<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MAPALA UNAND &#187; Catatan Perjalanan</title>
	<atom:link href="http://mapalaunand.com/category/catatan-perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mapalaunand.com</link>
	<description>OFFICIAL SITE - MAPALA UNAND</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 17:50:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Anggota MAPALA UNAND Juarai Djarum Super Adventure Race, Raih Toyota Rush</title>
		<link>http://mapalaunand.com/prestasi-mu/anggota-mapala-unand-juarai-djarum-super-adventure-race-raih-toyota-rush/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/prestasi-mu/anggota-mapala-unand-juarai-djarum-super-adventure-race-raih-toyota-rush/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 10:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/profil-mu/anggota-mapala-unand-juarai-djarum-super-adventure-race-raih-toyota-rush/</guid>
		<description><![CDATA[SETELAH berjuang melintasi sejumlah medan petualangan, akhirnya Anggota Mapala Unand, Fajri Isral berhasil keluar sebagai pemenang Djarum Super Adventurace (DSA) 2008 yang di gelar di Bogor Jawa Barat. Lomba tantangan alam terberat dan terakbar di Indonesia ini, dimenangkan dengan catatan waktu 18 jam 55 menit 25 detik. Rute yang dilewati selama kompetisi yaitu, endurance 24 jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i267.photobucket.com/albums/ii317/medapri/fajridanArpian.jpg" style="width: 250px; height: 240px" width="250" align="left" height="240" />SETELAH berjuang melintasi sejumlah medan petualangan,  akhirnya Anggota Mapala Unand, Fajri Isral  berhasil keluar sebagai pemenang Djarum Super Adventurace (DSA) 2008 yang di gelar di Bogor Jawa Barat. Lomba tantangan alam terberat dan terakbar di Indonesia ini, dimenangkan  dengan catatan waktu 18 jam 55 menit 25 detik.<br />
Rute yang dilewati selama kompetisi yaitu, endurance 24 jam (renang 1 km, jeep offroad 42 km, mountain bike 6 km dan trekathlon 6 km) yang mengambil finish di Telaga Saat, Puncak,Sabtu (9/8). Dengan keberhasilannya menjadi pemenang Djarum Super Adventurace, Fajri berhak membawa pulang Toyota Rush.<br />
Sangat wajar bagi Fajri membawa Toyota Rush, karena segala tantangan berat trekathlon, panjat tebing, berenang, mountain bike, motorbike hingga jeep, mampu dilewatinya dengan sempurna. “Tantangan terberat adalah mountain bike ketika treknya mendaki pegunungan. Disini rutenya sangat sulit terutama di daerah Jatiluhur,” ujar Fajri  Isral.<span id="more-223"></span><br />
Kemenangan pria yang masih duduk di bangku Fakultas Hukum Unand itu disebutkan bukanlah secara kebetulan. Jauh hari sebelum mengikuti seleksi, Fajri mengaku telah melakoni latihan rutin setiap sore harinya di kampus. Antara lain rutinitas latihan tersebut, jogging, renang, arung jeram dan climbing di papan panjat Mapala Unand di areal PKM Unand.<br />
Beberapa hari menjelang keberangkatan ke Jakarta, Fajri juga intensif berlatih Kayak I dan II di Batang Kuranji. Latihan itu akhirnya berguna saat the winner yang satu-satunya perutusan Sumbar khususnya Unand itu melintasi Waduk Jati Luhur menggunakan Canoeing. “Meskipun berbeda antara kayak dan canoeing tapi sistem dayung dan cara menjaga keseimbangan di atasnya hampir sama,” kata Fajri yang dihubungi POSMETRO via ponselnya tadi malam.<br />
Dihubungi terpisah, Pembantu Rektor III Unand DR Badrul Mustafa K DEA mengaku gembira dengan perolehan prestasi mahasiswanya itu. “Ini kompetisi yang patut diacungkan jempol. Pesertanya berasal dari penjuru Indonesia.<br />
Betul-betul perjuangan yang berat bagi pemenang. Selamat bagi mahasiswa saya itu,” kata Badrul sembari menyebutkan informasi kemenangan diterima pertama kali dari Kabag kemahasiswaan Drs M Boni usai menggelar rapat kerja kemarin.<br />
Seperti dilansir koran ini sebelumnya,  592 peserta  telah mengirim kuesioner kompetisi DSA. Dalam seleksi kuesioner itu, ada empat tahapan proses yang harus dilalui mereka yakni kelengkapan administrasi, kelengkapan isi dan keabsahan kuesioner. Lalu pengelompokan daerah asal dan kualifikasi awal. Di tahapan ketiga pemeriksaan jawaban dan penilaian, serta tahapan keempat pengelompokan berdasarkan kualifikasi nilai.<br />
Dari 592 peserta itu, Fajri Isral dinyatakan lolos bersama 63 peserta lainnya melalui serangkaian wawancara. Selanjutnya diterima undangan untuk mengikuti kompetisi awal dan pelatihan serta uji ketahanan fisik, keahlian dan pengetahuan, serta kesehatan pada 2-3 Agustus  di Jawa Barat. (Heru Dahnur/MU 173 Srk.)</p>
<p>Pernah dimuat di Harian POSMETRO Padang Hari Rabu, 13 Agustus 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/prestasi-mu/anggota-mapala-unand-juarai-djarum-super-adventure-race-raih-toyota-rush/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENJELAJAHI PERADABAN NEGERI BRITAIN (Bagian 1)</title>
		<link>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/menjelajahi-peradaban-negeri-britain-bagian-1/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/menjelajahi-peradaban-negeri-britain-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 10:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/menjelajahi-peradaban-negeri-britain-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Fauzan Gusti Wardhana (MU 169 Wsl.), Salah Seorang Anggota Penuh MAPALA UNAND yang mengikuti Pertukaran Pemuda ke Inggris]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Catatan Perjalanan Fauzan Gusti Wardhana (MU 169 Wsl.), Salah Seorang Anggota Penuh MAPALA UNAND yang mengikuti Pertukaran Pemuda ke Inggris</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"> <img src="http://i267.photobucket.com/albums/ii317/medapri/1_635668008l.jpg" ?action="view&amp;current=1_635668008l.jpg"" target="_blank" alt="Photobucket" align="left" border="0" height="200" width="250" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"><em>Bilamana Saya Bisa Melihat Lebih Jauh, Itu Karena Saya Berdiri di Atas Bahu Orang-Orang Besar&#8230;&#8230;..</em>(Sir Isaac Newton)</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"><o:p></o:p><strong>SORE </strong> ini langit terlihat cerah. Permukaannya bersih, dan hanya sesekali tebaran-tebaran tipis awan Cirro Cumulus menghiasi pelataran cakrawala yang begitu anggun membuka tabir di senja nan permai. Belaian anginnya terasa begitu lembut menyetuh wajah, dan sejuk menerpa pori-pori <span> </span>kulitku. Diselimuti mentari senja yang membias tipis di sela-sela pilar-pilar kokoh dan berukir dari bangunan khas<span>  </span>peninggalan medieval (dari abad pertengahan) di eropa barat, membuat pemandangan sore di langit-langit<span>  </span>Oxford itu semakin menawan. Begitu elok dilihat, ramah memikat, membuka lentera ketakjuban, memberi ruang untuk berimajinasi, berkontemplasi, serta menampilkan landsecape yang membuat decak kekagumanku tak <span> </span>henti-hentinya berkomentar. Excellent!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"><span id="more-221"></span>Menyambut <em>summer</em> tahun ini, Oxford kembali hangat, bergairah, kembali berbunga dengan rupa-rupa warna yang bermekaran dengan intensitas cahaya matahari yang berlimpah. Tatanan kota yang rapi dan bersih, dipadati oleh pejalan kaki dan pengguna sepeda, menampilkan keunikan tersendiri, menciptakan? warnanya? <span> </span>sendiri. Oxford adalah representasi dari kota pelajar yang berkelas dunia. Kota ini<span>  </span>merupakan negeri impian bagi pelajar dan makhluk kutu buku yang berorientasi pada kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan peradaban dunia untuk menggali hikmah, memecahkan <span> </span>hipotesa. Satu dari sepuluh universitas terbaik di dunia ada di sini, The <span> </span>University of Oxford, yang terbukti telah mencetak banyak para pembesar dunia dan manusia-manusia hebat yang membawa perubahan di zamannya. Mulai dari penemu mikroskop sekreatif Robert Hooke, perdana mentri, presiden, penjelajah bumi, sastrawan, hingga aktor komedi<span>  </span>kawakan sekaliber Rowan ?Mr. Bean? Atkitson, pernah membekali diri, menggantungkan harapan dan merajut mimpi-mimpinya di kampus ini, di langit-langit Oxford, dengan ditopang oleh ?pilar-pilar kokoh? dari mahligai ilmu dan pelita masa depan yang terbentang luas di dalamnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"><span></span>Hari ini segenap suka cita dan rupa-rupa pengharapan melimpah ruah ke jalanan, di sela-sela kesibukan, di pelesiran akhir pekan, dengan beragam pertunjukan<span>  </span>street performance berkelas digelar di lapangan<span> </span>terbuka, di sudut-sudut kota Oxford yang sedang bersuka cita menyambut pergantian musim, peralihan tepatnya, menuju summer. Adalah juga sebuah <span> </span>keberuntungan bagiku untuk bisa kembali merasakan hangatnya mentari, setelah sebulan lebih tubuhku dibaluti pakaian tebal dan berlapis lantaran karena suhu dingin di negeri empat musim yang kisarannya bisa mendekati angka 1 ?C. Perbedaan geografis yang tajam membuat mekanisme alamiah perlindungan tubuhku secara fisiologis belum terbiasa dan pastinya sangat asing terasa berhadapan dengan temperatur ekstrem ini. Begitu kontras berbeda dengan dinginnya kampung halamanku di negeri timur sana, Padang, <span> </span>Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal"><span></span>Oxford selalu lekat dengan tradisi dan budayanya yang kental. Kejayaan masa lampau, dengan luapan kemegahan dan keagungan The British Empire <span> </span>tertuang di dalamnya.<span>  </span>Di sini banyak ditemui bangunan tua yang berumur hingga ratusan hingga ribuan tahun silam yang masih terjaga dan dirawat dengan telaten. Masa-masa dimana kekuatan Britain?s Empire mulai memberikan pengaruh, menebarkan kekuasaan hingga pada akhirnya menguasai hampir separoh dari batas-batas wilayah di permukaan bumi ini melekat erat di ruas-ruas banggunannya, terpahat indah pada ralief-relief patung-patung berseni tinggi. Penjelajahan dan ekspansi wilayah merupakan karakter kuat yang dibangun oleh budaya masa lampau negeri Britain untuk memakmurkan kerajaan ini yang kini lebih dikenal dengan nama United Kingdom.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Negeri empat musim yang memiliki negara persemakmuran terbanyak dengan berbahasa pengantar paling populer di dunia. Begitu banyak penemuan-penemuan dan ketakjuban peradaban modern<span>  </span>tercipta di sini. Dengan karakternya yang khas itulah hingga sekarang kerajaan ini masih terlihat elegan dengan aura kebesaran masa lampau menyertai di belakangnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Memasuki jalan-jalan kecil di untuk mengeksplorasi Oxford lebih jauh belumlah lengkap tanpa menulusuri labirin kampus The University of Oxford, yang membuat Oxford begitu fenomenal dan mendunia. The University of Oxford terdiri dari beberapa college. Semua college tersebut memiliki nama tersendiri, disiplin ilmu tersendiri, namun masih berada di dalam bendera besar perlambang integrasi, The University of Oxford tadi, yang telah memulai kegiatan belajar mengajarnya<span>  </span>sejak tahun 1249 M. Secara keseluruhan terdapat 36 College yang bernaung di langit-langit Oxford. Dan kesemuanya itu, mengandung kesamaan bentuk, kesamaan struktur bangunan,<span>  </span>meski beda dalam konsentrasi studi. Memasuki pelataran ruas jalan menuju kampus ini akan membawa kita pada ketakjuban individu yang<span> </span>begitu berkesan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Di sini, kampusnya persis terkotak-kotak seperti segi empat dengan papan namanya masing-masing. Bila dilihat dari atas (foto udara) persis seperti suatu rantai melingkar yang tertutup dengan pelataran jalan yang datar. Labirin jalannya bisa terhubung antara satu jalan dengan jalan yang lain<span>  </span>Dan lagi sebuah kontradiksi pun terjadi di sini, di saat kemajuan teknologi Inggris mampu menyulap semua mekanisme menjadi serba berbau digital, namun bila berpadu dengan karya seni ratusan hingga ribuan tahun yang lampau, sungguh memberikan kekuatan kharisma yang unik, eksotis, tapi modern. Di Catte street misalnya, ada sebuah bangunan gothic berkubah besar yang menjadi ikon dari kampus Oxford, Radclife Camera-yang sepintas seperti bangunan kubah mesjid di Indonesia-<span>  </span>di bangun pada abad ke-13 namun begitu anggun berdiri dengan rumput hijau yang menyejukan mata terbentang indah di depannya, di sana bisa ditemukan koleksi peninggalan antar peradaban, lintas generasi. Serta tentu ruangan di dalamnya terawat dengan mekanis kontrol suhu dan kelembaban ruangan yang terkomputerisasi dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Tradisi bersepeda merupakan daya tarik kuat yang menjadikan Oxford tampak begitu bersahabat. Tidak terlalu larut dengan kebisingan dan hingar-bingar kendaraan serta polusi bawaannya. Sepintas tampak serasa seperti di Jogja, berselera klasik. Itulah sebabnya banyak pelajar mahasiswa senang nongkrong dan menghabiskan jam istirahat di alun-alun kota, di bawah pilar-pilar bangunan yang kokoh sambil memangku buku bacaan dan kertas coretan di sebelahnya. Mereka sepertinya tampak begitu menikmati suasana kondusif untuk lingkungan belajar, berdiskusi, dengan bentangan langit cerah di atasnya, melintasi celah-celah peradaban yang terselip di kepingan dinding bangunannya, juga sambil mendapatkan inspirasi dari goresan sejarah kesuksesan peradaban manusia di dalamnya.<span>  </span>Di sini komposisi mahasiswanya sangat beragam, lintas negara, lintas benua. <span> </span>Sehingga seakan terlihat seperti replika kecil dari penduduk dunia, begitu majemuk, mulai dari bentuk rambut, warna kulit, ukuran rahang, hingga <span> </span>ragam bahasa yang berbaur antara satu dengan yang lainnya. Sistem liberal yang dianut dalam segala peraturan di Inggris memang mengizinkan segala bentuk rupa-rupa perbedaan itu mampu beradapatasi dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Sejenak akupun mencoba merasakan nikmatnya duduk di bawah pilar-pilar besar dimana banyak ditemui orang-orang duduk di lantainya yang berjenjang-jenjang, di pilar bangunan Bodleian Library- salah satu perpustakaan tertua di belahan Eropa- dimana banyak karya-karya ilmiah dari ilmuan termasyhur yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan terabadikan dengan rapi di sini, seperti manuskrip teori relativitas Einstein misalnya. Dan ternyata benar, pelataran ini sangat cocok dan paling digemari oleh pelajar ataupun pejalan kaki yang lewat untuk berhenti sebentar sambil menikmati keindahan kota dengan pemandangan terbuka dan kemudahan akses untuk berpergian kemanapun. Sambil menikmati penantian senja, kubuka lembaran kecil catatan perjalananku. Kucoba sebisa mungkin merangkai kata untuk melukiskan tekstur dan kemegahan dari sejarah peradaban medieval di Eropa Barat, di langit-langit Oxford ini. Baris demi baris kata mengalir dengan lancar seakan menumpahkan semua memori di kepalaku tentang perjalanan<span>  </span>panjang yang mengantarkanku sampai di Oxford ini. Sesaat aku terbawa oleh lamunan. Suasana seakan hening, tatapanku terpaku pada pilar-pilar kokoh bangunan pustaka ini. Bagaimana mungkin peradaban masa lalu bisa menciptakan karya agung dan merefleksikannya lewat dinding serta masih bisa digunakan oleh ratusan atau bahkan ribuan tahun setelahnya? Seakan tak percaya, aku kembali memperhatikan dinding dan pilar itu secara seksama dan kembali berkontemplasi. Seakan dinding-dinding bangunannya ikut bersaksi dan bercerita padaku tentang dinamika peradaban masa lampau dan dedikasi orang-orang terdahulu. Bangunan ini adalah karya agung hasil kerja keras yang cerdas dan<span>  </span>menggambarkan akan semangat, dedikasi jiwa, serta efisiensi tata ruang, sehingga membuat orang teringat selalu dengan sejarahnya. Ya, sejarah ternyata bukan hanya rentetan peristiwa yang berisi tanggal-tanggal penting tentang suatu kejadian hebat yang perlu diperingati, namun lebih dari itu, sejarah memberikan kebijaksanaan akan pilihan hidup dan membuat manusia-manusia yang hidup setelah itu belajar banyak dari pengalaman hidup manusia masa lalu. Bukankah manusia yang bijak adalah manusia yang bisa belajar dari pengalaman? Demikian kiranya pemikiran futuristik dari arsitektur bangunan di kampus tua ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Langit senja di Oxford semakin menawan seiring dengan<span>  </span>semakin rendahnya sinar mentari yang menyusupi lorong-lorong kota Oxford. Aku masih terduduk diam di penantian senja itu dengan sebuah pena dan buku kecil yang masih berada dipelukan jari-jemari tanganku.<span>  </span>Kini putaran waktu telah membawaku jauh melayang dari kampung halamanku-Padang Kota Tercinta- dan melemparkanku di lorong-lorong kota di belahan Eropa Barat yang dulunya hanya kukenal lewat pelajaran IPS kelas enam sekolah dasar. Secara pasti putaran itu terus bergerak maju dan tak kuasa kuhentikan. Bilamana masa satu detik itu adalah durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol Kelvin, di balik hitungan bilangan rumit itu, maka tentunya aku juga tidak bisa berspekulasi kehidupan seperti ke depan dari peradaban yang aku hidup di dalamnya ini. Karena kesetaraan getaran itu hanyalah suatu standar ukuran untuk menunjukan bilangan waktu tanpa bisa memprediksi dimensi ruang yang akan terjadi. Satu hal yang kutahu sifat independent variable dari waktu -yang tidak akan pernah kembali ini- adalah di bulan yang lalu aku duduk-duduk sambil mereguk secangkir kopi kental khas berselera Padang di pelataran parkir gedung PKM kampus Unand Limau Manis, bercengkrama dengan teman-temanku, juga sambil menikmati senja dan menatapi gedung-gedung megahnya. Dan kini, aku duduk di suatu senja yang lain, melintasi <span> </span>miliyaran getaran cesium-133, di ruang yang berbeda, melintasi dua samudera, di peradaban Britain, di langit-langit Oxford, dan juga tentunya mempunyai dimensi ruang yang sama sekali beda. Kejadian-kejadian masa lalu yang kuanggap biasa-biasa saja ternyata berdampak besar bagi kehidupanku selanjutnya. Rutinitas di ruang kuliah, dari seminar ke seminar, bernegosiasi dari kantor ke kantor, serta petualangan bersama MAPALA UNAND secara tanpa kusadari simultan juga telah ikut merajut masa depan di getaran cesium -133 berikutnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal">Waktu ternyata hanya memberi sebuah ?kesempatan? terhadap elemen apapun yang memakainya. Semua kita punya kesempatan<span>  </span>itu. Adapun mengenai produk dari pemanfaatan kesempatan (waktu) tadi cenderung relative. Orang bisa miskin hari ini dan menjadi kaya hari esok juga tergantung perlakuan apa yang diberikan terhadap kesempatan itu. Di Oxford, ribuan kesempatan telah membuka peluang bagi manusia-manusia di dalamnya untuk merubah warna dunia, begitu jauh meninggalkan peradaban medieval, melintasi komunikasi verbal hingga menyentuh teknologi digital. Mereka menciptakan peradabannya sendiri, menciptakan ?warnanya? sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/menjelajahi-peradaban-negeri-britain-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi ulang dan Guiding Nephentes Survey</title>
		<link>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/ekspedisi-ulang-dan-guiding-nephentes-survey/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/ekspedisi-ulang-dan-guiding-nephentes-survey/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 11:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/ekspedisi-ulang-dan-guiding-nephentes-survey/</guid>
		<description><![CDATA[TUJUH&#160;tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengingat jalan yang pernah dilewati. Jalur pantai cermin didominasi hutan lumut sangat mudah rusak dan hilang ditelah tumbuhan pionir itu. Pada batang kayu walau samar masih menyisakan bacok tiga dan stringline tersisa. Malam itu kami harus bergegas mengumpulkan barang di Tandike Outdoor Shop. Pengumpulan barang bawaan ke lapangan berguna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="postbody"><strong><img alt="22800794633480l" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2008/05/22800794633480l-small.jpg" align="left" border="0" />TUJUH</strong>&nbsp;tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengingat jalan yang pernah dilewati. Jalur pantai cermin didominasi hutan lumut sangat mudah rusak dan hilang ditelah tumbuhan pionir itu. Pada batang kayu walau samar masih menyisakan bacok tiga dan stringline tersisa.</span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Malam itu kami harus bergegas mengumpulkan barang di Tandike Outdoor Shop. Pengumpulan barang bawaan ke lapangan berguna demi persiapan pendakian ulang di daerah ekspedisi ketika Anggota Muda (AM) dulu. </p>
<p><span id="more-208"></span></p>
<p align="justify"></span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Beberapa hari sebelumnya sang koordinator Guide telah mewanti-wanti untuk tidak datang terlambat dalam perjalanan menempati sepasang warga Jepang. Warga negeri matahari terbit itu akan mengidentifikasi tumbuhan kantor semar (Nephentes sp) yang ada di gunung Pantai Cermin Kecamatan Surian, Kabupaten Solok Selatan. Jelas terlambat persiapan minim. Kami kurang koordinasi, tentang lama keberangkatan. Logistik disiapkan untuk kondisi terburuk. Ternyata semuanya telah disetting. Mobil,guide dan jam keberangkatan tepat waktu. Warga Jepang ingin kedisplinan itu. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Bersama diatas mobil penterjemah, sepasang warga Jepang, guide, Hanif Putra dan seorang porter dadakan, Abenk. Tepat pukul 09.00 WIB pagi kami menuju gunung Pantai Cermin. &#8220;Seperti apa gunung itu sekarang,&#8221;ucap Abenk yang mantan ketua ekspedisi AM Mapala Unand waktu itu. Kami mencapai kaki gunung empat jam kemudian. Dua orang porter yang dipersiapan untuk perizinan segera diambil dari rumah wali jorong.Tampak mereka, Yos Pakiah dan Riko Bancah masih terlelap indah diatas kasur panas. &#8220;Kami belum makan,&#8221; ucap Riko keheranan sambil memegang perut besarnya. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">&#8220;Segera! berangkat sekarang. Kemasi perlengkapan kita harus mendaki sekarang!,&#8221;teriak Hanif tegas. Sigap, cepat dan hati-hati mencirikan seorang pendaki sejati, kedua orang sahabat itu segera mengemasi perlengkapan tidurnya. Entah apa latar belakang yang dikatakan Yos Pakiah. Tapi ketidakpuasan pada pria sarjana Sastra itu ketika diperintah oleh koordinatornya. &#8220;Tapi tidak sekarang berangkatnya. Bagaimana dengan guide lain,&#8221;tanya porter berambut awut-awutan itu sambil merapikan ciri khasnya itu. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Singkat cerita kami telah sampai di kaki bukit Sitabu. Bukit gundul dengan kemiringan mencapai 30 derajat. Jam ditangan menunjukan pukul 12.00 WIB. Tepat ketika sang surya sedang menunjukan power terbesarnya. Mengejutkan memang!. Kali ini kami harus membawa semua barang warga Jepang itu. Sedangkan perlengkapan kami sendiri sudah melebihi kapasitas, minimalnya 20kg untuk carier dan beberapa kilogram untuk daypack. Gila!! </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Mau tidak mau, Riko yang telah pernah pergi dengan sepasang peneliti itu mulai unjuk bicara. &#8220;Sudah saya bilang, mereka tidak mau mengangkat barang sendiri. Makanya kita tanggung akibatnya,&#8221;ucapnya sambil mengurangi bebannya dengan menitipkan kepada mobil penterjemah. Hanif Ginanjar, sang Guide mulai memimpin rombongan. Warga Jepang itu sigap segera mengiring pemuda berkulit hitam didepannya. Jalan melinggkar licin dan murah runtuh. Hanif makin melejit, sedangkan abenk merambat pelan, Yos Pakiah tertinggal di belakang, Riko membayang-bayanginya. Perjuangan yang berat. Tak lama kemudian satu jam perjalanan di pinggang bukit Sitabu tampak Hanif Ginanjar kehabisan napas. &#8220;Gantian benk,&#8221; ucapnya tegas. Abenk patuh segera pimpin sepasang peneliti itu. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Memang bukan salah fisik yang lemah, karena latihan tidak pernah diulang maka di pintu rimba Abenk stagnan. Berhenti mendadak. Peneliti minta izin meneruskan perjalanan. &#8220;Be carefully Sense,&#8221;salam Abenk sambil senyum sumringah. Lama waktu berselang, hanif datang diikuti lama kemudian oleh Yos dan Riko, warga Jepang tidak kelihatan lagi. Rencana kembali dibahas. Makan pagi harus dilakukan, kami masak mie rebus dan teh. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Tetap mencoba berwibawa dan tegar,hanif segera mencari bantuan seorang penduduk pribumi, Heru. Setelah cocok mantan pegawai perusahaan Jepang itu menyusul sang majikannya. Usai makan kami tetap meringsek dengan beban yang semakin berat ditinggalkan Hanif. Hari telah sore kami harus ngecamp di dalam hutan. Masih seperti dulu,perjalanan ini tergolong berat dengan beban dan kemiringan jalur yang menyiksa. &#8220;Hari pertama ini akan menghancurkan fisik.Hari kedua akan menghancurkan mental.Hari ketiga kita akan menghancurkan semua mimpi buruk, kita akan enjoy di surga lumut ini.Hanya yang berani dan bermental tangguhlah yang akan mencapai puncak,&#8221;ucap Abenk berteori. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Problem lapangan muncul lagi.Hanif dan tuannya terlampau cepat melejit. Kami terpaksa istirahat tanpa mereka. Hutan telah gelap, penglihatan harus dibantu senter. Hanif juga tidak muncul.Diputuskanbersama Heru, Abenk harus menjemput mereka. Riko menghabiskan logistik yang ada sambil masak untuk perutnya. Setelah itu menyisakan makanan untuk orang yang tersisa nantinya. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Berbagai problem bisa diatasi malam itu oleh problem solver, Riko Bancah. &#8220;Bagaimana Sense. Asyik khan,&#8221;ucapnya sambil memainkan matanya. Kami terlelap dengan keputusan, Abenk, Heru, berangkat ke puncak mengambil sampel. Peneliti, Hanif akan duduk di camp sambil mencari kalau ada Nephentes di sekitar sana. Semangat empat lima untuk tiga orang pendaki tangguh itu dimulai. Peta dan kompas disiapkan. Logistik dipersiapkan Riko dan Hanif dalam sebuah daypack. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Perjalanan hari kedua mulai menghancurkan mental. Perjalanan guide punggungan dimulai. Kami harus memutar punggungan menuju puncak pantai cermin. Puncak kemenangan AM-MU anggkatan XIII-1999. Kami lelah, kaki lecet, tangan luka, mata kena abu, selangkangan terantuk kayu. Semuanya tidak menghalangi semangat pejuang yang ada dihati Abenk, pakiah dan Heru. Kami akan berikan yang terbaik untuk peneliti asing itu. </span></p>
<p align="justify"><span class="postbody">Merunduk, memanjat, memotong kayu, balik lagi mencari jalan alternatif kami hampir putus asa mengingat matahari hampir balik keperaduannya. &#8220;Itu pohon Alpen, vegetasi puncak,&#8221;ucap salah satu turunan dewa rimba gunung, Harios Pakiah . Kembali dengan semangat tersisa kami lanjutkan perjalanan menuju puncak. Berbagai photo dan sampel Nephentes dikumpulkan Abenk yang juga sarjana Biologi FMIPA Unand itu. </p>
<p>Tidak sia-sia memang. Puncak dan bekas titik triangulasi telah kami kumpulkan. Kekecawaan terlihat di wajah Yos Harius Pakiah. &#8220;Aden Mau melihat titik Triangulasi sampai sekarang belum juga ketemu,&#8221;ucapnya sambil melihat lubang besar bekas galian manusia menghancurkan titik triangulasi peninggalan Belanda. </p>
<p>Titik triangulasi dianggap penduduk menyimpan kandungan emas didalamnya.Mereka gali lubang untuk dapatkan harta warisan yang tidak pernah ada. Penghancuran terhadap tanda titik ketinggian tersebut dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab disana. Kami kecewa berat!. </p>
<p>Usai melaksanakan tugas, kami segera meluncur ke bawah dan disambut hangat oleh Hanif Ginanjar. Setelah mencapai kaki bukit Sitabu kami melihat puncak gunung yang didaki selama dua hari itu. Padahal ketika pembukaan jalur mencapai delapan hari turun naik. </p>
<p>&#8220;Perjalanan yang menyenangkan,&#8221;tutur Pakiah melihat gunung Pantai Cermin. &#8220;Kami telah capai cita-cita pembersihan jalur,&#8221;ujar Hanif dan Abenk kompak. Heru penduduk pribumi juga tersenyum. &#8220;Gaji saya pasti akan keluar,&#8221;seperti itulah terlihat dalam senyumnya.<em><strong> (Tandri Eka Putra)</strong></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/catatan-perjalanan/ekspedisi-ulang-dan-guiding-nephentes-survey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggang Jeram di Awal 2008</title>
		<link>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/menunggang-jeram-di-awal-2008/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/menunggang-jeram-di-awal-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 12:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/profil-mu/menunggang-jeram-di-awal-tahun-2008/</guid>
		<description><![CDATA[SELASA 1 Januari 2008, fajar awal tahun baru saja terbit. Derasnya aliran air Batang Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan seolah-olah ikut menyambut datangnya tahun ini. Sementara, sekelompok anak muda terlihat sedang sibuk menyiapkan beraneka perlengkapan untuk berarung jeram. Benar, hari libur awal tahun ini mereka isi dengan kegiatan yang jauh dari keramaian dan hura-hura, namun penuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img alt="Jeram" hspace="2" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2008/04/jeram-small.jpg" align="left" vspace="2" border="1" />SELASA 1 Januari 2008, fajar awal tahun baru saja terbit. Derasnya aliran air Batang Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan seolah-olah ikut menyambut datangnya tahun ini. Sementara, sekelompok anak muda terlihat sedang sibuk menyiapkan beraneka perlengkapan untuk berarung jeram. Benar, hari libur awal tahun ini mereka isi dengan kegiatan yang jauh dari keramaian dan hura-hura, namun penuh tantangan.</p>
<p align="justify">Kalau biasanya kawula muda mengisi acara tahun baru dengan kegiatan pesta dan perayaan serta kembang api, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Mapala Unand ini lebih memilih merayakan liburan tahun baru dengan menyalurkan hobi mereka di jeram-jeram ganas Batang Tarusan. </p>
<p><span id="more-203"></span></p>
<p align="justify">&#8220;Bukannya apa-apa, cuma kami tidak terbiasa mengadakan pesta-pesta yang bersifat hura-hura dan penuh keramaian. <EM>Nggak </EM>cocok <EM>aja </EM>mungkin,&#8221; jelas Adi Prawira (20) yang menjadi peserta dalam kegiatan ini.</p>
<p align="justify">Dengan menggunakan becak motor, perahu karet yang sudah dikempiskan dibawa menuju lokasi <em>start</em> yang terletak di Desa Taratak sekitar 20 menit perjalanan dari jalan lintas Padang-Painan. Dijelaskan Adi, dari lokasi ini sampai ke lokasi <em>finish</em> bisa ditempuh dengan perahu karet sekitar 2-2,5 jam. </p>
<p align="justify">&#8220;Kalau perjalanan lancar, dalam artian tidak ada <EM>trouble</EM> seperti perahu wrap (tersangkut-red) atau terbalik, 2 jam kita sudah masuk <EM>finish</EM>,&#8221; jelas Adhi.</p>
<p align="justify">Sepanjang perjalanan, pemandangan alami khas kawasan tepi sungai berupa sawah-sawah dan ladang penduduk serta hutan belantara yang masih perawan benar-benar menyejukkan jiwa. </p>
<p align="justify">Sebagaimana dijelaskan Heru Mega Saputra (22) yang sudah berulangkali berarung jeram di Batang Tarusan menyebutkan, &#8220;Selama pengarungan, kita akan mendengar suara beraneka jenis burung dan hewan yang tak putus-putus seolah-olah menyambut kedatangan rafter (pengarung jeram-red). Sesekali, terlihat juga monyet-monyet liar yang berloncatan di antara dahan-dahan kayu.&#8221;</p>
<p align="justify">Sementara untuk jeram yang ada, dikatakan Heru, Batang Tarusan memiliki jeram yang bervariatif dengan grade 3- 4+. </p>
<p align="justify">&#8220;Untuk berarung jeram di sini memang membutuhkan keahlian yang memadai serta penguasaan jalur. Kalaupun baru pertama kali, hendaknya didampingi kapten yang berpengalaman karena pada beberapa jeram, perahu bisa terbalik kalau masuknya tidak benar,&#8221; jelas Heru.</p>
<p align="justify">Selain itu, perlengkapan <em>safety procedure</em> seperti pelampung, <em>throw bag </em>(tali lempar), pelampung, helm dan <em>paddle </em>(dayung) wajib dimiliki agar pengarungan bisa berjalan aman. &#8220;Ini memang kegiatan berisiko, karenanya segala sesuatu yang terkait dengan standar keselamatan harus benar-benar diperhatikan,&#8221; terang Heru.</p>
<p align="justify">Matahari semakin terasa terik di sekitar Batang Tarusan. Sesekali hembusan angin tetap bisa memberikan kesejukan. Sementara, di atas sebuah perahu karet bermerek Avatar berwarna biru, 6 mahasiswa terlihat bersimbah peluh namun tetap bersemangat mengayuh melintasi jeram-jeram. Tahun baru datang, tantangan di depan tetap musti diterjang&#8230; <strong>(Medapri/MU 160 Cps.)<br /></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/menunggang-jeram-di-awal-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Pembukaan Jalur Wisata Gunung Malintang</title>
		<link>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/ekspedisi-pembukaan-jalur-wisata-gunung-malintang/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/ekspedisi-pembukaan-jalur-wisata-gunung-malintang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 14:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/profil-mu/ekspedisi-pembukaan-jalur-wisata-gunung-malintang-di-pasaman-barat-1/</guid>
		<description><![CDATA[SORE hari itu udara masih terasa panas. Beberapa personil Mapala Unand mulai bersiap siap melakukan latihan fisik hari pertama 5 Juli 2007. Mereka merupakan satuan tim yang akan diberangkatkan untuk memulai ekspedisi pembukaan jalur wisata Puncak Malintang (1983 mdpl.) dan Danau Tinggal di Pasaman Barat. Karena misi yang akan mereka lakukan sangat berat, maka persiapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img alt="Tim malintang" hspace="2" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2008/04/tim-20malintang.jpg" align="left" border="1" />SORE hari itu udara masih terasa panas. Beberapa personil Mapala Unand mulai bersiap siap melakukan latihan fisik hari pertama 5 Juli 2007. Mereka merupakan satuan tim yang akan diberangkatkan untuk memulai ekspedisi pembukaan jalur wisata Puncak Malintang (1983 mdpl.) dan Danau Tinggal di Pasaman Barat. </p>
<p align="justify">Karena misi yang akan mereka lakukan sangat berat, maka persiapan awal berupa latihan fisik dan mental dilaksanakan secara ketat. Bertindak sebagai pelatih fisik Heru Mega Saputra (22) dari Fakultas Peternakan dan Sartika (20) dari Fakultas Pertanian. </p>
<p align="justify">Untuk nama pertama merupakan pelatih kawakan yang punya banyak pengalaman di berbagai kegiatan lapangan, baik medan rimba Sumatra maupun Pulau Jawa. Prestasi terakhir yang menguatkannya sebagai pelatih fisik untuk tim ekspedisi Pasaman ini adalah penaklukan Puncak Jaya Wijaya bersama Tim SCTV di Propinsi Papua pada tahun 2006 lalu.</p>
<p><span id="more-198"></span></p>
<p align="justify">
<p align="justify">Urutan daftar menu latihan fisik dibuat secara bertahap. Semuanya harus berhasil diselesaikan setiap atlet yang akan berangkat. Pembukaan latihan dimulai dengan jogging dari 15 menit-100 menit di penghujung latihan. Setelah itu dilanjutkan dengan push up, sit up, squat race, shuttle run dan terakhir sprint. Semuanya dilaksanakan dengan frekwensi yang terus meningkat.</p>
<p align="justify">Tidak kurang dari 25 peserta mengikuti latihan hari pertama. Latihan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut cukup menyita perhatian para penghuni kampus. Rata rata mereka merupakan para aktivis yang selalu punya kegiatan tertentu pada sore harinya. Dengan pengorganisasian yang baik dan terlihat kompak, satu dugaan telah terlintas di kepala mereka bahwa sebentar lagi tim dari Mapala Unand akan melakukan sebuah gebrakan besar. </p>
<p align="justify">Sementara itu, satu persatu calon atlet terlihat bersemangat mengikuti seleksi ekspedisi tersebut. Karena menu latihan masih ringan semua peserta seleksi berhasil menjalaninya. Tepat pukul 06.00 WIB seleksi usai. Selanjutnya diadakan briefing untuk mengevaluasi sesi latihan yang telah dilakukan sebelumnya.</p>
<p align="justify">Beberapa hari berlalu, latihan tetap berlanjut. Sekarang sudah masuk pada pertengahan latihan dari jangka waktu sebulan yang dipersiapkan. Berbeda pada tahap awal pada pertengahan seleksi tersebut di antara calon atlet, mulai ada yang merasa pusing dan mual. Bahkan pada hari berikutnya, Adi (20) dari Fakultas Hukum sempat muntah-muntah. Menurut pengakuannya, kepala terasa pusing dan matanya berkunang-kunang.</p>
<p align="justify">Menyikapi hal tersebut para atlet mulai menerapkan pola makan teratur. Kesalahan kecil berupa makan terlambat atau istirahat yang tidak memadai sebelum melakukan latihan fisik, berakibat cukup fatal. Gejala pusing seperti yang dialami beberapa orang atlet, terjadi karena asupan gizi yang tidak seimbang. Sementara itu latihan yang terus berjalan senantiasa membutuhkan energi yang cukup besar. <br />Sebelumnya jauh hari sebelum latiahn fisik digelar para peserta seleksi ini juga pernah diperiksa kesehatannya oleh tim medis yang tergabung dalam organisasi Mapala Hipocrates Emergency Team (HET) Fakultas Kedokteran Unand. Dalam pemeriksaan tidak ditemui suatu keganjilan yang akan mempengaruhi perjalanan ekspedisi nantinya.</p>
<p align="justify">Beberapa hari menjelang latihan fisik usai, atlet yang akan diberangkatkan diharuskan melaksanakan simulasi di alam bebas. Beberapa poin penting seperti kemampuan navigasi darat, komunikasi menggunakan radio, pembuatan tanda jalur serta pembuatan tandu dan P3K disempurnakan selama simulasi berlangsung. Nantinya materi yang telah&nbsp; disimulasikan tersebut akan menjadi penentu berhasil atau gagalnya ekspedisi ini.</p>
<p align="justify">Rimba belantara yang masih tersisa di&nbsp; belakang Kampus Unand Limau Manih dipilih menjadi lokasi simulasi. Selain mengirit biaya,&nbsp; waktu yang dibutuhkan juga tidak terlalu lama. Hal ini menjadi kesepakatan tim sebelum simulasi dilaksanakan. Dimulai Jumat (26/7/2007) sampai Minggu (28/7/2007) simulasi dinilai sangat memuaskan. Kemampuan para atlet sudah memenuhi kelayakan karena beberapa kemampuan pokok dalam berkegiatan di alam bebas atau rimba belantara sudah mereka kuasai dengan baik. Penilaian dimusyawarahkan oleh para pengiring calon atlet dan pengurus organisasi Mapala Unand. Pengalaman yang mereka bukukan serta kegiatan ekspedisi yang berhasil mereka lakukan menjadi berartinya sebuah penilaian yang mereka keluarkan.</p>
<p align="justify">Rute yang dilewati selama seleksi memiliki medan bervariasi dan pemandangan yang elok permai. Maklumlah Kampus Unand yang dibangun di atas sebuah perbukitan dengan nama Bukit Karamuntiang diapit dua buah sungai besar yaitu Batang Kuranji dan Sungai Danau Limau Manih. Pada sebagian besar bantaran sungai diisi areal persawahan masyarakat. Namun suasana yang paling mengasyikkan adalah saat berada di puncak bukit. Dari ketinggian 234 mdpl tersebut, kita bisa dengan leluasa menikmati nun jauh di sana padatnya kota Padang serta lautan biru yang terbentang luas di depannya.</p>
<p align="justify"><strong>MEMACU ADRENALIN DI RIMBA BELANTARA</strong></p>
<p align="justify">Keberangkatan tim dilakukan siang hari (2/8/2007) melalui upacara pelepasan yang dipimpin pembina Mapala Unand Drs Irsyad Agus MP. Dari lokasi upacara di pelataran parkir bagian kiri gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand, tim dijemput bus carteran yang biasa menjalani trayek ke daerah Robajulu Kecamatan Ujuang Gadiang, Kabupaten Pasaman Barat.</p>
<p align="justify">Perjalanan memakan waktu selama 6 jam, sampai akhirnya tiba di Dusun Robajulu yang merupakan daerah terakhir yang bisa dilewati kendaraan bermotor. Tim ekspedisi menjadikan dusun ini sebagai Base Camp yang akan menjadi penghubung komunikasi antara atlet yang berada di lapangan dengan Posko induk Mapala Unand di Padang. Untuk kebutuhan tersebut disediakan satu set Handy Talky (HT) dan handphone kepada Pak Syukur yang dengan senang hati menyatakan kesediaannya membantu kelancaran pergerakan tim ekspedisi ini. Beliau adalah kepala Dusun Robajulu sekaligus pemuka masyarakat disegani penduduknya yang mayoritas diisi suku Mandahiliang dari Sumatera Utara.</p>
<p align="justify">Start ekspedisi dimulai Jumat (3/8/2007) pukul 14.00 WIB. Perjalanan hari pertama terasa sangat menyenangkan. Medan perbukitan yang dilewati masih kawasan pertanian masyarakat Robajulu. Kebanyakan petani di sini mengisi lahan pertaniannya dengan tumbuhan palawija seperti jagung, kacang hijau, kacang kedele dan padi. Sebagian petani juga membuka lahannya untuk perkebunan kelapa sawit. Tanaman yang menghasilkan bahan baku pembuatan minyak goreng tersebut memang sedang digiatkan di daerah Robajulu ini.</p>
<p align="justify">Camp atau tempat istirahat dibuat di persimpangan dua buah sungai. Sungai pertama bernama Sikabau yang persis berada di depan tempat peristirahatan dan yang kedua arah ke hilir bernama Sungai Lauik Mati. Di lokasi ini sudah tidak ada lagi perkebunan penduduk. Pohon-pohon yang ditemui adalah tanaman yang biasa tumbuh di hutan belantara.</p>
<p align="justify">Pada hari pertama menjelang tempat camp ini tiga anggota tim terpisah dengan rombongan. Tiga orang ini waktu itu bertindak sebagai leader, namun kurang memperhatikan tanda jalur yang mengarah ke kanan. Sehingga pada malam harinya dilakukan pencarian untuk memastikan kondisi tim yang terpisah ini.</p>
<p align="justify">Karena medan yang cukup terjal dan rapatnya pepohonan pencarian yang&nbsp; dilakukan menemui kegagalan. Tim pencari kembali ke tempat camp semula setelah larut malam. Esok harinya dilakukan pencarian ulang dengan menyisir kembali jalan setapak yang dilewati pada hari sebelumnya. Dua tim lainnya melakukan penyisiran arah ke hulu dan hilir sungai. Menjelang istirahat siang anggota tim yang terpisah ini berhasil ditemukan tim pertama yang menyisir jalan setapak. Suasana gembira segera menyelimuti seluruh rombongan. Malamnya kami melakukan briefing untuk mengevaluasi pergerakan yang telah dilakukan.</p>
<p align="justify">Perjalanan selanjutnya tim leader sebagai tim pertama yang diberangkatkan mulai mengeluarkan golok masing-masing. Semak belukar dan rotan berduri yang menghalangi perjalanan mulai dibersihkan. Di belakang tim leader menyusul tim sweaper yang berangkat satu jam kemudian. Tugas dari tim sweaper ini adalah membersihkan jalur sebagus mungkin serta pemberian tanda jalur berupa string tag dan string line yang dipasang pada pohon. Selanjutnya dibelakang tim sweaper menyusul tim logistik. Sesuai namanya tim ini membawa sebagian besar perlengkapan yang dibutuhkan tim selama perjalan ekspedisi ini. Setiap hari selama ekspedisi berlangsung tim-tim ini diisi oleh seluruh personil secara bergantian.</p>
<p align="justify">Hari demi hari perjalanan melewati rimba belantara diisi dengan semangat yang tinggi dari masing-masing peserta ekspedisi. Waktu itu peserta tim sadar bahwa ekspedisi ini jika berhasil akan menorehkan prestasi tersendiri bagi peserta yang terlibat di dalamnya. </p>
<p align="justify">Kami ketahui bersama bahwa daerah yang dituju waktu itu belum tersentuh oleh penggiat alam bebas manapun. Begitu pula halnya dengan masyarakat di sekitar Dusun Robajulu ini. Bahkan berdasarkan informasi yang diperoleh tim ekspedisi ketika berada di Dusun Robajulu diketahui bahwa Danau Tinggal sudah dianggap legenda karena tidak pernah lagi dikunjungi. Keberadaannya lebih banyak cerita turun temurun dari tetua setempat. Selain itu cerita mistik kerap kali menjadi alasan mengapa masyarakat di sana enggan untuk mengunjungi kawasan yang menjadi tujuan ekspedisi kami ini.</p>
<p align="justify">Di sepanjang perjalanan kami banyak menemukan rotan. Tanaman yang sering digunakan untuk membuat beraneka keranjang dan kursi ini tumbuh dengan sangat subur. Hal ini dibuktikan dengan jumlah rotan yang cukup banyak dan ukurannya yang mencapai puluhan meter. Saat melewati hutan rotan ini, tim harus hati-hati melangkah. Sebab sedikit saja lengah, duri-duri rotan ini bisa melukai kulit tubuh, kulit kepala bahkan mata. Seandainya bagian ini yang menjadi sasaran, jelas akan membawa dampak buruk terhadap perjalanan ekspedisi. <strong>(Heru Dahnur/MU 173 Srk.)</strong></p>
<p align="justify"><em>Catatan : Tulisan ini pernah dimuat di Harian POSMETRO PADANG tanggal 9 Desember 2007.</p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/kegiatan-mu/ekspedisi-pembukaan-jalur-wisata-gunung-malintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

