Tanpa Vaksinasi, Mereka Dilepas ke Aceh
SETELAH selama seminggu mengalami penundaan, para relawan kota Padang yang dikoordinir Mapala Unand akhirnya diberangkatkan juga ke Aceh dengan daerah tujuan Meulaboh dan pulau Simeuleu. Mereka dilepas Gubernur Sumbar, H Zainal Bakar SH, Jumat (7/1).
Para relawan itu akan diangkut dengan KRI Teluk Peleng 535 bersama-sama dengan barang bantuan yang berhasil dihimpun dari masyarakat Sumbar. Rencananya, kapal yang dikapteni Mayor (Laut) Heru Suprapto itu akan mengangkat sauh dan bertolak hari Minggu (9/1) mendatang.
Sayangnya, dari 75 relawan yang semula telah oke untuk diberangkatkan akhirnya berkurang menjadi 64 orang setelah 11 lainnya mengalami sakit dan berhalangan karena masalah lainnya. Meski begitu, para relawan yang tersisa tetap optimis akan mampu bekerja sama dalam menunaikan tugas kemanusiaan tersebut.
Dan informasi terakhir yang diterima, 4 lagi anggota relawan dinyatakan tidak lolos litsus (penelitian khusus) yang dilakukan Lanal Teluk Bayur. Karena mereka tidak mengikuti litsus tersebut. Yang lebih mengejutkan dari, data yang berhasil dihimpun koran ini, hingga kemarin para relawan ini belum mendapat vaksinisasi dari Dinas Kesehatan Kota Padang (DKK). Ditenggarai stok vaksin itu sendiri yang tidak ada di DKK, khususnya vaksin anti kolera.
Pelepasan bantuan dan relawan yang dipusatkan di Terminal Penumpang Nan Tongga Teluk Bayur tampak dipenuhi para pegawai di lingkungan Pemprov Sumbar dan Pemko Padang, pihak kepolisian serta TNI. Selain gubernur, hadir Walikota Padang Drs H Fauzi Bahar MSi, Danlanal Teluk Bayur, Kolonel Laut (E) Ir Munizar Munaf MT, Kapoltebes Padang, Dandim 0312 Padang, Irwan, Kapoltabes Padang, Kombespol Mustafa Harikuncoro.
Dalam acara pelepasan relawan dan bantuan tersebut, Gubernur Sumbar H Zainal Bakar SH menyebutkan ini adalah kali kedua pihaknya melepas secara resmi relawan dan bantuan kemanusiaan tersebut. Untuk kali ini, jumlah bantuan yang akan dibawa ke Aceh tersebut berjumlah 8.676 karung dan 6.800 kardus pakaian layak pakai, 1.774 karton mie instant, 5.674 karton air minum dalam kemasan, 7 karton susu, obat-obatan dan 10 unit speed boat.
Gubernur Sumbar menyampaikan, musibah gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan Nias (Sumut) telah membangunkan semangat dan solidaritas kemanusiaan yang amat tinggi. Bukan saja dari dalam tapi juga dari luar negeri.
Wujud dari solidaritas tersebut kata Zainal Bakar, pihak dalam dan luar negeri memberikan bantuan moril dan materil. Bantuan materil berupa uang, obat-obatan, makanan, pakaian serta selimut. Selain itu katanya, para relawan terhimpun dengan cepat.
“Sumatera Barat juga menyikapi kondisi itu dengan serius. Semua daerah melakukan penghimpunan dana dan mengirim relawan, seperti yang dilakukan Kota Padang,” tuturnya. Bantuan yang dikirim merupakan bukti nyata dari masyarakat Sumbar dan Padang khususnya. Selain perngiriman ini (lewat KRI, red), juga telah ada yang melakukan pengiriman bantuan materil dan relawan lewat jalan darat, tutur Zainal Bakar.
Selain itu, untuk dalam daerah sendiri, juga dilakukan berbagai kebijakan, seperti penyiapan empat rumah sakit besar di Padang, meliputi RS M Djamil, RS Reksodiworyo, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan rumah sakit Yos Sudarso. Rumah sakit tersebut disiagakan untuk memberikan pertolongan dengan segera terhadap korban yang dibawa dari daerah terkena bencana di Aceh.
Sementara untuk membantu mereka yang tekah kehilangan keluarga, terutama bagi anak-anak, pelajar dan mahasiswa diupayakan warga masyarakat untuk menampung mereka sebagai orang tua asuh. Meski demikian, gubernur masih mengharapkan bantuan yang maksimal dari masyarakat Sumbar dalam bentuk lain, karena provinasi Naggro Aceh Darussalam (NAD) serta Nias (Sumut) memerlukan bantuan untuk pembangunan infra strukturnya yang porak poranda. (max/rpg)
Berita ini pernah dimuat di Koran Pagi POSMETRO PADANG edisi Sabtu, 8 Januari 2005


