Pendakian Marapi dari Jalur Utara
GUNUNG Marapi merupakan salah satu tujuan para pendaki gunung di Indonesia. Gunung yang bersebelahan dengan Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek ini, biasanya dikunjungi para pendaki di hari-hari libur dan akhir minggu. Bukan hanya pendaki dari Sumbar saja yang tertarik untuk menikmati keindahan gunung ini, tidak sedikit pendaki dari luar pulau Sumatera bahkan dari mancanegara yang berhasil mencapai puncak gunung berketinggian 2891 Mdpl ini.
Saat ini tercatat 3 jalur pendakian menuju puncak Gunung Marapi. Jalur tersebut yaitu Kotobaru, Simabur dan Kacawali. Adapun jalur yang biasa digunakan para pendaki adalah dari Kotobaru (sisi Barat) karena jalur ini yang paling “mudah” dan jelas untuk digunakan bahkan oleh pendaki awam sekalipun. Sedangkan jalur Simabur, biasanya digunakan para pendaki yang telah bosan melewati jalur Kotobaru dan ingin mencoba tantangan baru dan suasana alam yang berbeda. Jalur terakhir yang bisa digunakan para pendaki yaitu jalur Kacawali (sisi Utara Merapi) yang telah berhasil dibuka tim dari MAPALA UNAND pada tahun 2003 lalu.
Sebagaimana kebanyakan jalur-jalur pendakian gunung di dunia, jalur Utara ini merupakan jalur terberat dari beberapa jalur menuju puncak Marapi. Selain jalur yang masih benar-benar baru, untuk mencapai puncak, pendaki harus melewati tebing-tebing terjal yang kemiringannya mencapai 75 derajat. Jadi untuk melewati jalur ini diharapkan seorang pendaki telah memiliki pengalaman dan daya tahan fisik yang prima. Ditambah lagi keadaan cuaca yang ekstrim, dalam hitungan menit saja cuaca yang cerah bisa berubah menjadi kabut dan badai. Namun perjuangan berat untuk mencapai puncak ini, akan teratasi dengan indahnya pemandangan alam.
Sebelum mencapai puncak, kita akan dapat menemukan pemandangan berupa tiga buah air terjun yang memiliki ketinggian mencapai 250 m. Panorama alam dan tumbuh-tumbuhan yang masih benar-benar alami juga akan mengiringi perjalanan kita meuju puncak. Keindahan alam ini terus berlanjut pada saat kita mencapai puncak tringualasi Gunung Marapi. Dari puncak tertinggi ini, kita akan dapat melihat pemandangan puncak Marapi secara keseluruhan. Puncak Merpati, Kawah Tua, Telaga Pelangi, Lembah Hantu, Kayu Mati, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek bahkan Danau Singkarak dapat dilihat dari sini (Allah Maha Besar!). Dari beberapa jalur pendakian menuju puncak Marapi, pemandangan terindah hanya dapat kita temui dari puncak Triangulasi Gunung Marapi ini.
Menuju Puncak dengan Persahabatan
Tanggal 24 - 26 Oktober 2004 lalu, tiga organisasi pecinta alam dari tiga provinsi di Sumatera, mengadakan pendakian bersama melalui jalur utara Marapi. Ketiga organisasi tersebut yaitu Mapala LEUSER UNSYIAH (Reja ‘Mbek’), IMPALA Medan (Linglung, Indra, Apra) dan MAPALA UNAND (Mardi Rosa, iMed, Iswandi) bertindak sebagai guide. Adapun jalur sisi utara ini merupakan jalur yang dirintis tim MAPALA UNAND pada Agustus 2003 lalu. Ekspedisi pembukaan jalur yang memakan waktu 9 hari ini, telah sukses membuka jalur pendakian baru dari Desa Kacawali, Kecamatan Candung menuju titik Triangulasi bahkan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan jalur dari titik triangulasi menuju Kawah Marapi. Sehingga ketiga jalur pendakian yang ada di Gunung Merapi saat ini sudah saling berhubungan.
Hari pertama pendakian, karena sudah memasuki malam hari, tim hanya bergerak menuju pintu rimba dan beristirahat di pondok petani. Besoknya barulah tim bergerak menuju puncak Marapi dengan berpedoman pada tanda jalur berupa string lane (tali plastik yang diikatkan di pohon) dan “bacok tiga”. Menurut informasi dari penduduk, jalur tersebut telah digunakan penduduk sekitar untuk berburu rusa. Bahkan telah ada pendaki dari daerah sekitar kaki Marapi yang mencoba jalur ini. Karenanya pendakian yang dilakukan tidak terlalu mengalami kesulitan karena bekas jalan masih terlihat jelas. Jam 14.00 WIB pergerakan dihentikan dan tim mendirikan camp di dekat air terjun.
Hari ketiga, tim melanjutkan pergerakan menuju puncak. Berdasarkan hasil briefing sebelumnya, maka pendakian menggunakan sistem Base Camp. Jadi tim bergerak menuju puncak dengan meninggalkan camp. Perlengkapan yang dibawa hanya veldples dan daypack untuk mengambil air. Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang paling melelahkan. Kondisi medan yang benar-benar terjal (mencapai 75°) membuat tim sedikit lambat untuk mencapai puncak. Ketahanan fisik dan kehati-hatian sangat diperlukan agar tidak sampai tergelincir dan jatuh.
Tepat jam 16.10 WIB, akhirnya tim berhasil mencapai puncak triangulasi Marapi. Namun sayangnya kondisi cuaca yang berkabut menyebabkan kami tidak dapat menikmati pemandangan dari puncak tertinggi Gunung Marapi tersebut. Hanya rasa puas karena berhasil mencapai puncak tertinggi sajalah yang telah membantu mempertahankan semangat anggota tim.
Kami tidak berlama-lama berada di puncak, hari yang semakin senja dan keadaan cuaca yang dingin menusuk, menyebabkan kami harus segera bergerak turun menuju camp. Jam 16.30 WIB kami segera bergerak turun dan meuju sumber air untuk mengisi veldples. Pergerakan menuju camp tidak memakan waktu lama. Setelah dua jam perjalanan, pada pukul 18.35 WIB kami berhasil mencapai lokasi camp dengan senyum kemenangan.
Memasuki hari keempat, tim bersiap-siap untuk kembali ke Padang. Namun sebelumnya tiga orang anggota tim (Mardi Rosa, Mbek, dan Iswandi) kembali naik menuju puncak Marapi. Perjalanan kali ini bertujuan untuk mengambil dokumentasi yang kemarin tidak bisa didapat karena cuaca berkabut menghalangi penglihatan. Ketiganya berangkat pukul 07.00 WIB dan mencapai puncak pada pukul 11.30 WIB. Setelah menunggu beberapa jam, ternyata cuaca tetap berkabut. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergerak turun menuju camp. Sementara itu, anggota tim yang tinggal di camp telah mem-packing perlengkapan tim dan perlengkapan pribadi masing-masing.
Pukul 14.30 WIB, ketiga orang yang naik ke puncak telah kembali di lokasi camp dan segera bersiap-siap turun ke pintu rimba. Pukul 15.10 WIB, tim segera bergerak turun. Pergerakan kali ini tidak terburu-buru, rasa lelah dan haus karena berpuasa membuat kami bergerak santai. Pukul 18.15 WIB, kami sampai di pintu rimba dan segera menuju ke desa Kacawali tempat kendaraan yang akan mengantar kami ke Kota Padang menunggu.
Akhirnya pukul 22.10 WIB kami sampai di kantor MAPALA UNAND. Walaupun semuanya tampak kelelahan, namun terlihat perasaan puas di wajah masing-masing anggota tim. Kami telah berhasil mencapai puncak triangulasi Gunung Marapi dengan kerjasama tim yang kompak dan tentu saja semuanya telah mempererat rasa persahabatan dan persaudaraan di antara kami. (MU 160 Cps.)


