MENJELAJAHI PERADABAN NEGERI BRITAIN (Bagian 1)
Catatan Perjalanan Fauzan Gusti Wardhana (MU 169 Wsl.), Salah Seorang Anggota Penuh MAPALA UNAND yang mengikuti Pertukaran Pemuda ke Inggris

Bilamana Saya Bisa Melihat Lebih Jauh, Itu Karena Saya Berdiri di Atas Bahu Orang-Orang Besar……..(Sir Isaac Newton)
Menyambut summer tahun ini, Oxford kembali hangat, bergairah, kembali berbunga dengan rupa-rupa warna yang bermekaran dengan intensitas cahaya matahari yang berlimpah. Tatanan kota yang rapi dan bersih, dipadati oleh pejalan kaki dan pengguna sepeda, menampilkan keunikan tersendiri, menciptakan? warnanya? sendiri. Oxford adalah representasi dari kota pelajar yang berkelas dunia. Kota ini merupakan negeri impian bagi pelajar dan makhluk kutu buku yang berorientasi pada kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan peradaban dunia untuk menggali hikmah, memecahkan hipotesa. Satu dari sepuluh universitas terbaik di dunia ada di sini, The University of Oxford, yang terbukti telah mencetak banyak para pembesar dunia dan manusia-manusia hebat yang membawa perubahan di zamannya. Mulai dari penemu mikroskop sekreatif Robert Hooke, perdana mentri, presiden, penjelajah bumi, sastrawan, hingga aktor komedi kawakan sekaliber Rowan ?Mr. Bean? Atkitson, pernah membekali diri, menggantungkan harapan dan merajut mimpi-mimpinya di kampus ini, di langit-langit Oxford, dengan ditopang oleh ?pilar-pilar kokoh? dari mahligai ilmu dan pelita masa depan yang terbentang luas di dalamnya.
Hari ini segenap suka cita dan rupa-rupa pengharapan melimpah ruah ke jalanan, di sela-sela kesibukan, di pelesiran akhir pekan, dengan beragam pertunjukan street performance berkelas digelar di lapangan terbuka, di sudut-sudut kota Oxford yang sedang bersuka cita menyambut pergantian musim, peralihan tepatnya, menuju summer. Adalah juga sebuah keberuntungan bagiku untuk bisa kembali merasakan hangatnya mentari, setelah sebulan lebih tubuhku dibaluti pakaian tebal dan berlapis lantaran karena suhu dingin di negeri empat musim yang kisarannya bisa mendekati angka 1 ?C. Perbedaan geografis yang tajam membuat mekanisme alamiah perlindungan tubuhku secara fisiologis belum terbiasa dan pastinya sangat asing terasa berhadapan dengan temperatur ekstrem ini. Begitu kontras berbeda dengan dinginnya kampung halamanku di negeri timur sana, Padang, Indonesia.
Oxford selalu lekat dengan tradisi dan budayanya yang kental. Kejayaan masa lampau, dengan luapan kemegahan dan keagungan The British Empire tertuang di dalamnya. Di sini banyak ditemui bangunan tua yang berumur hingga ratusan hingga ribuan tahun silam yang masih terjaga dan dirawat dengan telaten. Masa-masa dimana kekuatan Britain?s Empire mulai memberikan pengaruh, menebarkan kekuasaan hingga pada akhirnya menguasai hampir separoh dari batas-batas wilayah di permukaan bumi ini melekat erat di ruas-ruas banggunannya, terpahat indah pada ralief-relief patung-patung berseni tinggi. Penjelajahan dan ekspansi wilayah merupakan karakter kuat yang dibangun oleh budaya masa lampau negeri Britain untuk memakmurkan kerajaan ini yang kini lebih dikenal dengan nama United Kingdom.
Negeri empat musim yang memiliki negara persemakmuran terbanyak dengan berbahasa pengantar paling populer di dunia. Begitu banyak penemuan-penemuan dan ketakjuban peradaban modern tercipta di sini. Dengan karakternya yang khas itulah hingga sekarang kerajaan ini masih terlihat elegan dengan aura kebesaran masa lampau menyertai di belakangnya.
Memasuki jalan-jalan kecil di untuk mengeksplorasi Oxford lebih jauh belumlah lengkap tanpa menulusuri labirin kampus The University of Oxford, yang membuat Oxford begitu fenomenal dan mendunia. The University of Oxford terdiri dari beberapa college. Semua college tersebut memiliki nama tersendiri, disiplin ilmu tersendiri, namun masih berada di dalam bendera besar perlambang integrasi, The University of Oxford tadi, yang telah memulai kegiatan belajar mengajarnya sejak tahun 1249 M. Secara keseluruhan terdapat 36 College yang bernaung di langit-langit Oxford. Dan kesemuanya itu, mengandung kesamaan bentuk, kesamaan struktur bangunan, meski beda dalam konsentrasi studi. Memasuki pelataran ruas jalan menuju kampus ini akan membawa kita pada ketakjuban individu yang begitu berkesan.
Di sini, kampusnya persis terkotak-kotak seperti segi empat dengan papan namanya masing-masing. Bila dilihat dari atas (foto udara) persis seperti suatu rantai melingkar yang tertutup dengan pelataran jalan yang datar. Labirin jalannya bisa terhubung antara satu jalan dengan jalan yang lain Dan lagi sebuah kontradiksi pun terjadi di sini, di saat kemajuan teknologi Inggris mampu menyulap semua mekanisme menjadi serba berbau digital, namun bila berpadu dengan karya seni ratusan hingga ribuan tahun yang lampau, sungguh memberikan kekuatan kharisma yang unik, eksotis, tapi modern. Di Catte street misalnya, ada sebuah bangunan gothic berkubah besar yang menjadi ikon dari kampus Oxford, Radclife Camera-yang sepintas seperti bangunan kubah mesjid di Indonesia- di bangun pada abad ke-13 namun begitu anggun berdiri dengan rumput hijau yang menyejukan mata terbentang indah di depannya, di sana bisa ditemukan koleksi peninggalan antar peradaban, lintas generasi. Serta tentu ruangan di dalamnya terawat dengan mekanis kontrol suhu dan kelembaban ruangan yang terkomputerisasi dengan baik.
Tradisi bersepeda merupakan daya tarik kuat yang menjadikan Oxford tampak begitu bersahabat. Tidak terlalu larut dengan kebisingan dan hingar-bingar kendaraan serta polusi bawaannya. Sepintas tampak serasa seperti di Jogja, berselera klasik. Itulah sebabnya banyak pelajar mahasiswa senang nongkrong dan menghabiskan jam istirahat di alun-alun kota, di bawah pilar-pilar bangunan yang kokoh sambil memangku buku bacaan dan kertas coretan di sebelahnya. Mereka sepertinya tampak begitu menikmati suasana kondusif untuk lingkungan belajar, berdiskusi, dengan bentangan langit cerah di atasnya, melintasi celah-celah peradaban yang terselip di kepingan dinding bangunannya, juga sambil mendapatkan inspirasi dari goresan sejarah kesuksesan peradaban manusia di dalamnya. Di sini komposisi mahasiswanya sangat beragam, lintas negara, lintas benua. Sehingga seakan terlihat seperti replika kecil dari penduduk dunia, begitu majemuk, mulai dari bentuk rambut, warna kulit, ukuran rahang, hingga ragam bahasa yang berbaur antara satu dengan yang lainnya. Sistem liberal yang dianut dalam segala peraturan di Inggris memang mengizinkan segala bentuk rupa-rupa perbedaan itu mampu beradapatasi dengan baik.
Sejenak akupun mencoba merasakan nikmatnya duduk di bawah pilar-pilar besar dimana banyak ditemui orang-orang duduk di lantainya yang berjenjang-jenjang, di pilar bangunan Bodleian Library- salah satu perpustakaan tertua di belahan Eropa- dimana banyak karya-karya ilmiah dari ilmuan termasyhur yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan terabadikan dengan rapi di sini, seperti manuskrip teori relativitas Einstein misalnya. Dan ternyata benar, pelataran ini sangat cocok dan paling digemari oleh pelajar ataupun pejalan kaki yang lewat untuk berhenti sebentar sambil menikmati keindahan kota dengan pemandangan terbuka dan kemudahan akses untuk berpergian kemanapun. Sambil menikmati penantian senja, kubuka lembaran kecil catatan perjalananku. Kucoba sebisa mungkin merangkai kata untuk melukiskan tekstur dan kemegahan dari sejarah peradaban medieval di Eropa Barat, di langit-langit Oxford ini. Baris demi baris kata mengalir dengan lancar seakan menumpahkan semua memori di kepalaku tentang perjalanan panjang yang mengantarkanku sampai di Oxford ini. Sesaat aku terbawa oleh lamunan. Suasana seakan hening, tatapanku terpaku pada pilar-pilar kokoh bangunan pustaka ini. Bagaimana mungkin peradaban masa lalu bisa menciptakan karya agung dan merefleksikannya lewat dinding serta masih bisa digunakan oleh ratusan atau bahkan ribuan tahun setelahnya? Seakan tak percaya, aku kembali memperhatikan dinding dan pilar itu secara seksama dan kembali berkontemplasi. Seakan dinding-dinding bangunannya ikut bersaksi dan bercerita padaku tentang dinamika peradaban masa lampau dan dedikasi orang-orang terdahulu. Bangunan ini adalah karya agung hasil kerja keras yang cerdas dan menggambarkan akan semangat, dedikasi jiwa, serta efisiensi tata ruang, sehingga membuat orang teringat selalu dengan sejarahnya. Ya, sejarah ternyata bukan hanya rentetan peristiwa yang berisi tanggal-tanggal penting tentang suatu kejadian hebat yang perlu diperingati, namun lebih dari itu, sejarah memberikan kebijaksanaan akan pilihan hidup dan membuat manusia-manusia yang hidup setelah itu belajar banyak dari pengalaman hidup manusia masa lalu. Bukankah manusia yang bijak adalah manusia yang bisa belajar dari pengalaman? Demikian kiranya pemikiran futuristik dari arsitektur bangunan di kampus tua ini.
Langit senja di Oxford semakin menawan seiring dengan semakin rendahnya sinar mentari yang menyusupi lorong-lorong kota Oxford. Aku masih terduduk diam di penantian senja itu dengan sebuah pena dan buku kecil yang masih berada dipelukan jari-jemari tanganku. Kini putaran waktu telah membawaku jauh melayang dari kampung halamanku-Padang Kota Tercinta- dan melemparkanku di lorong-lorong kota di belahan Eropa Barat yang dulunya hanya kukenal lewat pelajaran IPS kelas enam sekolah dasar. Secara pasti putaran itu terus bergerak maju dan tak kuasa kuhentikan. Bilamana masa satu detik itu adalah durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol Kelvin, di balik hitungan bilangan rumit itu, maka tentunya aku juga tidak bisa berspekulasi kehidupan seperti ke depan dari peradaban yang aku hidup di dalamnya ini. Karena kesetaraan getaran itu hanyalah suatu standar ukuran untuk menunjukan bilangan waktu tanpa bisa memprediksi dimensi ruang yang akan terjadi. Satu hal yang kutahu sifat independent variable dari waktu -yang tidak akan pernah kembali ini- adalah di bulan yang lalu aku duduk-duduk sambil mereguk secangkir kopi kental khas berselera Padang di pelataran parkir gedung PKM kampus Unand Limau Manis, bercengkrama dengan teman-temanku, juga sambil menikmati senja dan menatapi gedung-gedung megahnya. Dan kini, aku duduk di suatu senja yang lain, melintasi miliyaran getaran cesium-133, di ruang yang berbeda, melintasi dua samudera, di peradaban Britain, di langit-langit Oxford, dan juga tentunya mempunyai dimensi ruang yang sama sekali beda. Kejadian-kejadian masa lalu yang kuanggap biasa-biasa saja ternyata berdampak besar bagi kehidupanku selanjutnya. Rutinitas di ruang kuliah, dari seminar ke seminar, bernegosiasi dari kantor ke kantor, serta petualangan bersama MAPALA UNAND secara tanpa kusadari simultan juga telah ikut merajut masa depan di getaran cesium -133 berikutnya.
Waktu ternyata hanya memberi sebuah ?kesempatan? terhadap elemen apapun yang memakainya. Semua kita punya kesempatan itu. Adapun mengenai produk dari pemanfaatan kesempatan (waktu) tadi cenderung relative. Orang bisa miskin hari ini dan menjadi kaya hari esok juga tergantung perlakuan apa yang diberikan terhadap kesempatan itu. Di Oxford, ribuan kesempatan telah membuka peluang bagi manusia-manusia di dalamnya untuk merubah warna dunia, begitu jauh meninggalkan peradaban medieval, melintasi komunikasi verbal hingga menyentuh teknologi digital. Mereka menciptakan peradabannya sendiri, menciptakan ?warnanya? sendiri.

