Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Mapala Unand

Free Web Hosting with Website Builder

Sepeda Jelajah Negeri (Episode 1)

October 3rd, 2007

PICT0142Menelusuri Keelokan Lorong Negeri Ranah Minang

Perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya, seringkali diawali oleh satu langkah kecil…. Semburat tipis cahaya matahari pagi membuka lembaran baru sejarah hari ini. Keheningan pagi yang lembut ini begitu ”sopan” melukiskan pagi yang damai dan nyaris tanpa disertai awan mendung pembawa hujan seperti halnya dengan pagi-pagi sebelumnya.

Bangunan gedung bertingkat pusat kegiatan mahasiswa (PKM) yang bercorak futuristik bergaya mediteran -kampus Unand Limau Manis- tempatku beristirahat semalam dan seperti begitu juga halnya dengan malam-malam sebelumnya, masih tampak berdiri kokoh meski masih berselimut kabut yang sedikit-demi sedikit mulai berangsur pergi dan memuai oleh belaian hangat mentari. Sabtu 26 Juli 2007, merupakan awal dari perjalanan panjangku bersepeda mengelilingi lorong negeri. Sebuah agenda perjalanan yang secara sadar kurancang dari impianku yang juga terinspirasi oleh kejuaraan tour de France, helat kejuaraan bersepeda yang berselera dunia. ”Kelak suatu saat nanti, akupun akan menjamahi Perancis, dan akan kujelajahi lorong-lorong negeri di dunia ini, meski hanya seorang diri”, pikirku dalam dimensi khayal yang mulai berkelana jauh.

Yah, bersepeda keliling dunia merupakan kegiatan yang sangat mengasyikan dan pastinya menciptakan banyak pengalaman menarik selama di perjalanan. Menerobos lajur jalan seraya menembus batas wilayah antar peradaban tentu memberikan tantangan tersendiri dalam menyelami beragam karakter lingkungan serta budaya setempat di daerah lintasan yang kita lalui nantinya. Agaknya mungkin kegiatan ini terkesan kurang kerjaan. Di jaman maju seperti sekarang, kenapa mesti bersepeda menempuh perjalanan yang begitu jauh dari kampung halaman? Bersepeda memang bukan permainan baru, tapi di balik perjalanan itu ada nuansa tantangan yang tersembunyi yang hanya bisa ditembus lewat keberanian dan kegigihan yang kuat. Sejenak akupun terbayang dengan kisah keberanian manusia untuk bisa menginjakan kaki di bulan, wilayah tak bertuan yang dulunya hanya bisa terngiang-ngiang dalam rekaan mimpi belaka.

Namun siapa sangka pada akhirnya sejarah mencatat mimpi itupun menjadi kenyataan ketika pesawat Appolo 11 milik penerbangan antariksa Amerika Serikat berhasil membuktikannya pada dunia. “Tak ada yang tak mungkin, dimana ada kesempatan di situpun ada jalan”. Agaknya ungkapan inilah yang terus memompa semangatku untuk segera terjaga dan membangunkanku dari mimpi untuk segera mewujudkannya dalam jejak langkah memacu putaran Si roda dua. Tekad bulat untuk menjelajahi negeri orang memang merupakan hobi unik yang tidak bisa kutinggalkan. Apalagi bila sampai berinteraksi dengan budaya masyarakatnya, adalah sebuah kenikmatan hidup yang tak terhingga bagiku sehingga memaksaku untuk terus bertualang agar bisa menjumpai keelokan alam menakjubkan. Berbekal dari persiapan fisik dan mental serta beberapa fasilitas pendukung merupakan bagian penentu dari keberhasilan perjalanan ini. Bukankah ketika perkembangan dunia semakin maju, maka jarak antar dimensi ruang bagaikan sebuah garis lurus?

PICT0256Komunikasi dan interaksi yang baik dengan lingkungan, secara manusiawi ataupun kebendaan akan mempermudah kelancaran kita mencapai tujuan. Azas inilah yang kumanfaatkan agar semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini secara normatif akan ”ringan tangan” mau membantu sebisa yang mereka mampu. Debut perdana dari episode perjalanan sepeda jelajahi ini dibuka dengan penelusuran route Padang-Ngarai Sianok –Danau Maninjau. Mungkin lintasan ini sudah sangat biasa dilalui oleh setiap wisatawan yang datang berkunjung ke ranah Minang, Sumatera Barat. Secara keseluruhan jalan yang ditempuh hampir semuanya merupakan jalan raya yang ramai dilintasi kendaraan. Namun bagaimana jadinya bila jarak ± 300 km ini diretas dengan bersepeda dengan kontur berupa perbukitan? Agaknya perjalanan ini tentu butuh persiapan yang matang serta semangat yang tetap bagus terjaga.

Rute ini sengaja dipilih karena selain merupakan ikon objek wisata di ranah Minang, di wilayah ini kita bisa banyak mengenal nilai-nilai historis dari karakter ”orang minang” secara lebih dekat. Jadi selain menikmati medannya yang menantang, view-nya juga bagus untuk berburu gambar yang pantas untuk dikoleksi. Alhasil, tepat pukul delapan pagi, kayuhan pertama memutar roda meluncur dari basecamp (kantor MAPALA UNAND) dengan akselerasi tinggi, sehingga membuatku harus berkonsentrasi penuh menatap jalanan di depan mata. Dan sepeda itupun melesat tak ragu menopang berat badanku bersama ransel biru yang ku-packing senyaman mungkin sehingga beban seberat 13 kg pun terasa ringan di pundak. Biarpun hanya bersepeda, namun safety prosedur perlengkapan yang dibawa dikontrol secara ketat. Mulai dari pelindung kepala (helmet) dan sun glasses untuk meredam silaunya sengatan matahari. Itu artinya semua logistik, makan, minuman, dan pakaian masuk menjadi satu dalam ransel tersebut.

PICT0230Dan satu-persatu perempatan jalan dan lampu merah kulalui tanpa hambatan yang berarti. Target pertama untuk hari ini dari empat hari yang direncanakan adalah mencapai kota Bukittinggi. Untuk itu akan memakan jarak tempuh ± 96 km dari Padang. Dan biasanya oleh kendaraan bermotor, rute ini bisa ditembus dalam waktu dua jam saja. Namun, dengan bersepeda tentu tidak akan secepat putaran mesin yang digerakkan oleh motor berbahan bakar minyak ini. Bersepeda tentu saja akan bergerak dengan metode tradisional berupa tenaga dari kontraksi otot yang kuat. Sehingga untuk melaju dengan kecepatan 40 km/jam saja akan membuat degup jantung dipaksa bekerja keras dan mengucurkan keringat di sekujur tubuh layaknya orang yang sedang joging di jalan. Siang yang terik pun datang menjemput. Hawa panas aspal jalan terasa begitu kuat sehingga rasa letih pun kadang cepat menghampiri. Di sepanjang jalan, lajur kiri yang dipakai terpaksa harus berebut dengan mobil-mobil truk yang dengan kecepatan tinggi pun tak mau kalah saling berpacu untuk mendahului satu sama lainnya. Sehingga deru klakson sahut-menyahut datang silih berganti, membuat aku harus waspada dan penuh kehati-hatian. Sedikit saja lengah, nasib buruk akan menjemputku.

Tak terasa kilometer 25 jalan raya By Pass sudah kumasuki. Dan sambil beristirahat sejenak, kuputuskan untuk berhenti sebentar untuk merilekskan otot-otot yang tegang dan melepas lelah. Seteguk dua teguk air dalam persediaan kuhabiskan. Panas semakin terik, namun perjalanan tetap kulanjutkan. Hanya beberapa menit berselang, ujung jalan raya By pass berakhir. Selanjutnya jalan raya Padang - Bukittingi menyambutku dengan jarak masih 60 km lagi untuk sampai ke Bukittinggi. Tetes demi tetes keringat mengalir lembut menyapu muka yang mulai terasa tebal oleh debu jalanan yang menempel. Meski jalanannya masih landai, namun gonta-ganti posisi gigi rantai tak bisa terelakan. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengayuh dengan posisi senyaman mungkin. Dan berikutnya, 20 kilometer ke dua berlalu, permintaan untuk beristirahat harus segera kuturuti agar mendapatkan tenaga yang segar kembali. Benar saja, berhenti sejenak membuat tenagaku fresh kembali, perjalanan pun dilanjutkan. Aku mulai mendapatkan irama yang dinamis untuk kecepatan optimal yang bisa kutempuh. Kondisi ini tentu terasa menyenangkan.

Apalagi ketika segerombolan anak-anak sekolah dasar yang kebetulan sekolahnya di tepi jalan bersorak memberi semangat sambil melambaikan tangan seakan memberi restu padaku untuk tetap terus maju. Tentu saja lambaian tersebut kubalas sebisaku dengan raut kebahagiaan terpancar di balik kacamata hitam yang kukenakan. Senyuman tanda terimakasih pun kulemparkan ke arah mereka yang tampak takjub.Dan teriakan mereka semakin deras membalas. Lima jam perjalan telah berlalu, setelah melintasi tanjakan berkemiringan rendah menuju Lembah Anai yang terkenal dengan air terjunnya, kini tibalah saatnya menembus pendakian Silaing. Pendakian ini merupakan halangan yang kutakuti sejak awal perencanaan. Kemiringannya yang tajam tentu saja akan memaksa otot paha dan betisku bertahan letih untuk melewatinya. Namun di sinilah letak strategi itu dimulai. Dengan memakai gigi rendah aku mulai membagi fokus tenaga untuk tiga fase, pertama awal pendakian, ke dua di tengah-tengah pendakian, ke tiga untuk tanjakan lanjutan setelah tanjakan utama.

Dan yang terjadi adalah benar saja sesuai dengan rencana yang dipakai, namun ada pada momen terakhir penghujung tanjakan yang membuatku takluk untuk menyerah dan terpaksa ”turun kaki”, serta sepeda pun harus didorong sejenak dan kemudian kunaiki kembali. Tak terasa kota ”Serambi Mekah” Padang Panjang kemudian mulai menyambut kedatanganku yang bersimbah peluh. Melihat tatanan kota yang begitu rapi dan bernuansa islami membuat kesejukan udara di sini semakin menentramkan hati. Padang Panjang dikenal dengan lahan pertaniannya yang subur. Selain letaknya yang berada di dataran tinggi, tanah vulkanik yang berasal dari gunung-gunung yang memagari wilayah ini membuat lahannya cocok untuk budidaya pertanian. Sebut saja, gunung Merapi, Singgalang, dan Tandikek, merupakan kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemakmuran penduduk di sekitarnya. Di sepanjang jalan banyak penduduk yang mengelola usaha pertanian organik, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Dan dari daerah inilah hampir sebagian besar kebutuhan sayuran masyarakat Sumatera Barat didatangkan.

Selanjutnya sepeda terus melaju menerobos jalan raya menuju Bukittinggi. Siangpun mulai tergelincir mengadu pada sore. Sepintas dari tepi jalan yang kulalui tercium aroma harum dan nikmat yang bersumber dari pembakaran di seberang jalan. Setelah kupahami, ternyata aroma itu berasal dari proses pembuatan makanan kuliner kue bika yang terkenal itu. Kue bika yang berasa manis tersebut berbahan dasar tepung beras yang ditambahkan parutan kelapa. Kue ini memang sering kujumpai di Padang, namun di sini bentuknya lebih besar dan sepertinya di sinilah awal dari kue bika itu berasal. Perjalanan pun terus berlanjut, tampak dari kejauhan lampu merah simpang empat Padang Luar menyala. Itu artinya semakin dekat lagi menuju kota Bukittinggi. (FAUZAN G. WARDHANA/Ketua MAPALA UNAND)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Padang Ekspres edisi Minggu 09-September-2007.

Selanjutnya: - Sepeda Jelajah Negeri (Episode 2/habis)

1 Comment »

  1. hanifputra says

    nice story , nice adventure..nice exploration…agiah taruiihh diaakk…

    October 9th, 2007 | #

Leave a comment

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

RSS feed for these comments. | TrackBack URI

Custom Search

Mitra MU

Logo
TANDDE.COM

Kategori

Recent Comments

© 2007 Official Site Mapala Unand