kalau untuk medan seperti Carstenz, juga diperlukan bekal tali, dan lain-lain,” jelasnya.</p>
<p>Mendaki mampu menumbuhkan kecintaan kepada alam. Mapala Unand, tambah salah satu anggotanya Sartika, tidak membatasi kreativitas anggota. Jika ada usulan atau ide menarik untuk melakukan observasi dan penelitian lingkungan, senantiasa dibahas.</p>
<p>“Ada banyak kegiatan di sini. Mulai dari yang rutinitas seperti bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, olahraga ekstrem, sampai terlibat evakuasi bencana. Semuanya dilakukan di sini,” terangnya.</p>
<p>Di Mapala Unand, memiliki empat divisi, yakni Divisi Rimba Gunung, Panjat Tebing, Penelusuran Goa, dan Arung Jeram. “Tetapi, setiap anggota boleh mengikuti semua kegiatan di Mapala. Walaupun di divisi Arung Jeram, tetap boleh mengikuti yang lain,” katanya.</p>
<p>Keanggotaan di Mapala sudah berdiri sejak 1984 itu bersifat seumur hidup. Maka jangan heran banyak anggotanya yang sudah berusia 50-an. Tujuannya, kata Sartika, agar tidak ada jarak di antara anggotanya. “Jadi mereka bisa sharing, diskusi, dan menularkan kepandaian kepada anggota yang baru,” imbuhnya.</p>
<p>Seabrek prestasi telah dipersembahkan Mapala Unand untuk Unand. Mulai dari juara panjat tebing tingkat Sumbar hingga nasional, finalis arung jeram internasional dan berbagai lomba lintas alam tingkat Sumbar dan nasional.<strong>(heri faisal)</strong></p>
<p><em><strong>*Tulisan pernah dimuat di Harian Padang Ekspres • Sabtu, 08/10/2011 </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/berita/mengincar-puncak-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggota Mapala Unand Kembali Ke Puncak Carstensz Pyramid</title>
		<link>http://mapalaunand.com/berita/anggota-mapala-unand-kembali-taklukan-carstensz-pyramid/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/berita/anggota-mapala-unand-kembali-taklukan-carstensz-pyramid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 12:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Bendera Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Andalas (Mapala Unand) kembali berkibar di puncak tertinggi Indonesia Cartens Pyramid, Papua. Keberhasilan tim ekspedisi yang beranggota 10 orang itu jadi kebanggaan luar biasa karena Cartens Pyramid (4884 MDpl) merupakan pegunungan bersalju satu-satunya di lintasan equator (khatulistiwa). “Kami telah melakukan pendakian panjang selama hampir 7 hari (22-29 April). Melewati tanjakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 2px solid black;" src="http://i53.tinypic.com/4se0lf.jpg" alt="" width="176" height="275" />Bendera Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Andalas (Mapala Unand) kembali berkibar di puncak tertinggi Indonesia Cartens Pyramid, Papua. Keberhasilan tim ekspedisi yang beranggota 10 orang itu jadi kebanggaan luar biasa karena Cartens Pyramid (4884 MDpl) merupakan pegunungan bersalju satu-satunya di lintasan equator (khatulistiwa).</p>
<p>“Kami telah melakukan pendakian panjang selama hampir 7 hari (22-29 April). Melewati tanjakan curam dan pada hari terakhir, dinihari, pendakian puncak kami lakukan dan tiba di Puncak Cartens tangah harinya,” kata Hardi Baron Diarmy, seorang personel Mapala Unand yang ikut dalam rombongan pendakian tersebut.</p>
<p>Ekspedisi yang beranggotakan personel dari berbagai perguruan tinggi dan kelompok pecinta alam memulai perjalanan dari jalur Tembagapura, kawasan raksasa tambang emas, PT Freeport. Perjalanan tim ekspedisi dimulai dari KM 68 Tembagapura menuju kawasan Zebra Wall dengan melewati Gunung Biji Timur. Perjalanan berat dan melelahkan dirasakan tim ekspedisi saat bertolak dari Zebra Wall menuju Lembah Danau-danau.</p>
<p>“Pegunungan cadas dan terjal. Banyak tanjakan. Sedikit alpa, nyawa taruhannya,” papar Hardi Baron Diarmy yang juga pengelola wahana wisata, Lubuak Minturun Park di Padang, kemarin.<span id="more-570"></span></p>
<p>Bagi Mapala Unand, ekspedisi ke Puncak Cartens merupakan yang ketiga kalinya. Keberangkatan sengaja berkolaborasi dengan berbagai organisasi mengingat, mahalnya ongkos perjalanan. Sejauh ini Mapala Unand sebagai organisasi pecinta alam berpengaruh di region Sumatera, selalu berpartisipasi dalam ekspedisi puncak dunia. Sebelumnya, tim ekspedisi perempuan Mapala Unand menyambangi Puncak Kinabalu, Malaysia dan personel lainnya telah menjejak puncak Fujiyama Jepang.</p>
<p>Ketua Mapala Unand M Rizki menyebutkan, Mapala Unand konsisten dalam persiapan pendakian puncak dunia. “Saat ini yang dipersiapkan adalah program pendakian seven summit (7 puncak dunia). Pendakian ini akan mengangkat citra lembaga dan rasa percaya diri generasi muda Indonesia. Karena puncak yang dikunjungi terbilang eksotis dan populer seperti Kilimanjaro Afrika dan Elbrus Rusia. Cartens Pyramid satu dari Seven Summit dan personel kita telah kembali dari sana,” kata M Rizki.</p>
<p><img class="alignright" style="border: 2px solid black;" src="http://i53.tinypic.com/x44tif.jpg" alt="" width="259" height="194" />Rizki menambahkan, Mapala Unand juga konsisten dalam aksi sosial. “Mulai dari bencana tsunami Aceh, gempa Sumbar 2007 dan 2009 serta tsunami Mentawai, kami selalu mengirimkan personel. Selain itu upaya penyelamatan korban tersesat di gunung hutan, juga dilakukan,” terang Rizki sembari mengatakan, saat ini sedang mempersiapkan kampanye tertib buang sampah di Kampus Unand dan daerah sekitarnya.</p>
<p>Rektor Unand Musliar Kasim mengapresiasi prestasi yang telah diraih Mapala Unand. Ia berpesan, mahasiswa tetap menyeimbangkan kegiatan akademik dan kegiatan ekstrakurikuler. Untuk itu, di kampus telah disediakan sarana prasarana berbasis ICT di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/berita/anggota-mapala-unand-kembali-taklukan-carstensz-pyramid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

