Kalender

September 2010
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tamu Mapala Unand

Kategori

Recent Comments

Mu On Twitter

...Selamat datang di MAPALA UNAND dot COM, Sumber Informasi Lengkap Kegiatan Kepecinta-alaman. Silakan Bookmark Laman ini, Terima Kasih...

Siaga SAR Merapi 2009

September 1st, 2009

“Foto formal… foto formal…” seru kami serempak setelah berfoto dengan berbagai gaya di depan kantor MAPALA UNAND. Setelah berfoto, kami dilepas oleh Ketua MAPALA UNAND, Fadli Dharma Putra (MU 175 Srk.) dan beberapa personil lainnya untuk keberangkatan sebagai tim Siaga SAR Merapi pada tanggal 15-18 Agustus 2009. Dengan menyewa sebuah angkot hijau di sekitar kampus, kami diantar sampai Minang plaza untuk melanjutkan perjalanan dengan bus tujuan Simabua. Setelah menurunkan semua carrier, kami dihampiri seorang kenek bus tujuan Batusangkar yang menawarkan kami untuk naik busnya. Setelah bernegosiasi cukup panjang, kata sepakat pun keluar. Rencana kami untuk sampai di lokasi tepat waktu gagal, karena bus yang terlalu lama menunggu penumpang penuh. Kami baru sampai di lokasi pada saat adzan Ashar. Padahal seharusnya kami telah memulai pendakian setelah Zhuhur.

“Darimana, nak? Berapa orang?”

Begitulah pertanyaan  yang sama yang selalu kami jumpai bila berpapasan dengan masyarakat setempat di Desa Simabua, Desa yang menjadi start awal Pendakian Jalur Sisi Selatan Gunung Merapi ini. “Dari Padang, Pak… Sembilan orang…” tak bosan-bosannya kami berupaya menjawab setenang dan sesabar mungkin. Belum lagi beberapa tetua setempat yang memberi berbagai macam wejangan, yang nyuruh baca surat Yaasin lah, berdo’a bersama lah, dan lain sebagainya. Kami hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mengerti.

Kami tidak ingin terlalu lama berbasa basi, selain karena kami cukup terlambat sampai di lokasi, juga karena waktu sudah beranjak sore. Setelah berpamitan pada masyarakat setempat, kamipun memulai perjalanan. Anggota tim terdiri dari 4 orang Anggota Penuh MAPALA UNAND, 1 orang anggota tanpa register (ATR) dan 4 orang anggota muda (AM). Dengan semangat yang tinggi, kami mengawali perjalanan dengan melewati medan yang relatif landai. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di pintu rimba. Kamipun berfoto sejenak dan kembali melanjutkan perjalanan. Memasuki pintu rimba, kami mulai dihadapkan dengan kenyataan lapangan. Pacet yang berpesta menyambut kedatangan kami mulai merayap satu persatu di sapatu tracking yang kami kenakan. AM putri yang belum terbiasa dengan pacet ada yang berteriak-teriak minta pacetnya disingkirkan. Tidak ada dari kami yang bersedia sebab mereka harus bisa membiasakan diri, karena semakin memasuki rimba pacetnya akan semakin banyak.

Perjalanan dilanjutkan. Semakin jauh ke dalam rimba, medan yang kami lalui mulai bervariasi. Ada yang landai, ada juga yang lumayan menanjak. Keganasan pacet semakin terlihat, karena kondisi tanah yang lembab saat diguyur hujan sebelum kedatangan kami. Rencana awal untuk camp di “Tungku Tigo” diurungkan, karena waktu sudah menunjukkan pukul lima, dan tidak memungkinkan untuk mengejar target (tungku tigo). Akhirnya kami memutuskan untuk camp di ladang pacet, kami sebut ladang pacet karena dilokasi camp tersebut banyak sekali pacet menari-nari. AM yang tadinya geli dengan pacet sudah mulai terbiasa menyingkirkannya sendiri. Pekerjaan timpun terpecah, ada yang mendirikan tenda, memasak makanan, membuat api, dan ada juga yang mencari koordinat lokasi camp. Tak terasa malam turun begitu cepat. Usai makan malam, kegiatan dilanjutkan dengan briefing dan rencana pergerakan hari berikutnya. Malam penuh bintang yang terasa semakin dingin membuat kami ingin segera memejamkan mata, namun cukup rugi jika kami hanya langsung tidur.

Keesokan harinya, setelah MCK, sarapan, dan packing perlengkapan, kami mulai stretching untuk menghindari cedera di lapangan. Setelah beberapa personil selesai orientasi medan (ormed), perjalanan kembali kami lanjutkan. Di sepanjang perjalanan, tim sudah mulai melihat peta untuk mencari dan menghitung kontur yang sudah dan akan dilewati. Kami tetap semangat melanjutkan perjalanan menuju Tungku Tigo. Kami berhenti di sebuah tempat yang lumayan luas untukbelajar navigasi dan menentukan koordinat. Setelah mendapatkan koordinat, perjalanan kembali kami lanjutkan. Kami sampai di Tungku Tigo sekitar pukul 12.00 wib. Veldples yang kosong kembali diisi. Kami dikagetkan dengan teriakan dan tawa beberapa personil ke arah salah satu AM putri yang diserang gigitan pacet terbanyak. Onggokan pacet di kaos kakinya menarik salah satu personil untuk mengambil gambar onggokan pacet yang hampir menyerupai bunga mekar itu. Hiiyy…!!

Disana, kami terjebak hujan beberapa saat. Setelah hujan mulai reda, kami kembali memulai perjalanan. Tidak berapa lama, pacet mulai berkurang, karena kami mulai mendekati puncak. Kali ini medan yang dilalui penuh tanjakan. Apalagi setelah melewati tumbuhan tinggi yang rapat. Beberapa jam kemudian, di sebelah kiri jalan, kami mulai menemui beberapa vegetasi bunga edelweiss. Semangat kami semakin memuncak saat edelweiss yang ditemui makin banyak. Ini tanda kalau kami hampir mencapai taman edelweiss yang akan jadi tempat camp kami. AM yang baru pertama kali melakukan pendakian dan melewati jalur Simabua dibuat terkagum-kagum dengan keindahan yang disuguhkan Gunung Merapi ini. “Cool…!!”, “Allahuakbar..!!”, dan berbagai seruan kagum bergantian keluar dari mulut mereka. Kabut yang menyelimuti tidak mengurangi keindahan alamnya sedikitpun. Dikelilingi dengan keindahan yang begitu alami membuat kami candu untuk berfoto-foto. Apalagi saat matahari muncul malu-malu di balik awan tebal yang putih, tak ketinggalan kami ambil fotonya. Menakjubkan!!! Sungguh makin terasa kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa dari ketinggian ini. Kami beristirahat di area kecil yang cukup untuk jumlah kami. Di tengah rasa lelah yang hampir luruh, kami dikagetkan dengan guncangan yang cukup membuat kami gemetaran. Sontak kami berpikir guncangan ini adalah gempa vulkanik. Kami menenangkan diri sambil mencari informasi mengenai pusat gempa dengan menghubungi beberapa personil MAPALA UNAND. Beruntung, sinyal handphone beberapa personil mendapatkan sinyal. Dari informasi yang kami dapat waktu itu, gempa yang membuat kami gemetar ini ternyata berpusat di Kepulauan Mentawai dengan kekuatan 6,9SR. Setelah keadaan kembali normal, kamipun kembali melanjutkan perjalanan.

Rasa lelah berganti kembali dengan semangat untuk melanjutkan pendakian mencapai taman edelweiss. Medan yang menanjak tidak begitu sulit untuk dilewati,  karena jalan yang menyerupai lubang tangga. Di tengah pendakian kami menemukan pohon arbei. Kami berpacu-pacu memetik buahnya dan memakannya di sepanjang perjalanan. Ada juga buah yang berbentuk putik buah jambu, jika dimakan terasa manis dan sejuk, tapi setelah ditelan berasa balsem, serta buah-buahan lainnya yang baru kami jumpai. Tak terasa, akhirnya kami sampai di taman edelweiss. Sungguh mengagumkan. Sejauh mata memandang, hanya edelweiss yang terlihat. Sangat indah… Ditambah lagi dengan kokohnya puncak merpati yang terlihat dari tempat kami berdiri.

Sampai di lokasi camp, kami kembali melakukan tugas masing-masing. Hingga kedatangan malampun tak terasa. Setelah makan malam siap disantap, kami menyantapnya di dalam tenda dome. Makan malampun usai dan berlanjut dengan briefing kegiatan kami selama satu hari ini. Setelah briefing, kami merencanakan pergerakan selanjutnya dengan membagi tim SAR menjadi 2 tim. Setelah menyepakati anggota tim masing-masing, kamipun mangakhiri briefing dan beranjak ke dunia mimpi. Malam yang dingin dan badai yang lumayan kuat begitu memanjakan mata kami untuk terpejam nyenyak.

Pagi tanggal 17 Agustus, sunrise yang sangat indah menuntun kami untuk segera bangun. Tim pertama bersiap-siap berangkat untuk upacara bendera di lapangan bola dan siaga SAR di area yang rawan terjadi kecelakaan, sedangkan tim kedua tetap stand by di tenda. Sekitar pukul 12.00 wib, akhirnya tim pertama kembali dengan sedikit kecewa karena pengunjung gunung merapi yang sangat minim, dan upacara 17-an tidak dilaksanakan. Setelah makan siang, giliran tim kedua yang melakukan siaga SAR dan tim pertama stand-by tenda. Menurut tim SAR yang ditemui di puncak, pendaki yang sampai di puncak tidak begitu banyak, sebab sebagian besar pendaki mengurungkan niatnya untuk mencapai puncak karena gempa yang mengguncang tanggal 16 Agustus 2009, sehingga mereka lebih memilih camp di Pesanggrahan. Informasi ini dirasa cukup dan siaga SAR pun selesai setelah waktu beranjak sore, tim kembali berkumpul dan mempersiapkan makam malam di lokasi camp. Suasana makan malam kali ini terasa hangat, sehingga badai yang menghadangpun tak begitu kami hiraukan. Seperti malam-malam sebelumnya, setelah selesai menyantap makan malam, kegiatan dilanjutkan dengan briefing kegiatan. Usai briefing kami bercerita-cerita bersama sambil makan biskuit dan menyeduh kopi panas ala MAPALA UNAND. Walaupun langit malam bertabur bintang, tapi badai tetap setia menggoyang-goyangkan pancang tenda kami. Setelah cerita usai, kami kembali sibuk mempersiapkan perlengkapan tidur dan beranjak ke dunia mimpi.

Pagi dengan kabut yang sangat pekat pada keesokan harinya membuat kami malas untuk keluar dari tenda. Yang bertugas memasak sarapan terdengar mulai menyiapkan menu untuk pagi ini. Denting-denting trangia terdengar lantang di tengah heningnya suasana pagi. Setelah sarapan, kami mulai mem-packing semua perlengkapan untuk mempersiapkan diri turun melewati jalur Koto Baru. Jam 11 pagi ini masih berasa jam 6 pagi, saking tebalnya kabut yang menyelimuti ruang gerak kami, batas pandangan hanya sampai radius lima meter. Saat matahari muncul, setengah jam kemudian, kami berangkat turun setelah berfoto bersama. Perjalanan pulang kami ditemani oleh badai yang menghembus dan meremangkan sekujur bulu roma kami. Jalur puncak yang didominasi oleh kerikil-kerikil tajam yang labil membuat beberapa personil terjatuh. Namun semua itu tidak mengurangi semangat kami untuk kembali ke kantor MAPALA UNAND tercinta. Saat beristirahat sejenak, kami menyegarkan mata dengan suguhan pemandangan indah yang terbentuk dari petakan sawah dan susunan rumah penduduk. Formasi alam yang begitu tertata dengan apik dan terstruktur. Perjalanan dilanjutkan dengan cepat didukung oleh medan yang menurun, sehingga bisa turun lebih cepat. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan anak Mapala dari Medan, Mapagratwa. Setelah perkenalan dan ramah tamah, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di ketinggian +1750 mdpl untuk makan siang sejenak. Perjalanan berlanjut. Saat melewati jalan beton yang dekat dengan ladang penduduk, kami menumpangi mobil pick up penduduk sampai di gerbang. Setelah membersihkan diri di Mesjid Simpang Pasar Koto Baru, kamipun menunggu travel yang akan membawa kami ke Padang. Setelah mendapatkan travel, kamipun kembali ke Padang. Sebenarnya begitu berat meninggalkan keindahan pesona Gunung Merapi ini, namun tugas kami sudah usai, sehingga harus kembali ke kantor MAPALA UNAND. Dan semoga Siaga SAR kali ini dapat menjadi ajang pembelajaran bagi kami. Amin… elin.

3 Comments »

  1. caca says

    mantap…

    September 8th, 2009 | #

  2. RobD says

    I don’t usually reply to posts but I will in this case, great info…I will add a backlink and bookmark your site. Keep up the good work! :)

    October 6th, 2009 | #

  3. Bill Bartmann says

    Hey, I read a lot of blogs on a daily basis and for the most part, people lack substance but, I just wanted to make a quick comment to say GREAT blog!…..I”ll be checking in on a regularly now….Keep up the good work! :)

    October 9th, 2009 | #

Leave a comment

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

RSS feed for these comments. | TrackBack URI

MITRA MU

TANNDE.COM

Cari Duit Disini

Adsense Indonesia


MU On Facebook

Statistik



free web hostingHosting24.com web hosting

© 2007 Official Site Mapala Unand  


MAPALA UNAND :Sayap Kiri Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Lt.II Kampus Unand Limau Manis Padang-Sumatera Barat. Telp. (0751)7877087