Kalender

December 2008
M T W T F S S
« Aug    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori

Free Web Hosting with Website Builder

Recent Comments

Pengalaman Siap Jatuh dan Terbanting

October 2nd, 2007

Wpe27145Sudah hampir 1 tahun saya berada di Gifu-Shi, Jepang untuk melanjutkan pendidikan di sini, tetapi baru sekarang bisa berbagi pengalaman dengan rekan-rekan sekalian. Adapun pengalaman yang ingin saya sampaikan adalah main ski ke Prefektur Nagano selama 4 hari, dari 4-7 Januari 2006. Tetapi main skinya sendiri hanya dua hari, yaitu 5 dan 6 Januari.
Gifu, 4 Januari 2006

Siang ini matahari bersinar dengan cerahnya, walaupun udara tetap saja dingin, maklum sekarang lagi musim dingin di Jepang. Namun seminggu belakangan ini Gifu tidak lagi diguyur salju, sehingga sebagian besar jalan sudah bisa dilalui kendaraan dengan aman tanpa takut tergelincir, walaupun di beberapa bagian masih banyak tumpukan salju (mungkin sama saja dengan di Indonesia, cuma bedanya di Indonesia yang ada tumpukan sampah, he he he).

Oya, Gifu terletak di tengah-tengah pulau Honshu pulau terbesar di Jepang pada daerah pegunungan dan merupakan daerah salju. Perjalanan ini dimulai dari Kampus Gifu University dengan menggunakan dua buah bus pariwisata yang besar. Program main ski ini diberikan kepada mahasiswa asing sekali tiap tahunnya dan kali ini diikuti 61 orang ryugakusei atau mahasiswa asing dan 7 orang panitia dari International Student Center Gifu University.

Jam menunjukkan pukul 01.45 waktu Jepang saat bus mulai berangkat meninggalkan kampus menuju lokasi main ski Kijidamaira di Nagano. Sepanjang jalan menuju lokasi ski terlihat salju tebal di mana-mana. Di kiri kanan jalan salju membukit setinggi 1 sampai 2 meter, dan di dalamnya terkubur mobil-mobil yang sedang parkir. Jadi kalau bukit salju itu dibongkar, maka akan ditemukan mobil di bawahnya.

Pukul 6.00 tak terasa kami telah mendekati daerah ski, sekarang hari sudah malam, karena di musim dingin matahari lebih cepat hilang, jam 5 udah maghrib di sini. Bus yang kami naiki berhenti dulu di sebuah perhentian di kaki bukit. Walaupun telah memakai ban salju, mereka harus menambahkan rantai pada ban belakang supaya bus tetap bisa melaju di jalan yang dipenuhi salju mendaki bukit ke tempat ski. Seperempat jam kemudian bus telah sampai di Kijidamaira, daerah tempat ski di Nagano.

Saya dan seorang teman dari Makasar beserta 6 orang lainnya, 2 dari Myanmar, 1 dari India, 1 dari Bangladesh dan 1 dari Ghana bergabung dalam 1 kamar. Kamar ini terdiri dari ruang tidur, ruang nonton TV atau keluarga dan toilet serta kamar mandi. Jadilah kamar yang luasnya tidak seberapa itu diisi oleh 8 orang, 2 orang kebagian di tempat tidur sedang yang lainnya gelar futon di ruang TV. Acara malam ini diisi dengan makan malam bersama di restauran hotel dan saling kenalan dengan sesama peserta ski. Dari jendela kamar terlihat salju turun dengan derasnya.  Nagano termasuk daerah yang curah saljunya paling tinggi.

Wpe271565 Januari 2006

Setelah sarapan pagi, kami semua berkumpul di lobi hotel. Panitia akan membagikan sepatu dan alat ski yang telah dicocokkan ukuran sebelumnya. Syukurlah semua peralatan ski dipinjamkan dari kampus, sehingga tidak perlu menyewa lagi di hotel.

Selanjutnya peserta menuju tempat main ski yang letaknya bersebelahan dengan hotel tempat kami menginap. Di sana telah menunggu beberapa orang guide dari penduduk setempat yang akan mengajarkan cara main ski, karena sebagian peserta baru pertama kali main ski.

Akhirnya kami dibagi dalam beberapa grup, saya termasuk dalam grup satu dengan guide seorang jepang yang telah tua, mungkin sekitar 60 tahun, tapi saya lihat dia sangat jago main skinya. Dari dia diketahui bahwa orang Jepang telah melatih anaknya main ski sejak kecil, umur 4 tahun udah lihai main skinya, oalah…

Pagi ini salju masih turun walaupun tidak begitu deras, saya yang pakai kaca mata agak kerepotan juga, karena salju selalu menempel di kaca mata sehingga menutup pandangan. Pelajaran pertama yang diberikan adalah cara memasang sepatu ski, yang setelah dipakai ternyata kita hanya dapat berjalan seperti robot karena pergelangan kaki tidak lagi bisa digerakkan, ternyata ini dirancang supaya pergelangan kaki tidak patah atau keseleo waktu main ski. 

Waktu pertama coba, berjalan waduh sulitnya bukan main, belum lagi sepatunya cukup berat juga dan harus menapak dengan tumit atau ujung sepatu kalau tidak pengen jatuh. Saya sempat jatuh waktu ngantri karcis naik lori, karena jalan seperti biasa.

Setelah sepatu terpasang, selanjutnya sepatu tersebut dikuncikan masing-masing ke sebilah papan ski. Papan ski bentuknya seperti pedang, terdiri dari dua bilah besi tipis yang panjangnya lebih kurang 1,5 meter, berbeda dengan snowboard. Snowboard berupa papan ski juga tetapi bentuknya seperti papan seluncur atau skate board. Akhirnya kita harus menjaga keseimbangan saat berdiri di atas papan ski ini dengan menggunakan tongkat ski. Bisa dibayangkan, berjalan menggunakan papan ski yang licin di atas es yang licin juga.

Setelah bisa menjaga keseimbangan, selanjutnya guide mengajak jalan ke tempat yang lebih tinggi, gaya jalan yang digunakan adalah menyamping dengan titik berat pada bilah ski bagian samping supaya tidak terpeleset. Selanjutnya diajarkan cara meluncur, cara melambatkan kecepatan dan cara berhenti. Setelah dicoba beberapakali akhirnya kita disuruh mempraktekkan di tempat ski yang sebenarnya.

Pertamakali melihat ke bawah, waduh kowai minta ampun, tinggi sekali mana curam lagi. Semua anggota kelompok disuruh untuk meluncur, saya mulai berfikir ini tidak mungkin dilakukan, cari penyakit nih, bisa patah-patah tulang nanti. Jadi saya lihat dulu teman-teman lain meluncur, bisa ditebak langsung jatuh berguling-guling.

Tapi belum sempat saya memutuskan untuk berbalik, sang guide ternyata telah menyuruh saya meluncur, walaupun udah bilang muri ngak mungkin tetap saja dia memaksa. Jadilah saya meluncur, saya coba arahkan menyerong dulu sehingga laju meluncur tidak terlalu cepat, tetapi tetap saja jatuh, baru 2 atau 3 detik meluncur langsung jatuh terbanting-banting, untung papan ski langsung lepas kalau tidak kaki bisa patah atau terkilir. Pernah saya jatuh tertelungkup di tempat salju yang agak tebal, kaki mengangkang dan papan ski tidak lepas, akibatnya saya ngak bisa menggerakkan badan, tertelungkup pasrah menunggu datang pertolongan seperti kura-kura kalau dibalikkan, bergerak sedikit saja kaki langsung sakit seperti mau terkilir.

Tempat meluncur ini adalah tempat meluncur yang paling bawah dengan kemiringan rata-rata sekitar 30 derajat dan jarak sekitar 1 KM, sedangkan di bagian atas ada beberapa tempat lagi dengan kemiringan yang sangat curam. Jadilah peluncuran pertama saya ini diiringi dengan jatuh terbanting-banting beberapakali menjelang sampai di bawah, selanjutnya kita naik lagi ke atas dengan menggunakan lori.

Pagi ini saya meluncur dua kali, dengan hasil yang tetap sama, yaitu terbanting, papan ski lepas, kupluk lepas dan kacamata berlepotan salju dan tentu saja dinginnya minta ampun.

Sehabis makan siang salju telah turun dengan derasnya. Siang ini saya hanya sempat meluncur sekali, karena setelah itu tidak bisa melihat lagi karena kaca mata tertutup salju dan batas pandanganpun cuma 20 meter. Jadi berbahaya sekali, saya pikir. Akhirnya beserta teman yang lain kami menuju kolam renang di hotel, berenang di air yang hangat. Malamnya diisi dengan party, karaoke dan main Bingo seperti main Kim di Sumbar.

6 Januari 2006

Pagi ini cuaca cukup cerah, sinar matahari masih bisa menembus hingga permukaan bumi. Hari ketiga di bumi per-ski-an he he he. Mudah-mudahan hari ini bisa meluncur lebih baik dari hari kemarin, begitu doa saya.

Karena pandangan yang leluasa ke daerah tempat meluncur dan juga melihat teman-teman lain yang juga sudah mulai bisa, maka dengan tekat yang kuat serta sedikit nekat saya pun siap untuk meluncur. Daerah start ini cukup curam juga, jadi pemula harus pasang posisi mengerem yaitu kedua ujung bilah ski disatukan sehingga berbentuk sudut dengan kaki dikangkangkan dan pinggir bilah ski bagian dalam ditekan kuat-kuat. Tapi apa daya, kaki ini tidak cukup kuat untuk bertahan dalam posisi ini, akibatnya pertahanan terbuka dan sayapun meluncur dengan cepat, bles bles blesss bruk…….

Akibatnya cukup mengerikan, saya terbanting dengan keras, berguling beberapakali, kaca mata lepas, kupluk lepas, papan skipun tercampak entah kemana dan akhirnya berhenti dalam posisi tertelentang. Leher terasa sakit, karena kepala tertarik ke belakang, untung tidak copot hah, bahupun begitu juga. Akhirnya saya didatangi guide, dia bertanya apakah saya baik-baik saja, daijobu…?

Karena merasa tidak ada yang patah, sayapun berdiri dan bilang oke, selanjutnya disuruh pasang papan ski lagi. Akhirnya, bisa juga meluncur dengan baik, tetapi yang sulit yaitu berhenti. Kita harus bisa mengerem kalau ngak akan nabrak atau supaya bisa berhenti terpaksa deh langsung jatuh saja. Yang paling berbahaya juga saat kita meluncur, orang lainnya juga berada di depan kita, sedang meluncur atau barusan berhenti, kita juga harus sigap untuk berbelok supaya tidak menabrak, belum lagi banyak anak kecil yang lagi belajar ski juga, waduh bahaya deh kalau nabrak, bisa dipulangkan ke Indonesia he he he.        

Menjelang makan siang sudah beberapa kali saya meluncur dengan tidak jatuh lagi, beberapa teman sudah ada yang mengajak untuk meluncur dari tempat yang lebih tinggi. Oke, saya bilang, habis makan siang kita lanjutkan.

Siang ini cuaca tetap cerah, bersahabat sekali. Setelah pemanasan di tempat meluncur yang rendah, selanjutnya kami naik ke level dua, kayak main game aja. Dari atas sini pemandangan lebih bagus lagi, tempat berhenti di bawah sana sangat jauh sekali dan saljunya juga keras sekali karena sudah menjadi es. Saya sempat juga membayangkan seandainya jatuh dari sini, minta ampun deh.        

Syukurlah peluncuran berjalan dengan mulus, saya sempat meluncur dua kali dari atas yang langsung disambung meluncur di level bawah, jauhnya sekitar 2 KM seluruhnya. Setelah bisa meluncur ini, kayaknya kita jadi ketagihan nih, ingin selalu mengulang lagi, sampai ditegur oleh guide, setelah ini berhenti ya karena waktunya udah habis. Tak terasa sudah hampir pukul 5, hampir malam.        

Setelah itu  diadakan acara perpisahan dengan semua guide karena besok pagi kami akan kembali ke Gifu lagi. Syukurlah semua rombongan ada baik-baik saja, walaupun beberapa orang berjalan agak tertatih-tatih sebab kaki sakit karena terjatuh. Namun ada juga yang berjalan seperti biasa karena memang tidak mau ikut main ski, kowai, jadi ke sini hanya jadi penonton saja.

7 Januari 2006

Pagi ini salju turun walaupun tidak begitu deras. Hari ini kami semua akan pulang ke Gifu, semua barang telah dimasukkan ke dalam bus. Para guide juga berkumpul di dekat bus menyampaikan selamat jalan kepada seluruh rombongan, saya juga ikut melambaikan tangan, mudah-mudahan tahun depan kami bisa main kesini lagi dan tentu saja harus siap kalau akan terbanting-banting lagi.

SAYONARA, sampai berjumpa di tahun depan. (***)

Laporan: Budhi Oktavia SSi MSi (MU 060 Ptr.), Research Student Gifu University

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

RSS feed for these comments. | TrackBack URI

Custom Search

Mitra MU

Logo
TANDDE.COM

Tamu Mapala Unand

© 2007 Official Site Mapala Unand