<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MAPALA UNAND &#187; Artikel MU</title>
	<atom:link href="http://mapalaunand.com/category/artikel-mu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mapalaunand.com</link>
	<description>OFFICIAL SITE - MAPALA UNAND</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Apr 2012 08:23:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>KOPASUS dan MAPALA UNAND (Ekspedisi Bukit Barisan di Gunung Singgalang)</title>
		<link>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kopasus-dan-mapala-unand-ekspedisi-bukit-barisan-di-gunung-singgalang/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kopasus-dan-mapala-unand-ekspedisi-bukit-barisan-di-gunung-singgalang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 12:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tommi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Dasar pemikiran TNI-AD dalam ekspedisi bukit barisan adalah menjadi pioneer dalam mempersatukan anak bangsa dan mewujudkan rasa cinta tanah air, bangsa dan Negara dengan mendata, meneliti dan menelusuri secara langsung di lapangan segala potensi, keanekaragaman serta kerawanan yang ada di dalam pulau Sumatra dengan menyelenggarakan masyarakat setempat beserta elemen yang terkait. Ekspedisi ini berlangsung selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" style="border: 2px solid black;" src="http://i56.tinypic.com/116l11j.jpg" alt="" width="337" height="252" />Dasar pemikiran TNI-AD dalam ekspedisi bukit barisan adalah menjadi pioneer dalam mempersatukan anak bangsa dan mewujudkan rasa cinta tanah air, bangsa dan Negara dengan mendata, meneliti dan menelusuri secara langsung di lapangan segala potensi, keanekaragaman serta kerawanan yang ada di dalam pulau Sumatra dengan menyelenggarakan masyarakat setempat beserta elemen yang terkait. Ekspedisi ini berlangsung selama 5 bulan, dari bulan Maret hingga Agustus nanti. Daerah ekspedisi meliputi gunung leuser di aceh, sinabung di Sumatra utara, singgalang di Sumatra Barat, gunung kerinci di Jambi, seubat dan dempo di Bengkulu, dan gunung tanggamus di Lampung.<span id="more-514"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Dalam ekspedisi ke gunung singgalang, kopasus melibatkan MAPALA UNAND dalam ekspedisinya kali ini. Sebelum ekspedisi, Kopasus, Wanadri dan MAPALA UNAND bertemu membicarakan deskripsi wilayah di sekitar gunung singgalang dan Bagaimana keadaan flora dan fauna terakhir kali saat MAPALA UNAND melakukan perjalanan ke gunung singgalang. Dalam ekspedisi ini personil MAPALA UNAND yang akan turun ke lapangan sebanyak 10 orang selama ekspedisi. Ekspedisi di gunung singgalang kali ini akan membuka 8 jalur menuju gunung singgalang, sekaligus mendata flora dan fauna yang terdapat di daerah tersebut.</p>
<h2 style="text-align: left;"><strong>Ekspedisi Kopassus di Gunung Singgalang</strong></h2>
<h3><em><strong>16 Tahun Hilang, Burung Itu Muncul lagi</strong></em></h3>
<p><img src="http://padangekspres.co.id/img/sot.gif" border="0" alt="" width="8" height="8" align="absmiddle" /> Padang Ekspres • Selasa, 05/04/2011</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 2px solid black; margin-top: 1px; margin-bottom: 1px;" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/314338_2233061499225_1028531641_32090050_1891687389_n.jpg" alt="" width="461" height="346" /></p>
<p style="text-align: justify;">Peluh Sersan Satu Wahyudi menyembur seperti mata air. Seragam loreng yang membungkus tubuhnya terlihat mulai lembab. Tapi, Wahyudi sama sekali tidak tertarik untuk mengganti seragam berlogo Komando Pasukan Khusus alias Kopassus tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih mengganti seragamnya, Wahyudi yang tercatat sebagai pemegang nomor register prajurit  21060241570386 21040135330983 ini, malah bertambah semangat memasang perangkap burung di Gunung Singgalang.</p>
<p style="text-align: justify;">Perangkap dipasang Wahyudi bersama Ali, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Andalas Padang, Rabu (23/3) lalu. Mereka memasang perangkap pada sejumlah pohon yang tumbuh di koordinat 4683-5707 Gunung Singgalang atau sekitar 2.140 meter dari permukaan laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum perangkap burung dipasang, Wahyudi yang mendaki gunung bersama 8 prajurit TNI plus mahasiswa Unand dan ITB, sempat mendengar suara aneh seperti siulan. Awalnya, suara yang didengar sembilan anggota Tim Ekspedisi Bukit Barisan  2011 dari Unit Flora-Fauna ini, sayup-sayup sampai di telinga. Tapi lambat laun, bunyinya malah semakin membahana.</p>
<p style="text-align: justify;">”Siiiiiitttt, Siiiiiit, Siiiiit, begitu suara yang kami dengar. Persis seperti orang sedang bersiul,” cerita Wahyudi kepada Kordinator Ekspedisi Bukit Barisan Wilayah Sumbar Mayor Inf Benny Rahadian Chaniago dan wartawan Padang Ekspres yang mengikuti ekspedisi, Sabtu (2/4) lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendengar suara seperti siulan tersebut, anggota Unit Flora-Fauna dari Unand dan ITB berbisik kepada Wahyudi. Mereka menyebut, suara yang didengar tadi adalah kicauan seekor burung endemik pulau Sumatera. Makanya, tanpa menunggu lama, Wahyudi langsung mengajak Ali memasang perangkap burung.</p>
<p style="text-align: justify;">Perangkap mereka pasang bukan untuk mencelakai burung. Bukan pula untuk menangkap atau menjual secara bebas. Tapi semata-mata memastikan spesies burung yang berkicau. Sayang, menangkap burung di alam bebas bukanlah pekerjaan gampang.</p>
<p style="text-align: justify;">Empat hari Wahyudi bersama anggota tim ekspedisi memasang perangkap, tak seekor pun burung berhasil ditangkap. Alhasil, Minggu (27/3) lalu, sekitar pukul 08.00 WIB, mereka memutuskan bertolak menuju puncak Gunung Singgalang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditemani hangatnya cahaya mentari, perjalanan tim ekspedisi terasa menentramkan hati. Apalagi dari ketinggian, mereka bisa menyaksikan Kota Bukittinggi. Meski hanya dua pertiga wilayah yang terlihat secara jelas, karena sisanya tertutup kabut, tapi batin mereka puas. Kepuasan itu semakin bertambah manakala di puncak Gunung Singgalang, tim ekspedisi menemukan Telaga Dewi. Telaga yang selalu mengimbau-imbau pendaki kembali lagi. Konon ceritanya telaga ini tidak pernah dimasuki selembar pun daun-daun kayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dasar Telaga Dewi itu tim ekspedisi melihat sepasang ikan emas tengah bermesraan. Ekor ikan-ikan itu seperti menyuguhkan tarian selamat datang di puncak Singgalang. Sayang, tim tidak bisa berlama-lama menyaksikan indahnya mahakarya Tuhan. Sebab dari kejauhan, kicauan burung seperti siulan manusia kembali terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Agar kicauan merdu itu tidak hilang lagi, tim memilih turun gunung melihat perangkap yang sudah empat hari dipasang. Ternyata, seekor burung berbulu hitam dan biru mengkilap sudah masuk perangkap. Burung berukuran sekitar 25-28 centimeter itu terlihat gelisah sekali. Tiap sebentar mulutnya yang runcing mengeluarkan bunyi: Siiiiiitttt, Siiiiiit, Siiiiit.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat burung yang diintai sudah ketangkap, Unit Flora-Fauna senang tak terkira. Mereka berniat membawa langsung burung itu menuju posko Tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 di kawasan Balingka, Kabupaten Agam. Tapi, karena senja sudah datang ditambah kondisi cuara buruk, mereka memilih bertahan satu malam lagi di Gunung Singgalang.</p>
<p style="text-align: justify;">Esok harinya atau Senin (28/3), tim Unit Flora-Fauna sampai juga di Posko Ekspedisi Bukit Barisan. Berbekal buku referensi tentang fauna mereka, akhinya meyakini burung yang tertangkap itu bernama Ciung-Mungkal Sumatera alias Cochoa Beccani Salvadori 1879.</p>
<p style="text-align: justify;">Prediksi ini dikuatkan analisa sementara Dr Wilson, pakar fauna dari Fakultas MIPA Unand. Menurut Wilson yang merangkap sebagai Ketua Tim Ahli Fauna Ekspedisi Sumbar, burung Ciung-Mungkal Sumatera adalah burung tergolong sangat langka. Burung tersebut mempunyai bentuk unik dan dapat mengeluarkan siulan-siulan khas.</p>
<p style="text-align: justify;">”Terakhir kali, suara burung Ciung-Mungkal Sumatera didengar tahun 1995 oleh seorang peneliti Jerman bernama Simpson. Itu pun hanya berupa siulan burung dan penglihatan sekilas ketika burung terbang di Gunung Kerinci. Sedangkan fisik secara dekat, Simpson tak pernah melihatnya,” begitu analisa Wilson.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih menurut Wilson, sejak tahun 1995 sampai awal tahun 2011 para peneliti maupun masyarakat tidak pernah mendengar lagi kicauan Ciung-Mungkal Sumatera. Apalagi sampai melihat burung itu terbang di atas angkasa. Makanya, Wilson meyakini penemuan burung yang menghilang selama hampir 16 tahun tersebut merupakan sebuah sejarah baru.</p>
<p style="text-align: justify;">”Kita memperkirakan, burung Ciung-Mungkal Sumatera tergolong sangat langka, tertangkap ketika sedang melewati proses hijrah dari satu pulau ke pulau lainnya. Kendati demikian, ini akan terus kita teliti,” ungkap Wilson.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Bukan cuma Burung</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Selain menemukan burung Ciung-Mungka Sumatera, Tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 yang terdiri dari personel Kopassus, Raider, Taipur, Wanadri, akademisi, TV One dan Jawa Pos (grup Padang Ekspres) juga menemukan sejumlah flora dan fauna unik di Gunung Singgalang. Di antara yang ditemukan itu adalah Begonia Hirtellia (tumbuhan herba berukuran kecil yang daunnya dapat dimakan), Begonia Multangula (tumbuhan herba memiliki batang bertubuh halus), Bulbophyillium SP (sejenis anggrek tropis yang langka).</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak itu saja, menurut Mayor Inf Benny Rahadian Chaniago yang memimpin ekspedisi di Gunung Singgalang, pihaknya juga menemukan flora-fauna unik lainnya. ”Mulai dari Macodes Jamaica, Macodes Petola, Melastoma Velutinosum, Melhotoria Marginata, Nepenthes Singalana, Nephelium Tenuifolium, Paphiopedilum, Spathoglottis, Urophyllum, sampai Abroscopus Superciliaris atau sejenis burung berbulu kekuningan,” ujar Benny, putra Pariaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait air terjun yang ditemukan di Gunung Singgalang, tim ekspedisi sempat menjajal kederasan air, dengan cara turun dari puncaknya menggunakan seutas tali. Aksi ini benar-benar menciutkan nyali. Tapi anggota Kopasus, Raider, dan Taipur Kostrad sama sekali tidak takut. Mereka benar-benar layak disebut sebagai pasukan elite TNI Angkatan Darat!</p>
<p style="text-align: justify;">Edi, anggota Kopassus yang ditemui Padang Ekspres, Minggu (3/4) siang, mengaku sempat terkejut, karena berpapasan dengan beruang berekor panjang. ”Seumur-umur baru kali itu saya lihat ada beruang punya ekor panjang. Sayang, hewan itu tidak boleh ditangkap. Kami hanya bisa mengabadikan dengan kamera. Itu pun tidak jelas hasilnya, karena resolusi kamera kurang bagus. Walaupun demikian, setelah melihat beruang tersebut, saya semakin takjub dengan keistimewaan Gunung Singgalang. Banyak flora dan fauna unik di sini,” ujar Edi, didampingi Unit Humas Tim Ekspedisi, Supriyadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya saja, rasa takjub yang disimpan Tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 di Gunung Singgalang bercampur pula dengan selaksa kerisauan. Ya, tim memang sangat risau melihat kondisi hutan lindung dan hutan suaka di Gunung Singgalang. Kedua hutan itu, semakin gundul akibat penebangan liar. Beberapa kawasan juga terkelupas dan siap mendatangkan bencana alam. ”Pokoknya, benar-benar memprihatinkanlah,” kata Supriyadi, anggota Kopassus kelahiran Medan, Sumatera Utara.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 2px solid black; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://i53.tinypic.com/wincb5.jpg" alt="" width="461" height="346" /></p>
<p style="text-align: justify;">Walau begitu, tim ekspedisi yang baru satu bulan menginjakkan kaki di Gunung Singgalang tidak patah semangat. Sampai batas akhir ekspedisi Agustus 2011 mendatang, mereka bertekad menjelajahi jengkal demi jengkal gunung yang bertetangga dengan Merapi dan Tandikek tersebut. Sekaligus, menggugah kesadaran masyarakat sekitar gunung, agar sama-sama menjaga ekosistem dan keseimbangan alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kopasus-dan-mapala-unand-ekspedisi-bukit-barisan-di-gunung-singgalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Singgalang, Gunung Eksotis Pemberi Kedamaian</title>
		<link>http://mapalaunand.com/artikel-mu/gunung-singgalang-gunung-eksotis-pemberi-kedamaian/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/artikel-mu/gunung-singgalang-gunung-eksotis-pemberi-kedamaian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 17:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harry Kurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Inilah duniaku… Menyepi dari hiruk pikuk kota, meninggalkan kebisingan serta polusi yang kuhirup tiap tiap aku bernafas. Ketenangan hadir ketika menikmati secangkir kopi ditemani sepotong sandwich dalam balutan jaket merah kesayanganku. Begitu nyaman bangun dari lelap sisa kelelahan perjalanan kemaren sore. Pemandangan pagi menampilkan keangkuhan Gunung Merapi begitu  kokoh terlihat dari jelas pintu tenda… Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah duniaku… Menyepi dari hiruk pikuk kota, meninggalkan kebisingan serta polusi yang kuhirup tiap tiap aku bernafas. Ketenangan hadir ketika menikmati secangkir kopi ditemani sepotong sandwich dalam balutan jaket merah kesayanganku. Begitu nyaman bangun dari lelap sisa kelelahan perjalanan kemaren sore. Pemandangan pagi menampilkan keangkuhan Gunung Merapi begitu  kokoh terlihat dari jelas pintu tenda… Ya, aku mencintai suasana ini. Begitu sejuk, begitu indah dan begitu menenangkan.</p>
<p>Hari ini (22/1/11), dengan canda tawa tim pendakian. Aku menapakkan kaki, menginjak dan berusaha menggapai atap penyangga langit Minangkabau. yaitu salah satu puncak dari rangkaian Tri Arga (Gunung Merapi – Gunung Singgalang – Gunung Tandikek) yaitu Gunung Singgalang. Alternative pelepas penat dan kejenuhan setelah disibukkan oleh rutinitas perkuliahan dan kegiatan organisasi yang melelahkan.<a href="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_0448.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-493" title="camp di pintu rimba" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_0448-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><span id="more-492"></span></p>
<p>Perjalanan kali ini begitu santai dan hanya mengisi libur akhir semester. waktu yang biasa digunakan orang untuk naik dan turun gunung ini selama tiga hari kami tempuh dengan lima hari perjalanan . Beranggotakan empat orang yang terdiri dari Iis Suryani (Penulis/ anggota Mapala Unand), Yudha Pratama (Anggota Muda Mapala Unand), Rizky (Mahasiswa UNP) dan Sayed Ma’ruf dari Gainpala IAIN Ar-Raniry Aceh.</p>
<p>Puas menikmati pesona pagi dan perut telah terisi penuh. kegiatan selanjutnya diisi dengan belajar aplikasi peta dan kompas dan menerapkan ilmu yang pernah didapat mengenai navigasi darat. Selesai <em>packing</em> semua perlengkapan, perjalanan kami mulai pada pukul 12.00 WIB. Semangat berkobar, sebuah <em>carrier</em> bertengger manis di pundak. Ini menandakan pertarungan dimulai. Bagiku yang sudah lama tidak olahraga, awal perjalanan ini begitu melelahkan. Selain pertarungan melawan teriknya mentari, pertarungan melawan nafas yang ngos-ngosan tentunya menjadi kendala yang patut diperhitungkan mengingat terjalnya jalur yang akan dilewati nanti.</p>
<p>Meninggalkan lokasi <em>camp</em> pertama di kawasan Kompleks Tower TV di Desa Pandai Sikek, perjalanan langsung dihadapkan pada tanjakan dengan hutan Pimpiang (sejenis bambu-bambu kecil). Tiada kompromi, daun-daun pimpiang seakan tersenyum menyambut siapa saja yang datang menjamahnya. Lambaian daun-daunnya yang panjang berusaha menyentuh tiap inchi kulit lembutku.</p>
<p>Petualangan sesungguhnya dimulai, menembus hutan pimpiang yang membentuk terowongan adalah hal yang menarik namun membutuhkan ketangguhan dan ketahan fisik. Terowongan yang terbentuk alami dari pertemuan-pertemuan ujung batang tumbuhan pimpiang ini sering disebut oleh para pendaki dengan nama lobang tikus. Melewati jalur ini mengharuskan kita untuk merunduk sambil menahan beban <em>carrier</em> yang pindah ke pinggang. Kebayang tidak, betapa pegalnya otot-otot pinggang apalagi ketika melewati terowongan yang agak panjang. Tak hanya itu, merambati terowongan juga mengharuskan kita tuk berhati-hati, karenak banyaknya kabel-kabel yang menjuntai ke tanah kadangkala ada yang terkelupas yang tanpa kita sadari bisa menyentrum. Kabel-kabel tersebut jatuh dari tiang-tiang listrik yang akan memandu perjalanan hingga ke puncak. Terdapat 28 tiang listrik yang mengantarkan arus untuk menjalankan fungsi pemancar televisi dan radio yang terdapat di puncak ketinggian Gunung Singgalang. Perpaduan antara tiang-tiang listrik dan rimbunnya pepohonan memberikan daya tarik tersendiri yang tidak akan kita temui di gunung manapun. Apalagi ketika kabut tipis menyelimuti, menambah apik pesona hutan gunung singgalang. Menarik bukan???</p>
<p>Singgalang, gunung eksotis pemberi kedamaian…. Itulah julukan yang kuberikan pada gunung yang memiliki ketinggian 2881 mdpl ini. Menapaki terjalnya lintasan menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Tiap hembusan napas berpacu dengan cucuran keringat yang membasahi seluruh tubuhku. Langkah demi langkah sangat berarti, hingga satu setengah jam perjalanan perut sudah mulai memberontak minta diisi. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil mempersiapkan menu makan siang.</p>
<p>Menikmati setiap nyanyian alam membawa kedamaian bagi siapa saja yang mengalaminya. Kicauan burung diiringi oleh gemericik suara air ditengah heningnya pepohonan merupakan harmonisasi alam yang tak ada duanya. Takkan pernah kusia-siakan, tiap detik tiap hembusan nafas mensyukuri agungnya sang pencipta.</p>
<p>Tidak harus berlama-lama, karena tanpa aktivitas tubuh kita akan di gelayuti oleh dinginnya hawa gunung yang menusuk hingga ke tulang. Perjalanan dilanjutkan diiringi suara nyanyian hati yang begitu gembira. Hutanku, alamku….. Gunung yang damai dan kaya akan potensi alam yang harus dilestarikan.</p>
<p>Gunung Singgalang mempunyai kawasan hutan dipterokarp bukit (ketinggian 300 sampai 750 mdpl), hutan dipterokarp atas (ketinggian 750 sampai 1.200 mdpl), hutan Montane (ketinggian 1.200-1.500 meter dpl) dan hutan Ericaceous atau hutan gunung. kawasan hutan tersebut ditumbuhi oleh spesies pohon Seraya, pohon Kemuning, Meranti, pohon Damar Minyak, pohon Mempening, Berangan, pohon  Podo, pohon Kelat, pohon Periuk Kera, Edelweiss, berbagai-bagai jenis belukar, buluh, ransam, paku-pakis, lumut serta jenis tumbuhan ketinggian lainnya.</p>
<p>Waktu semakin beranjak sore, kabut semakin tebal mengiringi perjalanan kami. Tetes-tetes gerimis membuatku semakin ingin untuk segera berteduh dalam sebuah tempat istirahat yang nyaman. langsung terbersit dibenakku, betapa nikmatnya secangkir teh hangat dengan sepotong roti disore hari ini. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman dan dekat dengan sumber air, tim memutuskan untuk segera beristirahat dan mendirikan tenda serta mempersiapkan santap sore. waktu baru menunjukkan pukul empat sore ketika kami mendirikan tenda pada bekas <em>camp</em> pendaki sebelumnya yaitu <em>shelter</em> dua pendakian Gunung Singgalang.</p>
<p>Tetes gerimis menghilang ditelan matahari sore yang memancarkan sinar keemasan. Malu-malu dibalik rimbunnya pepohonan hutan tropis Gunung Singgalang. Senja menjelang hingga malampun tiba. Waktu yang paling ditunggu untuk menikmati nyanyian alam dalam kepekatan heningnya malam. Suara jangkrik dan binatang malam saling bersahutan menghasilkan melodi yang begitu indah mengringi istirahat malam ini.</p>
<p>Sinar keperakan mentari menyambut senyum sumringahku pagi ini. Enggan rasanya untuk keluar dari tenda nan hangat. Namun pergerakan harus dimulai, mengingat tujuan kami yang masih jauh. Yudha dan Ryzky sengaja membasahi tubuhnya dengan guyuran air sungai yang mengalir bebas. Katanya itu bisa mengusir dingin yang menggelayuti tubuh mereka. Tapi, aku nggak mau ikut-ikutan, aku lebih memilih berolahraga ringan untuk menghangati tubuh yang menggigil.</p>
<p>Secangkir teh hangat dengan satu porsi sandwich ala pecinta alam memberi tenaga untuk memulai hari ini. Perjalanan dilanjutkan menapaki terjalnya jalur pendakkian yang harus. Kegembiraan bertambah seiiring bertambahnya ketinggian. Tiap momen manis disela istirahat minum untuk membasahi kerongkongan yang kering kami abadikan dalam kamera. Tanpa disadari dua jam perjalanan telah terlewati, hingga menemukan daerah terbuka yang tak dilindungi oleh lebatnya pohon-pohon besar yang mendominasi hutan Gunung Singgalang. Inilas cadas atau batas vegetasi yang menunjukkan sudah dekat dari tujuan perjalanan hari ini yaitu Telaga Dewi (sebuah danau kecil yang menjadi ikon Gunung Singgalang).</p>
<p>Berhenti sejenak mengumpulkan tenaga, menambah energi dengan beberapa <a href="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_01651.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-494" title="perjalanan di cadas" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_01651-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>potong roti sambil mengambil dokumentasi sepuasnya. Cadas, menawarkan pesona yang unik. Perjalanan dilanjutkan, batu rapuh cadas mengharuskan untuk berhati-hati menapaki pendakian. Masih mengikuti tiang-tiang listrik hingga akhirnya aku bisa bernapas lega karena sudah mencapai puncak cadas dan jalur mulai berbelok kearah kanan. Disini beristirahat sejenak sambil menghubungi teman yang ada di Padang untuk mengabarkan bahwa keadaan tim baik-baik saja.</p>
<p>Jalan melandai, naik sedikit dengan belok kiri hingga menemukan hutan lumut yang lebat. Pesona hutan basah Gunung Singgalang. Aku menyukai ini, berjalan diatara akar-akar pohon ditumbuhi lumut yang tebal merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Terus bernyanyi mengagumi tiap anugerah yang tercipta, nyanyian terimakasih terhadap sang pencipta mengiringi langkahku ke pinggir Telaga Dewi. Disinilah titik akhir perjalanan hari ini.</p>
<p><a href="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_0300.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-495" title="camp di pinggir telaga dewi" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_0300-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Lagi-lagi mengabadikan momen berharga, cuaca cerah menyambut kedatanganku sehingga kami bisa mengabadikan damainya genangan air telaga dalam potret kamera. Tanpa disadari hujan turun yang membuat kami segera mendirikan tempat berteduh. Inilah Gunung Singgalang, gunung yang slalu tertutupi kabut dan perubahan cuaca yang sulit ditebak. Apakah pengaruh global warming??? Entahlah….</p>
<p>Apa yang terbayang ketika kita <em>camping</em>?? Menikmati bintang dalam cahaya remang sang rembulan merupakan impian tiap orang. Aku beruntung, malam ini cuaca  cerah. Bintang bertaburan di langit, dikiaskan dalam genangan air telaga menambah apiknya pesona malam di gunung Singgalang.</p>
<p><a href="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_03851.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-496" title="perjalanan di hutan lumut" src="http://mapalaunand.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC_03851-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Pagi mengintip dibalik dedaunan, angin bertiup menambah merdunya suara alam. Kami keluar dari tenda menyorakkan terima kasih untuk anugrah ini. menatap damainya riak telaga yang dipermainkan angin serta becengkrama dengan dengan pagi sambil mengisi perut dengan sarapan pagi. Matahari sudah mulai tinggi. Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi Telaga Dewi. Disudut inilah Hutan basah Gunung Singgalang yang sesungguhnya, kami bermain di istana lumut yang indah. Lama berjalan, berhati-hati menapaki lumut yang tebal. Tepat diseberang <em>camp</em>, mataku nanar, miris melihat kenyataan yang ada bahwa terdapat hutan yang terbakar, batang-batang pohon yang mungkin sudah berumur ratusan tahun menghitam. Mungkin ini ulah manusia yang lupa mematikan bara api unggun yang masih ada. Sangat disayangkan, hutan yang indah seharusnya dilestarikan harus rusak oleh tangan-tangan yang tak bertanggungjawab.</p>
<p>Menambah sempurnanya perjalanan, tujuan yang tidak boleh ketinggalan adalah ketitik tertinggi Gunung Singgalang. Yaitu titik triangulasi yang dihiasi oleh tower-tower pemancar yang menjulang tinggi. Menikmati pemandangan sejenak. Lalu tim memutuskan untuk segera kembali ketempat <em>camp</em> untuk segera bersiap-siap turun karena waktu yang kami punya terbatas.</p>
<p>Setelah mempacking semua perlengkapan, membersihkan <em>area</em> <em>camp</em> dan tidak lupa membawa turun semua sampah yang dihasilkan. Mulailah melanjutkan perjalanan. Sayed dan Yudha begitu bersemangat, perjalanan turun bagi mereka merupakan tantangan yang sangat mudah hanya butuh waktu 1 jam 30 menit bagi mereka tuk sampai ketitik awal pendakian. Namun, tak begitu denganku. Aku butuh waktu 2 jam lebih. Kurang enak badan itulah alasan yang mungkin bisa aku argumenkan. Kepalaku terasa berat, langkah begitu tertatih hanya semangat yang masih bisa aku banggakan. Ryzky menemaniku hingga aku bisa menyudahi perjalanan hari ini. Hujan mengguyur, kembali tim meutuskan untuk mendirikan <em>camp</em> dan pulang  ke Padang keesokan harinya….</p>
<p>Titik star Gunung singgalang yang kami lalui kali ini terletak diantara kota Padang Panjang dan Bukittinggi, yaitu jalur Koto Baru. Untuk mencapai lokasi ini dari kota Padang kita turun di Pasar Koto Baru dengan ongkos Rp. 16.000,- kemudian dilanjutkan melewati desa Pandai Sikek. Kalau lagi hari pasar, untuk mencapai titik star pendakian kita bisa naik angkot  dengan ongkos Rp. 5.000,-. Selain itu, juga tersedia ojek motor dengan ongkos Rp. 10.000,-. Angkot dan ojek hanya mengantarkan kita hingga Ujung jalan yang beraspal. Kemudian perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki melewati kebu tebun dan ladang sayur penduduk hingga mencapai  pintu rimba sebelum memasuki hutan Gunung Singgalang.</p>
<p>Selain jalur Koto Baru alternative jalur pendakian yang sering digunakan pendaki Gunung Singgalang adalah jalur  Balingka. Perjalanan dimulai dari Padang turun di Padang Lua (Bukittinggi) dengan ongkos Rp. 16.000,-, kemudian menuju desa Batu Tagak dengan ongkos kira-kira Rp.3.000,- sampai Rp. 5.000,- menggunakan angkutan pedesaan Batu Tagak-Panambatan.  Dan satu lagi jalurnya adalah jalur Toboh, perjalanan dari kota Padang, turun di Padang Lua dan perjalanan dilanjutkan menuju desa Toboh dengan angkutan pedesaan ongkos kira-kira Rp3 ribu-Rp5 ribu.</p>
<p>Memasuki kawasan Gunung Singgalang jalur Koto Baru yang merupakan jalur wisata dipungut biaya Rp. 5.000,- karena sudah dikelola oleh pemuda setempat yang tergabung dalam Kelompok Pecinta Alam. Sedangakan dua jalur lainnya tidak dipungut biaya apapun.</p>
<p>Kita sebagai penikmat alam, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikannya guna menjaga titipan anak cucu kita untuk masa yang akan datang…? (*is)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/artikel-mu/gunung-singgalang-gunung-eksotis-pemberi-kedamaian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepulauan Mentawai: Selancar Kelas Dunia</title>
		<link>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kepulauan-mentawai-selancar-kelas-dunia/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kepulauan-mentawai-selancar-kelas-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 12:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Mentawai merupakan sebuah kabupaten baru di Propinsi Sumatera Barat. Kabupaten Mentawai berdiri pada tahun 1999 dan berada pada jarak sekitar 135 km dari lepas pantai barat Pulau Sumatera, yang bisa ditempuh 6 &#8211; 10 jam perjalanan laut dari kota Padang. Kabupaten seluas 601 km² ini didiami oleh 64.235 jiwa yang sebagian besar adalah masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kepulauan Mentawai merupakan sebuah kabupaten baru di Propinsi Sumatera Barat. Kabupaten Mentawai berdiri pada tahun 1999 dan berada pada jarak sekitar 135 km dari lepas pantai barat Pulau Sumatera, yang bisa ditempuh 6 &#8211; 10 jam perjalanan laut dari kota Padang. Kabupaten seluas 601 km² ini didiami oleh 64.235 jiwa yang sebagian besar adalah masyarakat asli. Kepulauan Mentawai terdiri dari 213 pulau dengan 4 pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Beribukota di Tua Pejat, Kabupaten Mentawai terbagi menjadi 4 kecamatan dan 40 desa.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 4px solid #000000;" src="http://search.tvnz.co.nz/photogallery/images/gallery/entertainment/ticket_mentawai6_p2.jpg" alt="" width="350" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;">Hingga saat ini, sebagian besar wilayah daratan Kepulaun Mentawai masih berupa hutan. Karena telah melalui sejarah geologis yang panjang, Mentawai memiliki beberapa spesies endemik yang dilindungi. Tercatat ada duapuluh spesies endemik yang hidup di kepulauan ini. Empat diantaranya adalah primata, yaitu Simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), Bilou atau siamang kerdil (Hylobates klossii), Joja atau lutung Mentawai (Presbytis potenziani), Bokkoi atau beruk Mentawai (Macaca siberut).</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Untuk melindungi keberadaan berbagai spesies endemik tersebut, setengah bagian wilayah Mentawai telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Siberut. Keberadaan Taman Nasional dan hutan hujan yang asri di kepulauan ini secara langsung mendukung berbagai kehidupan di pantai dan laut, termasuk sektor pariwisata. Selama ini, banyak turis yang datang untuk menikmati berbagai atraksi di wilayah pantai yang juga sangat terkesan akan keaslian dan keasrian hutan Mentawai.<span id="more-431"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kepulauan Mentawai memiliki garis pantai sepanjang 758 km. Potensi utama Kepulauan Mentawai adalah ombaknya yang bergulung-gulung dan sangat sesuai untuk dijadikan tempat selancar air (Surfing). Potensi Kepulauan Mentawai ini mulai terungkap ketika pada pertengahan 90-an, beberapa peselancar asal Australia berkunjung dan melihat ombak yang belum pernah mereka sangka ada di Mentawai. Para peselancar tersebut akhirnya menyebarluaskan penemuan dan beberapa dari mereka bahkan mendirikan beberapa resort pantai untuk melayani wisatawan manca yang ingin berselancar di Mentawai. Menurut pengakuan dari para surfer yang pernah merasakan ”cantiknya” ombak Mentawai, Mentawai disebut-sebut sebagai tempat berselancar terbaik  ketiga didunia setelah Kepulauan Hawaii dan Tahiti.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu antara April-Agustus yang bertepatan dengan libur musim panas di Eropa adalah waktu yang paling baik untuk berselancar. Pada musim tersebut, ombak Mentawai bisa mencapai tinggi enam meter dan hal ini merupakan yang paling dicari oleh para peselancar air. Kepulauan Mentawai tercatat memiliki 400 titik selancar yang sering dijadikan lokasi berselancar oleh para surfer. Dari 400 titik selancar, 23 titik diantaranya memiliki ombak berskala internasional. Daerah tersebut tersebar antara lain di daerah Nyang-Nyang, Karang Bajat, Karoniki, Pananggelat dan Mainuk (Pulau Siberut), Katiet Basua (Pulau Sipora) dan Pagai Utara (Pulau Sikakap).</p>
<p>Pengakuan yang diberikan oleh dunia internasional pada ombak mentawai bisa dilihat dari even selancar yang diadakan di kepulauan ini. Tiap tahun, Mentawai ditunjuk sebagai penyelenggara World Champions Surfing Series atau Seri Kejuaraan Dunia Selancar Air yang dijadwalkan tiap bulan Agustus. Dengan adanya kejuaraan ini, Mentawai bisa menjaring 3000 wisatawan asing pada 2007. Sebanyak 60% dari wisatawan yangdatang berasal dari Australia, 39% dari Amerika Serikat, dan sisanya dari Eropa, dan Asia. Tiap wisatawan rata-rata menghabiskan US$ 2.500 selama berselancar di Mentawai.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 4px solid #000000;" src="http://4.bp.blogspot.com/__RDlGcrB5tQ/TBhd9iYBA4I/AAAAAAAAAJI/qmWlTi3O0kE/s1600/mentawai.jpg" alt="" width="340" height="226" /></p>
<p>Untuk menjamin kenyamanan dan keamanan para peselancar, pengelola dan pemerintah daerah mengadakan beberapa fasilitas penunjang. Fasilitas penunjang yang paling signifikan adalah ditetapkannya 60 spot ombak eksklusif yang tersebar di berbagai sudut pulau. Spot ombak eksklusif adalah tempat selancar yang dibatasi pemakainya maksimal 10 orang. Hal ini untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi ketika peselancar bertabrakan sewaktu beraksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, Mentawai dapat diakses melalui dua jalur yaitu jalur laut dan udara., Mentawai dapat dicapai dengan kapal cepat selama 4 jam atau feri antarpulau selama 10 jam. Selain itu tersedia 46 kapal pesiar mini yang bisa disewa selama berada di Mentawai. Setelah sempat ditutup pada Maret 1999, penerbangan rute Padang-Mentawai kembali dibuka pad 2007. Penerbangan Bandara Minangkabau-Bandara Rokot yang menempuh waktu 35 menit ini dilayani tiap Selasa dan Kamis oleh Sabang Merauke Air Charter</p>
<p style="text-align: justify;">Mentawai adalah surga bagi mereka yang menyebut dirinya s<em>urfer</em> sejati. Setiap saat Mentawai akan selalu setia menunggu kedatangan mereka dan akan selalu memberikan yang terbaik bagi setiap mereka yang datang. Anda Tertarik&#8230;.??? <strong><em>(Yudhi Halim/ MU 170 Wsl.)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/artikel-mu/kepulauan-mentawai-selancar-kelas-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Cingkuak Nan Menawan Hati</title>
		<link>http://mapalaunand.com/artikel-mu/pulau-cingkuak-nan-menawan-hati/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/artikel-mu/pulau-cingkuak-nan-menawan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 08:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin semua pembaca pernah mendengar tentang Pulau Cingkuak, (khususnya warga sumatra barat). Pulau ini terkenal dengan keindahan pemandangannya, pasirnya yang putih (nggak kalah dengan pulau bali kok), biota bawah lautnya yang masih asri, serta terumbu karangnya masih terawat dengan alami. Ada pula beberapa nyiur yang melambai yang menambah keindahan Pulau Cingkuak. Serta, cagar budayanya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 270px"><img style="border: 2px solid black;" src="http://i577.photobucket.com/albums/ss212/Cowok_jantan/Snorkeling2.jpg" alt="" width="260" height="199" /><p class="wp-caption-text">Mengamati keindahan bawah air...</p></div>
<p style="text-align: justify;">Mungkin semua pembaca pernah mendengar tentang Pulau Cingkuak, (khususnya warga sumatra barat). Pulau ini terkenal dengan keindahan pemandangannya, pasirnya yang putih (nggak kalah dengan pulau bali kok), biota bawah lautnya yang masih asri, serta terumbu karangnya masih terawat dengan alami. Ada pula beberapa nyiur yang melambai yang menambah keindahan Pulau Cingkuak. Serta, cagar budayanya yang melambangkan keganasan penjajah Portugis pada negara kita Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Geografis Pulau Cingkuak</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara geografis, Pulau Cingkuak terletak pada Kanagarian IV Jurai, Kota Painan. Painan merupakan sebuah kota kecil di Sumatera Barat.  Yang rata-rata penduduknya bermatapencarian sebagai nelayan, petani, serta sebagian keci sebagai pegawai negri sipil. Kota Painan juga merupakan ibukota dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Painan dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatera bagian Barat. Menurut sejarahnya Kota Painan, pada tahun 1523 di Painan sudah berdiri sebuah surau yang merupakan sebuah lembaga pendidikan agama di Minangkabau. Pada abad 16 ini pula, Pulau Cingkuak di Painan menjadi pelabuhan kapal international yang berjaya sebagai Pelabuhan Emas Salido. <span id="more-403"></span>Pada tahun 1660, Belanda pernah berkeinginan untuk memindahkan kantor perwakilan mereka dari Aceh ke Kota Padang dengan alasan lokasi dan udara yang lebih baik. Namun, keinginan ini ditolak oleh penguasa Kota Padang hingga akhirnya mereka berkantor di Salido. Perjanjian Painan pada tahun 1663 yang diprakarsai oleh Groenewegen yang membuka pintu bagi Belanda untuk mendirikan loji di Kota Padang selain kantor perwakilan mereka di Tiku dan Pariaman. Dengan alasan keamaman kantor perwakilan di kota Padang dipindahkan ke pulau Cingkuak hingga pada tahun 1667 dipindahkan lagi ke Kota Padang. Bangunan itu terbakar pada tahun 1669 dan dibangun kembali. <em>( Sumber : www. Pulau Cingkuak. com )<img title="More..." src="http://mapalaunand.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berangkat ke pulau cingkuak</strong></p>
<p style="text-align: justify;">‘’Kita berangkat pukul 14.00 wib tepat setelah sholat jum’at ’’begitu ucap salah  seorang Anggota Penuh <strong>MAPALA UNAND</strong> kepada team Snorkling yang berjumlah 11 orang Anggota Muda <strong>MAPALA UNAND</strong>, serta didampingi oleh salah satu Anggota Penuh <strong>MAPALA UNAND</strong> yaitu MU 185 Ctf. Malam hari pun tiba, semua perlengkapan serta semua <em>tetek bengek</em> yang berkaitan dengan perjalanan harus saya siapkan supaya nantinya tidak mengganggu saya dalam perjalanan, mulai dari perlengkapan berjalan, perlengkapan istirahat, serta perlengkapan mandi. Setelah mengecek semua perlengkapan dan merasa telah lengkap,  saya bargegas menuju tempat istirahat untuk beristirahat karna terlalu lama begadang tidak baik untuk kesehatan dan besok saya membutuhkan stamina kuat untuk menempuh perjalanan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 253px"><img style="border: 2px solid black;" src="http://i577.photobucket.com/albums/ss212/Cowok_jantan/Snorkeling.jpg" alt="" width="243" height="175" /><p class="wp-caption-text">Sebelum turun, Foto dulu... ^_^</p></div>
<p style="text-align: justify;">Jam di dinding telah menujukan pukul 14.00 WIB tepat tapi dua orang <em>team s</em>norkeling belum menujukan batang hidungnya. Padahal, tadi malam kita sudah sepakat untuk berangkat pukul 14.00 WIB. Setelah menungu 15 menit akirnya 2 orang Anggota Muda <strong>MAPALA UNAND</strong> yang di tunggu-tunggu datang juga. Setelah semua administrasi di kantor , serta <em>briefing</em> dan berdo’a akhirnya kami berangkat dari kantor menuju Pulau Cingkuak pukul 14.30 WIB kami berankat mengunakan sepeda motor yang berjumlah 6 sepeda motor, tiap-tiap sepeda motor membawa 2 orang dan hanya satu motor yang satu  orang. Sebelum berangkat kami mengisi bahan bakar di sebah pertamina kali ini semua teman-teman tidak ragu-ragu untuk mengisi bahan bakar <em>full tank</em>, karna kami rata-rata memakai motor matik jadi kami haya merogoh kocek 1.500,00 saja. Setelah berjalan seperempat perjalanan kami dihadang macet sekitar 4 kilometer. Melihat hal demikian Ivo yang notabenya orang pesisir tentu heran melihat hal demikian. Karena  biasaya jalur lintas ini tidak pernah macet , setelah meyelip-nyelip beberapa mobil akhirnya kami tiba di paling depan, betapa terkejutnya kami ternyata 2 kontraktor besar sedan bekerja ternyta LOONGSOORRR………..maka terpaksa lah kami menunggu dan menunggu sambil memandangi kontraktor menyingkirkan tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada hal yang menarik waktu kami menunggu jalan dibukak ada seorang anggota kami menggunakan <em>carrier</em> yang menggunakan <em>cover carrie</em>r nya memakai lambang kepolisian lagi pula waktu itu dia juga menggunakan sepatu <em>pdl</em> dan menggunakan helm , jadi waktu itu dia kelihatan seperti polisi dan dia juga mondar mandir dilapangan.Entah karena alasan apa dia membuka helmnya sontak saja seorang angota kepolisian memanggilnya (mungkin rambutnya panjang) dan terjadi percakapan ,’’kamu anak MENWA ya’’???tanya polisi .’’nggak pak saya anak <strong>MAPALA</strong>’’ jawab nya. “tu lambang apa an tu?? Sambil menunjuk lambang kepolisian di belakang <em>carrier </em>nya.”ini punnya teman pak “ jawabnya.Melihat teman ditanya-tanya begitu sontak saja kami bersama-sama pergi menemui polisi tersebut.Melihat banyak yang datang polisi itu ciut juga,”begini saja, lain kali jangan menggunakan lambang kepolisian lagi sekarang nggak apa-apa”kata polisi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menunggu 3 jam , jam tangan saya menujukan pukul 18.00 WIB akhirnya jalan sudah bisa untuk dilewati.dengan mengendarai sepeda motor pelan-pelan untuk melewati yang longsor karena licin,setelah melewati jalan yang susah tadi kami menancap gas supaya tidak kemalaman di jalan.motor pun melaju saling berpotongan , kejar mengejar. Tidak terasa kami pun tiba di kota Painan,waktu itu  pukul 19.45 WIB lalu kami berhenti di pingir jalan untuk menentukan pergerakan apa mau langsung ke pulau atau menunggu pagi dan menginap di rumah salah seorang Anggota Muda <strong>MAPALA UNAND</strong> yang kebetulan rumahnya dekat lokasi . Setelah berdiskusi lalu di putuskan untuk menyebrang ke pulau besok dengan alasan keselamatan, karena menurut  nelanyan  malam hari pasang tidak menentu jadi bisa membahakan keselamatan. Maka kami bergegas menuju rumah salah seorang Anggota Muda <strong>MAPALA UNAND</strong> tadi , setelah tiba di rumah anggota tadi kami meletakkan semua perlengkapan dan beristirahat sejenak dan ada sebagian anggota melalsanakan sholat isya . Setelah semua beres kami mengadakan <em>briefing</em> apa pergerakan yang akan kami lakukan besok ,<em>brifing</em> kali ini di pimpin oleh salah satu Anggota Penuh <strong>MAPALA UNAND</strong> MU 185 Ctf.  pada <em>briefing</em> kali ini kami membahas soal logistik , perlu ditambah atau tidak kemudian masalah pergerakan besok pagi  pukul berapa kita bangun dan masalah menyebrang ke pulau.Setelah melakukan <em>briefing</em> 15 menit kami memutuskan bahwa logistic perlu ditambah teruma makanan ringan,dan pergerakan di mulai pukul 06.00  WIB, kemudia masalah penyebrangan setelah di konfirmasikan bahwa penyebrangan bisa dimulai pukul 06.30 WIB. Setelah membeli semua logistic yang diperlukan dan semau anggota sudah berkumpul kami memutuskan untuk istirahat lagi pula jam sudah menujukan pukul 22 00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Akhirnya bersnorkeling juga ………..</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 06.00 WIB kami semua sudah bangun dam semua <em>carrier s</em>udah di punggung lalu berangkat menuju darmaga dengan berjalan kaki  sekitar15 menit. Setelah tiba di darmaga kami menunggu sekitar 15 menit, kesempatan ini di manfaatkan oleh sema anggota untuk berfoto-foto ria. Akhirnya <em>speed boot</em> yang kami tunggu datang juga lalu semua barang-barang dan perlengkapan diletakan di atas <em>speed boot</em> ,melaju……… Semua wajah anggota nampak sumringah entah apa yang dipikirkannya. Mungkin memikirkan keindahan Pulau Cingkuak  yang terngiang –ngiang oleh mereka .Setelah 5 menit akhirnya kami sampai juga di Pulau Cingkuak , kami di sambut oleh keputihan pasirnya dan lambaian nyiur-nyiur.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 9.00 WIB kami memulai kegitan snorkeling karena 2 jam sebelumnya kami gunakan untuk men<em>survei</em> lapangan untuk menentukan dimana tenda akan kami dirikan,supanya tenda kami aman dari terjangan angin malam.Setelah menentuka dimana posisi yang bagus  lalu kami bersama-sama mendirikan tenda, kali ini kami membawa tenda<em> Dome</em> dengan pertimbangan supaya bisa menampung semuanya. Sebelum melakukan snorkeling, Anggota Penuh <strong>MAPALA UNAND</strong> memberikan kami tentang bahaya apa saja yang mengancam kami di dalam laut,’’jadi jangan memegang makluk laut yang belum kita kenal terutama yang berwarna mencolok seperti bulu babi, ubur ubur dan lainnya’’ begitu katanya. Kemudian dilanjutkan dengan <em>stretching</em> supanya otot tidak kram waktu berenang , Pembagian perlengkapan snorkeling berupa <em>masker , snorkel</em> , ini merupakan alat wajib bersnokling. Alat kami pinjam dari dinas periwisata kota Painan . Setelah mendapatkan semua penjelasan dari Anggota Penuh <strong>MAPALA UNAND</strong> kami semua terjun ke laut dengan peralatan lengkap .</p>
<p style="text-align: justify;">Wooo0www…………… indah begitu kata yang pertama yang terlintas di otak ku sewaktu  pertama melihat keindahan bawah laut .karang –karangnya yang masih asli tampa terjamah oleh tangan manusia ditambah ikan –ikan kecil saling berkejar –kejaran menambah keindahan bawah laut Pulau Cingkuak , banyak ikan –ikan memiliki warna macam-macam  ada yang merah mencolok ,ada yang kuning, orange, dan banyak yang lainnya, ini sungguh menabjukan bagaimana tidak saya berenang secara berdampingan ikan bahkan mereka tidak ketekutan malah menikmati dan nampak tidak canggung .sambil bersnokling saya merenng kan sungguh Allah Maha Sempurna semua ini adalah ciptaan-Nya sungguh menajubkan. Sadarlah kita bahwa memang pantas dia untuk di puja dan diagungkan serta bersyukur pada-nya .Sambil asik memikirkan keagungan Allah saya tersentak dengan teriakan seorang teman “ooee …….siapa yang mau lihat bulu babi ayo ke sini “ .dengan rasa ingin tahu yang basar saya mendekati teman yang berteriak tadi ,dengan  sedikit menbenamkan kepala ke dalam air saya dapat melihat hewan bawah laut ini ,dia memiliki warna biru dengan memiliki beberapa bulu runcing, besarnya kira-kira dua kepalan tangan, karena terlalu banyak orang melihat hewan ini kabur.bulu babi pun berlalu lalu kami lanjutkan meyelam menyusuri semua keindahan bawah laut Pulau Cingkuak .</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 12.00 WIB kami menyudahi kegitan snorkeling, kami bersiap untuk menyiapkan makanan sianag .kali ini kami menyiapkan makanan yang kami racik sendiri semua bahan kami keluarkan dan semua jiwa-jiwa koki kami keluar kan .Setelah beraksi beberapa menit saja makan siang pun siap di sajikan dan siap disantap.  Mmm………………lezat</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 14 00 WIB kami sepakat untuk mencoba untuk memancing , kali ini kami mem bawa 3 buah pancing saya dan dua teman lainnya mencoba peruntungan di Pulau Cingkuak, setelah memilih –memilih lokasi yang cocok  lalu kami memutuskan untuk memancing di atas batu besar ,pancinng pun dilemparkan……….setelah 2 jam memacing kami berhasil membawa 7ekor saja .  Jam 15 00 sampai senja kembali habiskan untuk bersnorkling kembali untuk melepaskan semua penasaran tadi yang belum kesampaan . Kali ini ada yang menarik  saat bersnokling  bagaimana tidak <em>banana boot</em> mulai beraksi dan turis –turis local mulai berdatangan .laut pun mulai berulah pasang pun mulai naik , ombak mulai mengganas, air pun mengeruh snorkeling pun dihentikan dilanjut besok pagi .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Minggu pagi and <em>go home</em>!!!!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai rencana kami akan keluar pulau pukul 13. 00 WIB  dan kembali ke Padang pukul 15. 00 WIB dan akan tiba di kantor pukul 17.00 WIB . Pagi ini kami berencana untuk mengulangi bersnorkling  karena sore kemaren keadaan tidak mendukung maka kami akan melepaskam semua penasaran yang belum kelar kemaren  dan ini juga terakir sebelum pulang siang ini. Sama seperti sebelum nya kami melakukan <em>stretching</em> dan berdo’a supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.kami pun meluncur ke dalam lautan . Setelah beberapa menit mengapung di permukaan laut , lagi lagi kami dikejutkan oleh  penemuan anggota  muda  yaitu ular laut spontan saja semua beramburan keluarrr …..  kaburrrrr…………  setelah semua keluar  dan semua aman kamipun di larang mendekati zona yang telah di tetapkan sebelumnya. snorkling pun berlanjut  sampai tengah hari tanpa ada yang menakutkan lagi serta aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 12. 00 WIB kami siap –siap untuk meniggalkan pulau dan memeking semua perlengkapan.Setelah selesai semua selesai kami santai-santai menunggu  <em>speed boot</em> yang akan menjemput sambil bercanda-canda dan ngobrol, setelah lelah bercanda –canda  <em>speed boot</em> pun tidak datang pada hal jam sudah pukul 13. 00 WIB. Setelah di konfirmasi ternyata ada sedikit masalah ,lagi-lagi menuggu…………….akhirnya <em>speed boot</em> tiba juga kami pun berlalu……………… (<strong>Ayu Zarman Sulkenda/ AM 294 M) </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/artikel-mu/pulau-cingkuak-nan-menawan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keindahan Ornamen di Gelapnya Gua Baba</title>
		<link>http://mapalaunand.com/artikel-mu/keindahan-ornamen-di-gelapnya-gua-baba/</link>
		<comments>http://mapalaunand.com/artikel-mu/keindahan-ornamen-di-gelapnya-gua-baba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 05:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Medapri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel MU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapalaunand.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Maha Agung Tuhan dengan segala keindahan yang diciptakannya. Mungkin itu yang akan diucapkan oleh caver (seorang penelusur gua) apabila sedang melakukan sebuah penelusuran gua. Dekorasi maha sempurna yang tercipta begitu anggun, kokoh, rumit, dan sangat indah. Dekorasi tersebutlah yang biasanya disebut sebagai ornamen. Banyak ornamen-ornamen indah yang terdapat di dalam gua (secara umum), diantaranya: stalagtit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img style="border: 2px solid black;" src="http://i577.photobucket.com/albums/ss212/Cowok_jantan/Gua.jpg" alt="" width="300" height="176" /><p class="wp-caption-text">Pilar, salah satu ornamen yang terdapat di Gua Baba</p></div>
<p style="text-align: justify;">Maha Agung Tuhan dengan segala keindahan yang diciptakannya. Mungkin itu yang akan diucapkan oleh <em>caver </em>(seorang penelusur gua) apabila sedang melakukan sebuah penelusuran gua. Dekorasi maha sempurna yang tercipta begitu anggun, kokoh, rumit, dan sangat indah. Dekorasi tersebutlah yang biasanya disebut sebagai ornamen. Banyak ornamen-ornamen indah yang terdapat di dalam gua (secara umum), diantaranya: <em>stalagtit, stalagmit, rimstones pool, pilar, sodastraw, gourdam, helektit, dan pearls. <span id="more-389"></span><!--more--></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Stalagtit </em>tumbuh dari atap gua menuju ke bawah, terbentuknya <em>stalagtit</em> ini karena adanya resapan air dari luar gua, dimana tetesan tersebut mengandung larutan <em>kalsium</em> <em>karbonat</em>, kemudian lama-kelamaan larutan tersebut mengendap dan terbentuklah <em>stalagtit. </em>Bentuk dari <em>stalagtit</em> itu sendiri seperti tabung kerucut yang terbalik, semakin ke bawah semakin kecil dan runcing. <em>Stalagmit</em> terbentuk karena adanya tetesan air dari <em>stalagtit</em> yang jatuh ke lantai gua, dimana dalam tetesan tersebut masih terdapat larutan <em>kalsium</em> <em>karbonat</em>. <em>Stalagmit</em> ini tumbuh di lantai gua menuju ke atas, bentuknya pun kebalikan dari <em>stalagtit, </em>yakni berbentuk tabung kerucut, semakin ke atas semakin kecil dan runcing. Oleh karena itu, <em>stalagtit</em> dan <em>stalagmit</em> ini biasanya akan berpasangan, namun ada juga <em>stalagtit</em> yang tidak membentuk <em>stalagmit</em>. Hal ini terjadi karena tetesan yang mengandung larutan tersebut hanyut terbawa oleh aliran sungai yang ada di bawahnya atau karena faktor yang lainnya. <em>Stalagtit</em> dan <em>stalagmit</em> ini lama-kelamaan akan tumbuh memanjang dan akan menyatu hingga akhirnya akan membentuk sebuah ornamen lain yang biasanya disebut dengan <em>pilar</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Bentuk ornamen yang menyerupai petakan-petakan sawah dan terbentuk dari tetesan air yang mengenai batu, inilah yang disebut dengan <em>rimstones</em> <em>pool</em>.  Lain halnya dengan <em>gourdam, </em>ia mempunyai bentuk layaknya tirai. Ia terbentuk dari tetesan air yang mengalir melalui dinding gua sehingga letak dari <em>gourdam</em> ini biasanya di dinding gua sebelah atas. Ornamen yang memiliki diameter lebih kecil dari <em>stalagtit </em>inilah yang dinamakan <em>sodastraw</em>. <em>Sodastraw</em> ini bisa dikatakan sebagai cikal bakal dari <em>stalagtit</em>, karena letak dan proses terbentuknya yang sama dan hanya beda pada ukuran diameternya.  Sedangkan <em>helektit</em> berukuran kecil dan tidak beraturan, bentuknya ada yang bercabang dan ada juga yang berpilin ke segala arah. Proses terbentuknya berasal dari tetesan air yang mengalir melalui alur kecil sebagai akibat gaya kapiler. Kemudian yang terakhir adalah <em>pearls</em> yang merupakan mutiara goa, ini terbentuk dari batu kerikil yang terbalut oleh mineral kalsit pada lantai, dinding atau atap gua. Pertambahan panjang dari masing-masing ornamen ini yaitu 5 – 6 mm per tahun, itu adalah perpanjangan yang maksimum.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 268px"><img style="border: 2px solid black;" title="Penulis (nomor dua dari kanan) sedang berada di entrance (mulut gua)" src="http://i577.photobucket.com/albums/ss212/Cowok_jantan/Gua1.jpg" alt="" width="258" height="194" /><p class="wp-caption-text">Penulis (nomor dua dari kanan) sedang berada di entrance (mulut gua)</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan kali ini penulis ingin menceritakan ornamen – ornamen yang ada di Gua Baba yang berada di Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan,  Kota Padang. Pada penelusuran yang dilakukan pada  tanggal 28 Maret 2010, penulis  menemui beberapa ornamen yang berada di Gua Baba tersebut, diantaranya <em>stalagtit, sodastraw, rimstones pool, pilar, dan gourdam</em>. Tidak terlalu banyak ornamen yang ditemui disini, namun hal ini tidak mengurangi rasa kekaguman yang penulis rasakan ketika melakukan penelusuran di gua tersebut. Keindahan dari<em> </em>masing-masing ornamen tersebut masih dapat kita nikmati. Bagaimana kita tidak dapat menikmatinya? Itu adalah pertanyaan yang mengungkapkan betapa kita tidak bisa bohong bahwa kenyataanya gua adalah indah dan menawan serta dapat menyita perhatian bagi setiap <em>caver</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat melakukan penelusuran, hal pertama yang terlihat oleh penulis yaitu<em> entrance</em> (mulut gua). Pada <em>entrance</em> ini tampak <em>stalagtit-stalagtit</em> yang sangat banyak dan rapat. Jika dilihat dari kondisi <em>stalagtit-stalagtit</em> tersebut sudah tidak mengalami perpanjangan lagi, karena bentuk secara fisikanya juga sudah berubah. <em>Stalagtit</em> yang masih akan mengalami perpanjangan biasanya berwarna putih sampai kecoklatan dan terlihat rapuh serta masih basah karena rembesan air dari atas gua. Sedangkan <em>stalagtit</em> yang sudah tidak mengalami pertumbuhan, ia akan berubah layaknya batu biasa dan mengeras karena sudah tidak terdapat rembesan air dari atas gua. Masih di <em>entrance</em>, ternyata terdapat ornamen yang lainnya, yaitu <em>rimstones pool</em>. Kondisi dari <em>rimstones pool</em> itu sendiri masih baik karena ornamen tersebut masih tergenang oleh air sehingga memungkinkan masih bisa terbentuk. Di sebelah atas dari <em>rimstones pool</em> tersebut terdapat bentukan yang menyerupai tirai, biasanya dalam <em>speleologi</em> disebut sebagai <em>gourdam. Gourdam</em> terletak di bagian atas dekat atap gua itu sendiri. Masuk lebih dalam lagi kita akan menemukan beberapa ornamen jenis lainnya yaitu <em>sodastraw</em> dan <em>pilar</em>, namun <em>stalagtit, rimstones pool, </em>dan<em> gourdam</em> juga banyak terdapat di dalamnya. Ketidakadaan <em>stalagmit</em> pada Gua Baba bisa jadi dikarenakan tetesan air dari <em>stalagtit</em> tersebut hanyut terbawa aliran sungai di dalam gua tersebut. Namun ada kalanya <em>stalagtit</em> dan <em>stalagmit</em> sudah menyatu sehingga membentuk sebuah <em>pilar</em>. <em>Pilar</em> yang terdapat di Gua Baba berbeda-beda ukurannya, ada yang berukuran kecil ada juga yang berukuran besar. Hal ini tegantung dari ukuran <em>stalagtit</em> dan <em>stalagmit</em> yang membentuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan gua dapat dilihat dari banyak atau sedikitnya ornamen yang ada di dalamnya. Semakin banyak ornamen yang ada di dalamnya, maka gua tersebut akan semakin indah dan mempesona. Bukan berarti gua yang hanya mempunyai beberapa ornamen tidak indah, masih tetap indah dan masih tetap bisa dinikmati dari sisi lainya. Misalnya dari segi <em>botani</em> dan <em>zoologi</em>nya, teknik-teknik penelusurannya, dan sebagainya.  <em><strong>(Marfu&#8217;ah Eka Fitri/AM 283 MU)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapalaunand.com/artikel-mu/keindahan-ornamen-di-gelapnya-gua-baba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

