Sepeda Jelajah Negeri (Episode 2/Habis)
Menelusuri Keelokan Lorong Negeri Ranah Minang
Cuaca cerah mewarnai sore hari di kota wisata Bukittinggi. Akhirnya target hari ini tercapai juga ketika aku memasuki alun-alun kota yang terlihat ramai didominasi oleh pejalan kaki yang berlibur dan menikmati akhir pekan di sini. Waktu sudah memasuki pukul empat sore, agak berat terasa perjalanan hari ini, dan akhirnya kuputuskan untuk menginap semalam di rumah kenalanku ”orang bukik” yang kebetulan juga sedang berlibur di rumahnya.
Fenomena Jam Gadang jadi Kebanggaan Warga
Keesokan harinya aku melanjutkan perjalanan menelusuri kota Bukittinggi seharian. Karena ada banyak hal menarik yang ingin kuketahui lebih jauh sambil menikmati lorong-lorong kota ”sanjai” ini. Sanjai -keripik yang terbuat dari singkong- memang makanan khas dari Bukittinggi yang sering dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung yang datang ke sini. Rasanya enak dan gurih serta teksturnya terkesan renyah di lidah. Penjualnya pun hampir tersebar di sepanjang jalan tempat lintasan mobil angkutan umum.
Bila kota London di Inggris dikenali dengan Big Ben–nya, maka Bukittingi pun punya Jam Gadang yang menjadi kebanggaan warga dan terletak persis di jantung kota. Arsitekturnya pun sangat menawan, yang merupakan perpaduan antara budaya minang dengan corak gothic alaBelanda. Namun menurut dokumentasi sejarah yang ada di negeri Belanda, atap dari Jam Gadang ini dulunya berbentuk kubah yang lebih identik dengan kubah bangunan gereja tua di daratan Eropa.
Namun kemudian, bentuk ini direnovasi dengan menggantinya dari bentuk kubah dengan atap bagonjong. Tentunya dengan begitu lebih mencirikan berasa corak minang-nya. Ini terlihat dari atap gonjong pada bagian atas bangunan yang berpadu dengan gaya klasik dari bangunan belanda yang berwarna putih. Dan sejarah pun mencatat kota Bukittinggi pernah dijadikan pusat pemerintahan republik Indonesia di masa revolusi dulu. Maka tidak heran apabila banyak bangunan-bangunan yang ditemui di sini juga didisain bercorak Belanda. Persis di depan kawasan Jam Gadang terdapat sebuah patung besar yang berdiri kokoh dengan posisi hormat menghadap ke arah jalan. Itulah patung sang proklamator RI, Bung Hatta, yang memang lahir dan dibesarkan di kota ini.
Bukittinggi memang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar di negeri ini. Setiap orang yang berkunjung ke Bukittingi pasti tidak akan melewati kesempatan untuk melihat Jam Gadang. Dengan suasana taman kota yang nyaman dan dekorasi yang bersih, membuat pengunjung betah berlama-lama nongkrong di bawah Jam Gadang sebagaimana pusat keramaian pada umumnya. Di sini pun banyak tersedia jasa pelukis jalanan, seperti di alun-alun kota Venesia, Italia, yang kental dengan nilai seninya dan bisa mengabadikan pesanan gambar pengunjung pada media kanvas dalam waktu yang singkat dengan kualitas yang memuaskan. Wah, pokoknya benar-benar terasa sekali aroma kota wisatanya yang berkelas di sini. Bila malam telah tiba, lampu-lampu taman pun tampil dengan anggun menerangi Jam Gadang. Sungguh pemandangan yang sangat mengagumkan.
Melintasi Ngarai Sianok nan Indah….
Pagi ini, Senin (30 Juli 2007), perjalanan dilanjutnya ke route berikutnya. Ya, Ngarai Sianok yang terkenal dan banyak diabadikan oleh pelukis ternama ini akan kulintasi tepian tebingnya. Memasuki kawasan Ngarai Sianok merupakan tantangan lain. Bila perjalanan sebelumnya didominasi oleh pendakian tajam, justru di Ngarai Sianok sebaliknya, turunan tajam siap menanti dengan liku-liku jalannya yang sempit dan tikungan tajam mematikan. Dan sepertinya pemakaian rem harus ”njelimet” agar roda tetap berputar terkendali. Hawa dingin masih saja terasa, dedaunan basah di pinggir tebing-tebing merah berpasir halus tampak berdiri tegak ketika kulintasi belahan Ngarai yang begitu permai ini. Dari sini perjalanan akan ditujukan ke danau Maninjau. Meski bukan jalanan utama, namun jalan ini masih sering dilintasi oleh kendaraan bermotor. Mungkin karena badan jalan yang kecil, sehingga hanya bisa dilalui oleh muatan yang terbatas.
Siang pun datang menjelang. Rasa gerah dan terik matahari memaksaku untuk sering berhenti. Namun sesekali rasa itu kulawan, dan kualihkan dengan siulan ringan penghibur diri. Beberapa saat kemudian, pendakian Matur segera menantang. Kembali kukumpulkan tenaga dengan sebuah tarikan nafas yang dalam, pendakian pun kuterjang dan sepeda merangkak pelan menikungi jalan di pendakian. Dan tak terasa daerah Lawang yang terkenal dengan ladang tebu dan pabrik gula pun telah kulewati. Kini tinggal beberapa kilometer lagi jalanan lurus menuju penurunan akan segera berakhir. Hampir setiap tempat kuberhentikan untuk melepas lelah, orang-orang terheran-heran dengan atribut yang kukenakan selama perjalanan. Namun aku tetap mencoba mengakrabkan diri dengan mereka sambil bercerita-cerita dengan budaya mereka setempat. Dan seperti yang telah kuduga sebelumnya, ketika giliran mereka bertanya tentang diriku, mereka pun seakan tak percaya dengan agenda apa yang kukerjakan. ”Sebuah pekerjaan gila”, kata mereka. Akupun hanya berkelakar ringan menanggapi ungkapan ketidakpercayaan mereka atas ketidakwajaran yang kulakukan.
Dan persis di depanku sekarang sudah memasuki kawasan embun pagi. Embun Pagi merupakan titik terakhir yang berada sebelum penurunan kelok 44 menuju Danau Maninjau. Akupun berhenti sejenak untuk melihat pemandangan danau Maninjau dari atas. ”Sangat menakjubkan”, pikirku. Namun sebelum segera meluncur, aku harus memastikan kondisi rem sepeda. Kelok 44 sangat terkenal dengan penurunannya yang tajam juga dengan tikungannya yang mematikan. Karena ada 44 kelokan yang akan dilintasi nantinya, tentu merupakan durasi yang panjang untuk menjumpai kembali lintasan datar. Bila salah perhitungan, meluncur ke jurang yang curam akan menjadi konsekuensi logisnya. Demi keselamatan perjalanan, aku lebih memilih meluncur pelan menuruni kelok demi kelok dengan posisi tangan menggenggam erat penuh konsentrasi pada tarikan rem.
Satu tarikan nafas lega kulepas ketika kelokan ke 44 (kelokan yang pertama) berjalan mulus. Namun masih ada 43 kelokan lagi di depan mata siap menunggu. Pepohonan yang rindang dari bukit membuat jalanan sedikit lebih teduh. Sesekali panorama danau maninjau membentang di sela-sela dedaunan. Dan yang menarik sepanjang penurunan kelokan 44 ini adalah komunitas monyet liar yang begitu banyak berjejeran di sepanjang pinggir jalan. Tentu sejenak membuat kawasan ini terkesan sangat alami. Wajah-wajah lugu dari monyet inipun seakan ikut terpesona menyaksikan aksiku di tikungan penurunan.
Maninjau Nan Permai……
Ketika kelokan terakhir akan kuterobos, ada sebuah palang bertuliskan ”Selamat Datang di Kawasan Danau Maninjau” berdiri menyambutku. Akhirnya Maninjau yang kuimpikan telah kuziarahi dengan sepeda hari ini. Dan segera setelah itu aku tiba persis berhadapan di depan danau Maninjau. Tepatnya di tepi pasar, di sini kutemukan banyak jajanan kuliner khas Maninjau tersedia. Sebut saja pensi (makanan sejenis kerang-kerang yang hanya hidup di danau Maninjau) dan rinuak yang menjadi kebanggaan masyarakat. Aroma lezatnya tercium dan membuat perut terasa lapar. Akhirnya perjalanan melelahkan selama enam jam perjalanan mengantarkanku ke tujuan. Tanpa pikir panjang, segera kuarahkan laju ke arah kiri memasuki serambi mesjid Tanjung Raya. Masjid yang cukup luas ini menjadi tempat peristirahatanku malam ini. Persis di belakang masjid, deburan ombak dari air danau yang ditiup angin membuaiku ketika melepas lelah sejenak di tepian danau. Airnya begitu tenang dan pemandangannya begitu ”elegan”. Tampak keramba terapung banyak berjejeran di tepi danau berisi ikan-ikan budidaya masyarakat setempat. Di Maninjau inilah tempat kelahiran seorang sastrawan dan ulama besar yang karya-karyanya dikenal dunia, yaitu Buya Hamka.
Sebagaimana tokoh-tokoh nasional asal ranah minang lainnya, Buya Hamka begitu fenomenal dalam memberikan pengaruh terhadap tatanan kehidupan masyarakat serta kebijakan pemerintah saat itu. Tan Malaka, Agus Salim, M. Yamin, Hatta, dan masih banyak yang lainnya adalah pemikir-pemikir ulung yang menjadikan ranah minang dikenal sebagai daerah”industri otak”. Seakan alam ranah minang ini menjadi sebuah almamater untuk petinggi-petinggi besar di negeri ini.
Akupun tak menyia-nyikan momen berharga di tepi danau dengan mengambil sudut-sudut bidikan yang menarik dari kamera. Kehangatan secangkir susu coklat dan beberapa potong roti bakar yang diolah dari bekal yang kubawa menemani keelokan senja yang segera kembali keperaduannya. Nuansa islami jelas kental terasa dari disain mesjid yang memakai corak kebudayaan islam masa lampau, seperti halnya mesjid Baiturrahman di Banda Aceh yang juga memiliki kolam ikan dan menara tinggi menjulang di depannya. Dan malam ini tidak kusia-siakan untuk beristirahat guna mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang esok pagi.
Hari terakhir yang tersisa………..
Menikmati Maninjau memang tidak pernah habisnya. Di hari terakhir perjalanan ini, kunikmati pelesiran bersepeda dengan meniti jalan di tepian Maninjau yang begitu memukau. Udara segar pagi ini begitu menyegarkan dan hamparan sawah yang hijau semakin menambah kecantikan panorama yang kulihat pagi ini. Di bagian ujung batas pemandangan yang kelak akan segera memisahkanku dengan Maninjau, tertulis dengan jelas ”Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian” PLTA Maninjau. Ternyata air danau maninjau yang cukup luas mampu menjadi tenaga potensial yang menghasilkan listrik. Ini tentu menjadi sebuah anugerah yang besar bagi penduduk di setempat yang bisa menyupali hampir sebagian besar kebutuhan listrik di daerah sini.
Dengan kecepatan sedang, sepeda pun kemudian meluncur pada penurunan landai yang mengakhiri pemandangan Maninjau dan segera mengantarkanku melintasi wilayah Lubuk Basung dan Tiku. Melihat matahari sudah hampir berdiri tegak di atas kepala, aku memutuskan untuk menambah laju kecepatan agar bisa segera sampai ke Padang. Tak terasa waktu berselang, tanpa kusadari siang yang terik membawaku memasuki wilayah Pariaman. Ini ditandai dengan deburan omabak di tepi pantai yang terdengar jelas dan segera warna biru laut pun terlihat di balik jejeran pohon kelapa yang menjulang tinggi. Pariaman memang terkenal dengan pohon kelapa-nya. Sejauh-jauh mata memandang, lambaian nyiur ini terlihat begitu menawan.
Kini tinggal beberapa meter lagi Pariaman pun siap kutinggalkan dalam kenangan. Aku segera memasuki lintasan jalan raya Padang-Bukittinggi. Di sini panasnya hawa jalanan aspal mencapai puncaknya, sehingga rasa kesat di wajah akibat campuran debu dan keringat semakin membuatku terasa gerah. Seringkali niat untuk untuk berhenti kuurungkan. Karena bila harus berhenti juga, maka resiko untuk patah semangat akan semakin besar. Untuk itu kupaksakan agar roda terus melaju. Dan benar saja, tiba-tiba simpang empat perbatasan wilayah Padang dan Padang Pariaman berdiri kokoh terlihat dari kejauhan. Itu artinya tidak lama lagi, aku akan memasuki Padang. Perjalanan sepeda jelajah negeri ini akan berakhir dengan sukses.
Ketika detik-detik yang mengharukan itu datang, senyum merekah tak tertahankan membuatku terhenti sejenak. Kulepas kacamata hitam, dan kupandangi ke arah belakang dengan tatapan penuh kepuasan melihat sejenak jalan panjang baru saja kulalui. Alhamdulillah, akhirnya Selasa (31 Juli 2007) pukul 15.35 WIB, berkat seluruh keyakinan yang bulat, episode pertama dari agenda sepeda jelajah negeri ini menuai sukses untuk bangunan mimpi yang baru saja telah kuwujudkan. Segenap suka cita pun menyelimuti perasaan. Ini merupakan awal dari langkah kecil dari sebuah obsesi besar untuk mengarungi dan menelusuri lorong-lorong dunia dengan bersepeda.
Dan yang pastinya kegiatan ini bukanlah bertujuan politis, namun tidak pula sekedar pencarian sensasi untuk meraup popularitas, melainkan sebuah keyakinan akan eksplorasi diri dalam menikmati tantangan baru dengan bersepeda. Itu saja. (Fauzan G Wardhana)
Tulisan ini pernah dimuat di Harian Padang Ekspres edisi Minggu 16 September 2007.
Sebelumnya: - Sepeda Jelajah Negeri (Episode 1)
