Kisah Relawan MU di Daerah Gempa
DI tengah tragisnya bencana akibat gempa yang melanda Pulau Sumatera pada Rabu (12/9) dan Kamis (13/9) lalu, ternyata masih ada orang-orang yang dengan tulus ikhlas terjun langsung ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan. Tanpa mengharapkan pamrih apapun, mereka bekerja keras sekedar bisa sedikit meringankan derita korban. Tidak bisa membantu secara materi, sumbangan tenaga dan motivasi cukuplah dijadikan wujud rasa cinta terhadap sesama manusia.
Inilah yang dilakukan oleh relawan-relawan dari berbagai instansi/organisasi maupun secara individu. Tanpa adanya paksaan dari siapapun, mereka dengan tulus ikhlas menyisihkan waktu, tenaga dan pikiran mereka untuk sedikit meringankan derita korban bencana. Begitu juga yang dilakukan ZUlfahmi (26), anggota Mapala Unand yang merupakan mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Bersama beberapa orang relawan lain, dia mendirikan Posko Tanggap Darurat di dekat Kantor Camat Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan. Saat ditanya kenapa dia mau berangkat, dengan bersemangat dia menceritakan alasannya menjadi relawan. “Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka (korban-red). Kalau memberikan uang, saya bukan orang kaya,” paparnya saat ditemui POSMETRO di Poskonya beberapa waktu yang lalu.
Menurut pengakuannya, sejak dulu dia memang tidak tahan untuk berdiam diri apabila melihat korban-korban bencana yang berada di pengungsian. Karenanya, apabila terjadi bencana, dia akan berusaha sedapat mungkin membantu dengan cara apapun. Sebelum ini, dia juga pernah terlibat aktif sebagai relawan pada saat terjadi tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang lalu. Begitu juga ketika gempa melanda Sumatera Barat bulan Maret 2007 lalu.
Tentunya kehidupan sebagai relawan tidaklah mudah. Banyak persoalan yang harus dihadapinya di tengah situasi sulit daerah pasca bencana. “Saya pernah tidak mandi-mandi sampai seminggu karena daerah tersebut kesulitan air. Pernah juga diancam tentara karena dikira anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka) pada saat jadi relawan di Aceh dulu,” jelas pria yang pernah dua kali mendaki puncak Carstenzs Pyramid di Papua ini.
Namun, masih menurutnya, di situlah nikmatnya pengalaman menjadi relawan. Berbagai hal bisa terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmahnya. “Yang penting, kita harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Jangan sok-sok hebat atau bersikap sombong,” tambahnya sambil tersenyum.
Sehari-hari, relawan-relawan yang berada di Posko Unand ini melakukan berbagai kegiatan dari pagi sampai sore bahkan terkadang sampai malam hari. Mulai dari mendistribusikan bantuan ke daerah-daerah pelosok, mendata kebutuhan korban, sampai ikut membantu membersihkan puing-puing bangunan rumah penduduk dilakoni oleh mereka. Tentunya hal ini tidak akan mampu dilakukan apabila tidak mempunyai kekuatan fisik dan mental yang baik untuk berada di daerah bencana. (ahmad medapri)


