Titik Triangulasi Telah Hancur Lebur
TUJUH tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengingat jalan yang pernah dilewati. Jalur Gunung Pantai Cermin didominasi hutan lumut sangat mudah rusak dan hilang ditelnh tumbuhan pionir itu. Pada batang kayu walau samar, masih menyisakan bacok tiga dan stringline.
Malam itu kami harus bergegas mengumpulkan barang di Tandike Outdoor Shop. Pengumpulan barang bawaan ke lapangan berguna demi persiapan pendakian ulang di daerah ekspedisi ketika Anggota Muda (AM) dulu.
Beberapa hari sebelumnya, sang koordinator guide telah mewanti-wanti untuk tidak datang terlambat dalam perjalanan menemani sepasang warga Jepang. Warga negeri matahari terbit itu akan mengidentifikasi tumbuhan kantor semar (Nephentes sp) yang ada di Gunung Pantai Cermin,
Kecamatan Surian, Kabupaten Solok Selatan.
Jelas terlambat dan persiapan minim. Kami kurang koordinasi, tentang lama keberangkatan. Logistik disiapkan untuk kondisi terburuk. Ternyata semuanya telah disetting. Mobil, guide dan jam keberangkatan tepat waktu. Warga Jepang ingin kedisplinan itu.
Bersama di atas mobil penterjemah, sepasang warga Jepang, guide, Hanif Putra dan seorang porter dadakan, Abenk. Tepat pukul 09.00 WIB pagi kami menuju gunung Pantai Cermin.
“Seperti apa gunung itu sekarang,” ucap Abenk yang mantan ketua ekspedisi AM Mapala Unand waktu itu.
Kami mencapai kaki gunung 4 jam kemudian. Dua orang porter yang dipersiapkan untuk perizinan segera diambil dari rumah walijorong. Tampak mereka, Yos Pakiah dan Riko Bancah masih terlelap indah di atas kasur panas.
“Kami belum makan,” sebut Riko keheranan sambil memegang perut besarnya.
“Segera! berangkat sekarang. Kemasi perlengkapan kita harus mendaki sekarang!” teriak Hanif tegas. Sigap, cepat dan hati-hati mencirikan seorang pendaki sejati, kedua orang sahabat itu segera mengemasi perlengkapan tidurnya.
Entah apa latar belakang yang dikatakan Yos Pakiah. Tapi ada ketidakpuasan pada pria sarjana Sastra itu ketika diperintah oleh koordinatornya. “Tapi tidak sekarang berangkatnya. Bagaimana dengan guide lain,” tanya porter berambut awut-awutan itu sambil merapikan ciri khasnya itu.
Singkat cerita kami telah sampai di kaki Bukit Sitabu. Bukit gundul dengan kemiringan mencapai 30 derajat. Jam di tangan menunjukan pukul 12.00 WIB. Tepat ketika sang surya sedang memperlihatkan “power” terbesarnya.
Mengejutkan memang! Kali ini kami harus membawa semua barang warga Jepang itu. Sedangkan perlengkapan kami sendiri sudah melebihi kapasitas, minimalnya 20 kg untuk carier dan beberapa kilogram untuk daypack. Gila!
Mau tidak mau, Riko yang telah pernah pergi dengan sepasang peneliti itu mulai unjuk bicara. “Sudah saya bilang, mereka tidak mau mengangkat barang sendiri. Makanya kita tanggung akibatnya,” ucapnya sambil mengurangi bebannya dengan menitipkan kepada mobil penterjemah.
Hanif Ginanjar, sang Guide mulai memimpin rombongan. Warga Jepang itu sigap segera mengiring pemuda berkulit hitam di depannya. Jalan melingkar licin dan murah runtuh ditapaki. Hanif makin melejit, sedangkan Abenk merambat pelan, Yos Pakiah tertinggal di belakang, Riko membayang-bayanginya. Perjuangan yang berat.
Tak lama kemudian satu jam perjalanan di pinggang Bukit Sitabu tampak Hanif Ginanjar kehabisan napas. “Gantian benk,” ucapnya tegas. Abenk patuh, segera dia pimpin sepasang peneliti itu.
Memang bukan salah fisik yang lemah, karena latihan tidak pernah diulang, maka di pintu rimba Abenk stagnan. Berhenti mendadak. Peneliti minta izin meneruskan perjalanan. “Be carefully Sense,”salam Abenk sambil senyum sumringah.
Lama waktu berselang, Hanif datang diikuti kemudian oleh Yos dan Riko, warga Jepang tidak kelihatan lagi. Rencana kembali dibahas. Makan pagi harus dilakukan, kami masak mie rebus dan teh.
Tetap mencoba berwibawa dan tegar, Hanif segera mencari bantuan seorang penduduk pribumi, Heru. Setelah cocok, mantan pegawai perusahaan Jepang itu menyusul sang majikannya.
Usai makan kami tetap meringsek dengan beban yang semakin berat ditinggalkan Hanif. Hari telah sore, kami harus ngecamp di dalam hutan. Masih seperti dulu, perjalanan ini tergolong berat dengan beban dan kemiringan jalur yang menyiksa.
“Hari pertama ini akan menghancurkan fisik. Hari kedua akan menghancurkan mental. Hari ketiga kita akan menghancurkan semua mimpi buruk, kita akan enjoy di surga lumut ini. Hanya yang berani dan
bermental tangguhlah yang akan mencapai puncak,” ucap Abenk berteori.
Problem lapangan muncul lagi. Hanif dan tuannya terlampau cepat melejit. Kami terpaksa istirahat tanpa mereka. Hutan telah gelap, penglihatan harus dibantu senter. Hanif juga tidak muncul. Diputuskan bersama Heru, Abenk harus menjemput mereka. Riko menghabiskan logistik yang ada sambil masak untuk perutnya. Setelah itu menyisakan makanan untuk orang yang tersisa nantinya.
Berbagai problem bisa diatasi malam itu oleh problem solver, Riko Bancah. “Bagaimana Sense. Asyik khan,” ucapnya sambil memainkan matanya.
Abenk, Heru, berangkat ke puncak mengambil sampel. Peneliti, Hanif akan duduk di camp sambil mencari kalau ada Nephentes di sekitar sana. Semangat 45 tiga pendaki tangguh itu dimulai. Peta dan kompas disiapkan. Logistik dipersiapkan Riko dan Hanif dalam sebuah daypack.
Perjalanan hari kedua mulai menghancurkan mental. Perjalanan melipir punggungan dimulai. Kami harus memutar punggungan menuju puncak Pantai Cermin. Puncak kemenangan AM-MU angkatan XIII-1999.
Kami lelah, kaki lecet, tangan luka, mata kena abu, selangkangan terantuk kayu. Semuanya tidak menghalangi semangat juang yang ada di hati Abenk, Pakiah dan Heru. Kami akan berikan yang terbaik untuk peneliti asing itu.
Merunduk, memanjat, memotong kayu, balik lagi mencari jalan alternatif, kami hampir putus asa mengingat matahari hampir balik keperaduannya. “Itu pohon Alpen, vegetasi puncak,” tutur salah satu turunan dewa rimba gunung, Harios Pakiah .
Kembali dengan semangat tersisa kami lanjutkan perjalanan menuju puncak. Berbagai photo dan sampel Nephentes dikumpulkan Abenk yang juga sarjana Biologi FMIPA Unand itu.
Tidak sia-sia memang. Puncak dan bekas titik triangulasi telah kami kumpulkan. Kekecawaan terlihat di wajah Yos Pakiah. “Aden ingin melihat titik Triangulasi sampai sekarang belum juga ketemu,” ucapnya sambil melihat lubang besar bekas galian manusia menghancurkan titik triangulasi peninggalan Belanda. Titik triangulasi dianggap penduduk menyimpan kandungan emas di dalamnya. Mereka gali lubang untuk dapatkan harta warisan yang tidak pernah ada. Penghancuran terhadap tanda titik ketinggian tersebut dilakukan orang tidak bertanggung jawab disana. Kami kecewa berat!
Usai melaksanakan tugas, kami segera meluncur ke bawah dan disambut hangat oleh Hanif Ginanjar. Setelah mencapai kaki Bukit Sitabu kami melihat puncak gunung yang didaki selama 2 hari itu. Padahal ketika pembukaan jalur mencapai 8 hari turun naik.
“Perjalanan yang menyenangkan,” tutur Pakiah melihat Gunung Pantai Cermin.
“Kami telah capai cita-cita pembersihan jalur,” ujar Hanif dan Abenk kompak.
Heru penduduk pribumi juga tersenyum. “Gaji saya pasti akan keluar,” seperti itulah terlihat dalam senyumnya. (tandri eka putra)


