Mapala Unand Jadi Instruktur Navigasi Darat Pada Jambore Daerah 2007
SALAH satu cara untuk meningkatkan skill dan kemampuan lapangan generasi muda yang tergabung dalam kegiatan kepramukaan, diadakanlah pelatihan Navigasi Darat (ND). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Jambore Daerah 2007 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Padang Besi tanggal 21-24 Oktober 2007 ini. Khusus untuk materi ND, dilaksanakan pada hari Senin-Selasa (22-23/10) kemarin dengan diikuti oleh lebih kurang 140 orang peserta.
Pantauan di lapangan, para peserta ini terlihat sangat antusias mendengarkan materi yang diberikan instruktur. Panitia sengaja mendatangkan langsung pemateri dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Andalas (Mapala Unand) yang sehari-harinya memang bergelut dengan aktifitas kegiatan alam bebas.
Berdasarkan keterangan yang didapat dari salah seorang intruktur, Fadli Dharma Putra, materi yang diberikan selain teori juga simulasi langsung di lapangan. “Ilmu Navigasi Darat kalau cuma berupa teori akan sulit untuk dicerna. Makanya kita berikan juga simulasinya di sini. Medan yang adapun sangat cocok untuk bermain navigasi karena daerah ini merupakan perbukitan yang konturnya dapat terlihat jelas di peta,” terangnya.
Menurut fadli, ilmu Navigasi Darat sangat diperlukan seorang yang beraktifitas di alam bebas agar tidak sampai kehilangan arah (tersesat). “Kegiatan lapangan itu sangat rentan tersesat. Apalagi kalau kita menjelajahi daerah baru yang belum pernah ditempuh orang lain sebelumnya. Tapi dengan bekal pengetahuan navigasi dan perlengkapannya, Insya Allah resiko itu dapat diminimalisir,” ujarnya.
Navigasi Darat adalah ilmu pengetahuan untuk menentukan posisi dan arah lintasan berdasarkan peta dan kondisi medan yang ada. Untuk itu, setiap Navigator (orang yang melakukan Navigasi) harus melengkapi dirinya dengan Peta Topografi, Kompas Prisma dan Protactor. Sebagaimana dijelaskan instruktur lainnya, Sartika “Peta yang digunakan adalah Peta Topografi yang dilengkapi dengan garis-garis yang menunjukkan ketinggian suatu tempat. Kemudian Kompas Prisma untuk menentukan sudut bidikan dan Protactor,” jelasnya.
Salah satu tehnik navigasi yang disimulasikan yaitu Resection. Peserta dibagi dalam beberapa tim, kemudian dengan perlengkapan yang ada mereka diminta menentukan koordinat dimana mereka berada. Dalam kegiatan ini, kemampuan untuk membaca peta dan orientasi medan sangat diperlukan. Mereka harus bisa menentukan dua titik bidikan yang ada di peta dan ditemui di lapangan. Kemudian kedua titik inilah yang dijadikan panduan untuk menentukan dimana posisi mereka di peta.
“Secara umum, kami tidak kesulitan memberikan materi kepada adik-adik Pramuka Penggalang ini. Selain bersemangat, pemahaman mereka juga lumayan terhadap materi yang kami berikan. Buktinya walaupun baru disimulasikan, koordinat yang mereka dapatkan tidak melenceng jauh dari yang sebenarnya. Kedepannya, agar lebih difahami, materi ini memang harus sering-sering diulang dan dipraktekkan,” tukas Sartika. (Ahmad Medapri/ MU 160 Cps.)
