Malam itu kami berangkat ke Tarusan dengan menggunakan hartop milik Mas Boy. Perjalanan kami kali ini sungguh terasa beda dengan perjalanan lainnya, sebab pada perjalanan kali ini kepastian keberangkatan cuma beberapa jam sebelum keberangkatan walaupun rencana keberangkatan sudah beberapa hari sebelumnya.
Sore sebelum keberangkatan, Mamak datang ke kantor MAPALA UNAND dengan gebetannya (Caca) menanyakan tentang rencana tahun baruan. Sekilas saja Ari menjawab ‘ngarung setahun’ disela-sela boulderan yang ditemani oleh Eni, Miko dan Friski. Mendengar jawaban tersebut, Mamak langsung menanggapi dan menghubungi Mas Boy dan personil lainnya. Setelah dapat kepastian keberangkatan, Heru MS datang menanyakan rencana ngarung yang sebelumnya sudah direncanakan namun mendapat tanggapan yang kurang dari personil lainnya.
Sore itu makin gelap, personil yang berniat ikut pun sangat minim, waktu itu personil yang stand-by berangkat hanya Mamak, Heru MS, Ari dan Miko. Tak lama kemudian, Mas Boy datang dengan hartopnya yang dipakai untuk operasional pengarungan beserta istri tercintanya. Setelah dihubungi, ternyata Adi sudah berada di Pasar Baru menuju ke kantor MAPALA UNAND dan juga berminat untuk ikut pengarungan.
Tim pun cukup untuk pengarungan. Kepastian berangkat pun makin mantap. Setelah perlengkapan disiapkan, ternyata trangia masih kurang, Tika pun dihubungi. Setelah bernegosiasi cukup lama dengan Heru MS, Tika ikut pengarungan dan Uti pun datang lengkap dengan perlengkapan pribadinya.
Perjalanan dari kantor MAPALA UNAND pun dimulai. Sebelum sampai di gerbang kampus UNAND, Mas Boy menyapa Isan yang sedang menaiki motornya dan Isan pun tertarik ikut pengarungan bersama kami.
Malam itu jalanan sangat sesak, tidak kalah dengan sesaknya hartop Mas Boy yang kami tumpangi. Terang saja, malam itu merupakam malam pergantian tahun yang seperti biasanya masyarakat turun ke jalan untuk merayakan malam pergantian tahun. Ditengah perjalanan, hujan pun turun, namun suasana dalam hartop Mas Boy tetap saja hangat, sebab sepanjang perjalanan kami hanya bercanda tawa, ditambah lagi dengan adanya terompet yang dibawa oleh Mamak dan Caca.
Malam itu kami camp sudah larut sekali, tapi detik-detik pergantian tahun masih belum terlewatkan. Setelah selesai makan tengah malam dengan mie rebus ditambah nasi dan sayur buatan istri Mas Boy dan teh hangat atau kopi pahit ala MAPALA UNAND rasanya sudah klop jika kami istirahat untuk mempersiapkan stamina pengarungan esok hari.
Pagi hari kami dibangunkan oleh tetesan hujan yang merembes kedalam tenda high peak dari sela-sela jahitannya. Sebelum kami sarapan, pengarungan pertama sudah lebih dulu kami cicipi ditengah derasnya arus sungai batang tarusan. Tim pertama yang turun adalah Heru MS, Mamak, Adi, Caca, Uti, Isan dan Alang yang merupakan anak dari kakanda Andry Bachtiar yang merupakan anggota MAPALA UNAND dengan no. Register MU 019 Krn., satu nomor dibawah no. Om Bes.
Pengarungan pertama menyisakan luka pada tulang kering Adi kiting yang jatuh saat perahu avatar biru menghantam batu. Namun dari cerita tim pertama yang mengarung, mereka sangat puas dengan pengarungan tersebut dan membuat tim lain yang tertinggal makin penasaran.
Saat tim pengarungan pertama dievakuasi ke tempat camp, Mas Boy yang sedang mengendarai hartopnya disapa oleh Da Jun yang telah biasa melakukan pengarungan bersama kami jika kami ke tarusan, dan Mas Boy mengajak Da Jun untuk ikut serta pada pengarungan berikutnya.
Setelah sampai di camp, ternyata Miko telah menyiapkan sarapan setelah pengarungan pertama, yaitu kacang padi ditambah segelas kopi khas MAPALA UNAND, kami pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera menghabiskan sarapan dan melanjutkan pengarungan selanjutnya. Disaat kami menyantap sarapan, Yuni, Caca Amran dan Rosa datang dengan sepeda motornya. Dari pakaian yang dikenakan, terlihat kalau mereka kehujanan dijalan.
Pengarungan keduapun dimulai. Kali ini tim yang turun adalah Ari, Miko, Mas Boy, Yuni, Tika, teman wanita Isan dan Da Jun yang menjadi kapten (panggilan MAPALA UNAND). Pada pengarungan kedua, laju perahu lebih lambat, sebab Da Jun lebih sering menginstruksikan stop kepada seluruh awak dan untuk membelokkan perahu Da Jun lebih sering memanfaatkan momentum perahu. Ditengah pengarungan kedua, hujan pun turun. Air Batang Tarusan mulai keruh, apalagi setelah kami mencapai pertemuan anak sungai. Walaupun hujan makin lebat, jeram goodbye tetap asik untuk diarungi.
Setelah pengarungan pertama, jam makan siang pun tiba, dan kami makan siang dengan lauk buatan istri Mas Boy dan lauk yang dibawa Uti saat kembali dari kampung. Saat makan siang, tim ragu untuk melakukan pengarungan selanjutnya, sebab warna air yang biasanya jernih menjadi sangat keruh. Hal ini membuat nyali sebagian tim ciut untuk pengarungan berikutnya. Akhirnya setelah briefing singkat saat makan siang usai, diputuskan untuk tetap melakukan pengarungan dengan komposisi tim Heru MS, Adi, Isan, Caca Amran, Rosa dan Mamak beserta pacarnya.
Sementara tim melakukan pengarungan, yang lain mem-packing perlengkapan untuk bersiap-siap pulang karena tidak memungkinkan lagi untuk melakukan pengarungan selanjutnya. Setelah tim siap mem-packing perlengkapan, sebagian telah menunggu di tempat finish biasanya (setelah jeram good bye), namun Mas Boy menunggu di jembatan dengan hartopnya karena air makin deras dan sangat berbahaya jika tim tersebut tetap melakukan pengarungan hingga jeram good bye.
Setelah selesai bersih-bersih dan bersiap-siap untuk pulang, tim pun berangkat ke Padang dengan perasaan sedikit kecewa karena pengarungan hanya bisa dilakukan sebanyak tiga kali. Walaupun demikian, Batang Barusan akan tetap kami datangi untuk pengarungan selanjutnya dilain waktu. 194


hahaha…
badabok jantuang ko…
cameh… ndak nio mati di aia karuah doh…
pengalaman tahun baru yg tak terlupakan…
peace…
lestariiiiiiiii…….
bg padli bisa minta no Fax
atau e-mail ni da undangan dari km Persatuan Mahasiswa Cinta Alam STMIK PU ( PasCAL_PU) ni kejuaraan panjat tebing se-Sumatera