Kalender

July 2009
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tamu Mapala Unand

Kategori

Recent Comments

MENJEMPUT MU DI SINGGALANG - TANDIKEK (Pelantikan Croll.)

July 4th, 2008

PAGI YANG MENGHEBOHKAN

Croll MAPALA UNAND“Taaaaak…. Tolong aduk sambal dong……”

“Is, sepatu Diex mana? Liat ga?”

“Reni mana sih?”

“Kamu mau kemana Gif?”

“Mana pulsa abis lagi. Jemput Reni dong, Di…”

“Kamu udah siap semua Ri?”

“Tom, punya plastik packing lebih ga?”

Suasana pagi itu benar-benar tak seperti biasanya. Dimana hiruk pikuk sudah menyambut pagi di kantor MAPALA UNAND. Hiruk-pikuk ini terjadi lantaran Anggota Tanpa Register MAPALA UNAND 2008 akan melakukan perjalanan untuk pelantikan anggota penuh.

“Ri, anterin tempat bang Yudi dong, Gif mau minjam carrier.”

“Ajak Adi deh, aku lagi ngaduk sambal nih. Masa jam segini baru nyari perlengkapan sih? Niat pergi pelantikan ga sih?” Jawab Ari sambil masang muka masam.

“Ya, deh,”Akhirnya Gif ngalah.

Dalam kesibukan masing-masing ternyata ada informasi dari pengiring, bahwa setiap anggota tanpa register yang akan melakukan perjalanan harus berkumpul pukul 8 WIB. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 7.30 pukul.

“Kamu udah siap Tom?” tanya Ari kepada Tomi yang sudah mulai terlihat santai

“Siapin aja punya kamu…” jawab Tomi dengan seenaknya. “Eh, Reni sama Gif mana? Kok aku ga liat?” tanya Tomi kembali.

“Reni ga tau kemana, tapi kalo Gif sih katanya pergi tempat bang Yudi. Tadi aku nyuruh Gif minta anterin sama adi” Jawab Ari

Tidak lama berselang, Adi pun datang dengan wajah yang tak karuan. Dan langsung menanyakan kesiapan teman-temannya.

“Nah kalo Gif mana?” tanya Adi.

“Lho, bukannya sama kamu? Tadi kan katanya mau ke tempat bang Yudi buat minjam perlengkapan?” Adi jadi bingung dan langsung pergi ke ruang mushalla untuk mempacking perlengkapan.

Tiba-tiba terdengar suara dari ruang tamu, udah pukul 8 kurang dikit nih, bawa carrier kebawah yuk.

Sip… jawab teman-teman yang lain, yang juga tidak tampak asalnya.

Setiba di depan wall climbing, pengiring telah siap dengan atribut MU lengkap dengan baju kemeja yang telah lusuh.

“Bagus….. kalian terlambat 5 menit. Mana kawan kalian yang lain? Hanya lima orang yang akan ikut pelantikan?” Tanya pengiring dengan muka sadis.

Kami hanya terdiam, sehingga diberi tindakan perbaikan push up sebanyak 5 seri untuk membayar kesalahan yang telah kami lakukan.

“Sekarang kalian catat koordinat,” Pengiring menyebutkan titik koordinat yang akan kami tuju.

“Silakan kalian cari petanya, kalian copy dan serahkan list perlengkapan kalian paling lambat pukul 9 WIB. Dan kami menunggu kalian semua di koordinat kedua besok tepat pada pukul 11 siang,” Tegas pengiring.

Kami hanya diam sambil mendengar semua pengarahan yang diberikan oleh pengiring.

Setelah hampir pukul 9 WIB, Reni datang membawa perlengkapannya dengan wajah polosnya sambil tersenyum kepada teman-teman yang lain. “Teman-teman……. Maaf ya aku terlambat. Makasih ya, kalian udah nunggu aku… cuma aku kan yang belum siap?” tanya Reni.

“Ya,ya,ya,… cepat deh packing semua perlengkapan kamu,”Jawab teman-teman yang lain.

Tidak lama kemudian disusul oleh Gif dengan wajah yang lebih bertanggung jawab dibandingkan dengan wajah Reni.

PERSIAPAN
“Adi, sudah hampir jam 9 nih,” Terdengar percakapan Adi dengan pengiring. “Ya bang, ngumpulnya dimana bang?” Tanya Adi. “Siapkan saja teman-teman kamu di ruang pendidikan,!”

“Sipp… bang. Jawab Adi dengan lantang,”

Tidak lama kemudian seluruh anggota tanpa register berkumpul di ruang pendidikan.

“Reni, Gif. Tau kesalahan kalian?” tanya pengiring.

“Tau bang, sahut mereka dengan cemas.”

“Reni, kenapa kamu terlambat?”

Reni pun menjelaskan dengan lancar alasan keterlambatannya.

“Kalo kamu Gif?” tanya pengiring kepada Gif

Gif diam sejenak, dan menjelaskan penyebab keterlambatannya.

“Bagus, kalian menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Saya bisa pahami. Tadi kawan kalian telah membayar 5 seri atas kesalahan kalian. Bagaimana dengan kalian?” tanya pengiring.

“Kami juga mau membayar bang.” Jawab Reni dan Gif dengan tampang memelas.

“Bagus, kalian mau menerima kesalahan kalian. Berapa seri kalian mau membayarnya?”

“Tujuh seri. “Jawab Gif dan Reni sermpak. Namun dengan suara yang parau.

“Apa? Tiga? Enak sekali kalian. Itu namanya makan tulang kawan.” sahut pengiring.

“Kenapa bang? Rasanya kan udah pantas kalo kami dapat tujuh seri.” Jawab Reni dengan suara garang.

“Oohh… tujuh. Saya kira kalian mau tiga seri. Kalo begitu, silakan kalian turun. Yang lain tolong awasi. Awas kalo ada yang curang kalian semua ga jadi pelantikan.” Respon pengiring.

“Oh ya, checklist perlengkapan kalian mana? tadi perjanjiannya pukul 9 WIB sudah ada ditangan saya.”

“Itu bang, diatas meja ruang tamu.” Jawab Adi dengan berani.

“Tadi saya kan sudah bilang kalo pukul 9 WIB sudah ada di tangan saya. Bukan di atas meja, tapi ga papa lah.”

Adi langsung mengambil checklist perlengkapan yang terletak diatas meja tamu dan langsung memberikannya kepada pengiring. Setelah perlengkapan di check. Pengiring memberikan surat tugas dan mengucapkan selamat jalan…..

AWAL KEBERANGKATAN

Setelah kami siap untuk berangkat, ternyata spritus untuk bahan bakan kompor trangia kami belum dibeli. Kami merencanakan untuk membeli di Pasar Raya. Setiba di Pasar Raya, tim membagi menjadi tiga tim. Ada yang membeli spritus, menjaga perlengkapan dan mencari mobil. Setelah tim selesai membeli bahan baker. Mereka langsung menuju tempat perhentian mobil yang akan mengantar kami. Setelah sampai, ternyata mobil yang telah dimintai adalah antar jemput dan harga sewanya juga mahal. Sehingga, kami terpaksa mencari mobil lain yang lebih murah. Setelah menunggu sekian lama hingga mobil penuh, kami langsung berangkat dengan semangat yang menggebu-gebu menuju Koto Baru yang sedikit gerimis. Sesampainya di Koto Baru, kami mencari mobil lain untuk mengantar kami menuju Ladang Tebu untuk menghemat waktu perjalanan kami. Setelah mencapai Ladang Tebu ±15 menit perjalanan dengan mobil sewaan, kami memulai perjalanan menuju puncak gunung Singgalang yang pada saat itu tertutup awan.

PETUALANGAN DIMULAI

Gerimis yang sudah mulai menghilang dari hadapan kami akhirnya berganti dengan cerah yang yang sewakan-akan memberi semangat kepada kami untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti ketika kami beristirahat untuk mengisi seluruh veldples di sebuah mushala yang masih terletak dikawasan ladang tebu penduduk. Dimana, pada saat berhenti tersebut kami mulai enggan untuk melanjutkan perjalanan karena terbuai dengan sejuknya udara pegunungan yang kami hirup. Ditambah lagi dengan rasa penat yang telah mulai menyerang kami.

“Ri, masih lama ga sih kami nunggunya?” tanya salah seorang dari tim pendakian kami.

“Tunggu aja. Awas, jangan ada yang ngintip. Ntar tambah lama lho.” sahut Ari dari balik papan yang disusun sedemikian rupa sehingga para penduduk yang biasa beristirahat sehabis berladang biasa menggunakannya sebagai tempat buang air.

“Ya, deh… Tapi jangan lama kali…” Jawab yang lain.

Setelah semua anggota tim selesai beristirahat dan shalat, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara Diex “Ayo semuanya…., ayo kita lanjutkan perjalanan. Jangan sampai kita jalan malam”.

“Sip…!” jawab yang lain dengan suara yang lantang. Seolah-olah rasa penat belum sedikitpun hinggap ditubuh kami.

“Dengar dari yang lain, disini ada jalan pintasnya. Kemana nih jalannya?” tanya Gif penasaran

“Kesini,” tunjuk Adi kebelakang mushala tempat kami beristirahat.

“Ga salah tuh? bukannya itu ke ladang orang?” tanya Diex seakan tidak percaya dengan Adi.

“Beneran yang itu ri,” lanjut reni.

“Bener kok,” jawab Ari dengan bijak.

Kami mulai berkonsentrasi dengan jalan yang licin karena baru saja disirami hujan yang mengharuskan kami untuk berhati-hati. Hingga akhirnya kami menemui jalan batu yang dengan aspal yang sudah mulai hancur karena tidak pernah diperbaiki. Di jalan aspal ini kami mulai berpacu-pacu untuk mencapai tower RCTI dan TVRI yang merupakan pintu memasuki rimba gunung Singgalang. Pada saat kami berpacu-pacu. Reni, Diex, Tomi dan Gif telah mendahului yang lain. ternyata mereka tidak mengetahui jalan pintas selanjutnya untuk mencapai tower. sehingga Adi, Ari dan Iis lebih dulu sampai di posko polisi yang sudah lama tidak terpakai yang terletak dekat dengan tower.

“Ah, curang!!” Diex sewot karena tidak diberi tau jalan pintas.

“Salah ndiri, sapa suruh kalian duluan. Kaya yang udah pengalaman aja kesini,” tukas Iis.

“Yee….. ” Gif menjulurkan lidahnya kearah Iis.

“Makanya, sering-sering dong pergi sama kami,” Jawab Iis sembil mengejek Gif.

“Sombong kau anak muda,” Adi mulai memanaskan suasana yang sudah mulai beku akibat udara yang sudah mulai dingin.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan diiringi dengan canda-tawa yang tak pernah putus hingga mencapai tower. Sesampai di tower, kami mulai melepaskan carrier yang tingginya hampir sama dengan tinggi kami untuk melepaskan penat. Suasana makin panas ketika Ari membuka pembicaraan.

“Perjalanan ini dilanjutkan sekarang atau besok pagi?” tanya Ari

“Besok pagi aja,” kata Reni, sebab hari sudah mendung lagi dan jam sudah menunjukkan untuk kita mulai mendirikan tempat camp.

“Lanjutin sekarang aja, Sebab kalo kita camp disini, besok kita harus start sebelum subuh. Sedangkan dari pengalaman sebelumnya, yang cowok paling ga bisa bangun pagi. Apa lagi subuh-subuh,” jawab Gif.

“Gimana Is?” tanya Reni

“Terserah, aku ngikut aja” jawab Iis.

“Bang Adi?” tanya Reni

“Sekarang aja, benar kata Gif tadi,” Jawab Adi.

“Ya udah, klo gitu kita jalan sekarang aja,” Ajak Tomi.

“Tunggu dulu lah… Habisin ini dulu,” sanggah Adi sambil mengangkat rokok yang baru saja dihisapnya dalam-dalam.

Akhirnya kami memulai perjalanan kembali setelah tertunda beberapa saat. Awalnya kami memulai perjalanan bersama-sama hingga pertengahan menuju shelter I. Di pertengahan perjalanan tim mulai terpecah. Akhirnya kami masuk shelter I pada saat hari sudah mulai gelap. Di shelter I, kami langsung melakukan pekerjaan masing-masing. Reni, Diex, Adi, Tomi dan Ari memasang tenda dan menghidupkan api tanpa diperintah walapun api susah dihidupkan di shelter I ini. Sedangkan Iis dan Gif sibuk menyajikan makanan untuk disantap oleh tim pada saat malam hari.

“Gimana sih Ri? Apinya ga mau idup? Itu aja kok ga bisa?” tanya Adi sambil mencemooh

“Coba aja kalo bisa, nih,” Gerutu Ari sambil menyerahkan korek kepada Adi.

“Oya, rokok tadi mana?” tambah Ari kepada Adi.

“Cari ndiri, tu di daypack,” Seraya meniup onggokan kayu, Adi menunjuk daypacknya.

“Tuh kan, ga bisa. Nih, bakar dulu. Pasti apinya idup,” Sapa Ari sambil menyuguhkan rokok.

“Oh iya, kok ga dari tadi sih nyuguhin rokok?” sela Adi sambil merampas rokok dari tangan Ari.

“Bagi dong rokoknya…” ternyata Tomi ga mau ketinggalan untuk menikmati rokok dikala senja semakin menghilang.

“Taaaaakkkkk…… korek tadi mana? Pinjam dong, apinya mati nih. Nteng, spritus tadi di taruh dimana?” teriak Iis. sambil memegang centing trangia.

Malam semakin larut hingga akhirnya terdengar teriakan “yang tau-yang tau”, dari tempat Iis masak.

“Sudah masak ya, Is?” tanya Reni.

“Udah, tapi belum dibagi nih,”

Porsi double ya Is….” teriak Adi yang masih berusaha menghidupkan api.

“Udah, kalo ga bisa kan ga papa…. makan dulu,” sahut Tomi dengan bijak

“Ide bagus tuh,” jawab Adi.

“Eh, ini makan malam apa makan siang ya?” tanya Ari mencairkan suasana.

“Makan malam plus makan siang dong, Makanya tadi aku minta double,”

Malam itu kami habiskan dengan canda tawa serta mengingat perjalanan kami dari masa PDM (Pendidikan Dasar MAPALA UNAND) hingga mencapai proses pelantikan. Tentang penyesalan kami mengenai teman-teman PDM yang mengundurkan diri, Sambil memindahkan perlengkapan agar tidak terkena hujan yang makin deras. Dilanjtukan dengan pembicaraan mengenai pergerakan esok hari.

PAGI ITU DINGIN

“Bangun…… Bangun…..” Terdengar dari dalam tenda cowok suara yang membisingkan dan menakutkan. Karna biasanya paling susah bangun pagi, apalagi kalo dingin.

“Bentar lagi…” sahut Ari sambil melanjutkan tidur.

“Ga bisa, Pokoknya harus bangun dulu……” lanjut Reni

“Ya deh,” Jawab penghuni tenda cowok….

Pagi itu kami bangun dengan tertatih-tatih berharap cuaca akan mendukung perjalanan kami. Di pagi yang tidak begitu cerah itu, kami memulai aktivitas dengan sarapan dan mempacking semua perlengkapan serta melakukan streching agar tidak membuat tubuh kami cedera saat melakukan aktivitas selanjutnya. Setelah melakukan persiapan, kami langsung berangkat dengan semangat karena cuaca sudah mulai mendukung. Hingga pertengahan perjalanan, tim kami terpecah. Ada yang berjalan lebih dulu dan ada yang berjalan dibelakang. waktu terus berjalan, kami harus berpacu dengan waktu agar check poin yang berada di gunung Singgalang dapat kami capai sebelum batas waktu yang diberikan. saat tim terakhir mencapai kaki cadas, tim yang pertama sudah mencapai pinggang cadas yang jaraknya sekitar 50-70 meter.

“Ayo, cepat semuanya. Kita sudah hampir sampai, hari sudah mulai gelap nih,” Terdengar suara cewek yang tetap bersemangat.

“Ya…. duluan aja. Aku ngambil nafas dulu…” Teriak Ari

Saat semua tim sudah mencapai pertengahan cadas, badai langsung menyambut kami dengan ganasnya. Hujan beserta petir seakan menyuruh kami untuk menghentikan perjalanan. Namun, dengan semangat yang besar kami berhasil mencapai check point tersebut tidak lama setelah batas waktu yang diberikan oleh pengiring. Sesampai di pinggir Telaga Dewi, kami langsung mendirikan tempat beteduh dengan fly sheet sembari menunggu pengiring datang untuk memberikan perintah selanjutnya. Setelah beberapa teguk teh hangat kami minum, terdengar teriakan seseorang dari hutan lumut yang merupakan vegetasi khas gunung yang lembab. dan kami pun menjawabnya dengan lantang karena kami yakin bahwa suara tersebut memang suara dari pengiring. Setelah pengiring datang, kami disuruh untuk langsung mendirikan tenda karna cuaca tidak mendukung untuk melanjutkan perjalanan.

SORE YANG MENAKJUBKAN

Sambil menahan dinginnya udara di Telaga Dewi. Kami mendirikan tenda, memasak untuk makan siang dan membersihkan badan dengan air telaga yang dinginnya seakan merontokkan seluruh rambut yang menempel di tubuh kami. Setelah membersihkan badan sangat cocok jika dilanjutkan dengan tidur berselimutkan sleeping bag yang memang telah kami persiapkan tiap kami melakukan perjalanan kelapangan. namun pada siang yang dingin itu mata kami tidak bisa terpejam sebelum perut kami yang telah kerocongan ini diisi. Karena waktu telah menunjukkan jam makan siang. Akhirnya terdengar teriakan “yang tau-yang tau” yang memang sudah menjadi tradisi di MAPALA UNAND untuk memanggil personil untuk makan. Perut yang telah keroncongan seakan berhenti setelah mendengar teriakan itu. Makan siang kami dibumbui dengan suasana yang begitu akrab diselingi dengan canda tawa yang membuat tubuh menjadi hangat. Sehingga dapat menghilangkan rasa dingin yang sudah menyerang tubuh dari awal kedatangan kami di Telaga Dewi. Ditambah lagi dengan segelas minuman hangat yang begitu nikmatnya.

Selesai makan, sebagian dari kami ada yang langsung beristirahat dalam tenda dan ada yang menikmati indahnya pemandangan Telaga Dewi yang samara-samar ditutupi oleh kabut.

Hujan pun reda. Matahari mulai mengintip keluar dari balik kabut yang tebal.

“Masa sih, jauh-jauh dari Padang cuma buat tidur dalam tenda…?” terdengar suara Gif dan Iis bergantian. Dilanjutkan dengan teriakan teriakan yang memberi semangat untuk tidak hanya berdiam diri dalam tenda.

“Masih hujan ga sih?” tanya Ari dari dalam tenda.

“Hujannya udah lewat dari tadi,” Sahut Iis

“Beneran nih?” tanya Adi sembari keluar bangkit dari sleeping bag nya.

Tomi yang mendengar pun langsung keluar tenda sambil berteriak kegirangan menyaksikan pemandangan yang luar biasa tersebut dan memasak teh dengan trangia kecilnya.

Adi dan Ari pun tidak mau ketinggalan untuk menikmati teh hangat yang dimasak Tomi. Tim lengkap tujuh orang ditambah seorang pengiring yang tidak mau ketinggalan menikmati pemandangan Telaga Dewi tersebut. Hingga akhirnya, terdengar suara teriakan dari balik hutan lumut. Ternyata seorang pengiring yang menunggu hujan reda menyusul kami dari pinggang gunung Singgalang.

Sore itu kami habiskan dengan mendokumentasikan kegiatan kami di camp Telaga Dewi.

Malam hari pun tiba. Kami memulai persiapan untuk malam hari. Dimulai dengan menyiapkan makan malam hingga briefing kami dalam tenda cowok menghasilkan keputusan untuk melanjutkan perjalanan esok hari pada pukul 8 WIB. Setelah kami membangunkan pengiring yang sudah mulai berada dalam sleeping bagnya, kami mendapat perintah agar mencapai check point selanjutnya di puncak gunung Tandikek sebelum malam datang. Kami pun optimis setelah pengiring memberikan informasi kalau perjalanan ke puncak Tandikek dapat ditempuh cukup dengan beberapa jam. Saja dan pengiringpun menyarankan untuk mulai berjalan pada pukul 8 WIB. Setelah mendapat informasi dari pengiring, kami mendiskusikan informasi tersebut kepada yang dan kami sepakat untuk melakukan perjalanan mulai pukul 8 WIB.

SELAMAT TINGGAL TELAGA INDAH

Seperti biasanya. Pagi di tepi Telaga Dewi membuat badan menjadi malas untuk memulai aktifitas, apalagi baju lapangan yang akan dipakai basah. Namun, dengan dipaksakan akhirnya badan yang telah terlanjur malas ini bisa bangkit dari sleeping bag yang terasa sangat nyaman. Setelah selesai sarapan dan mengisi semua veldples yang kosong dengan air Telaga Dewi. Semangat baru muncul, kami langsung melanjutkan perjalanan dengan golok di tangan karena jalan sudah mulai kurang jelas dan tanda jalur juga sudah mulai samar-samar.

Ditengah perjalanan kami menemui sebuah telaga cantik yang bernama Telaga Kumbang. Namun, kami tidak dapat turun ke telaga tersebut karena kondisi medannya yang cukup curam dan kami masih harus berpacu dengan waktu. Ternyata, setelah mulai meninggalkan gunung Singgalang. Jalan yang kami temui cukup curam, sehingga kami harus sangat hati-hati agar tidak terjadi trouble. Disela-sela kehati-hatian menuruni gunung Singgalang, kami menemukan pemandangan yang luar biasa. Gunung Tandikek terlihat benar-benar bersih tanpa awan. Disebelah kanan kami terlihat awan yang sangat tebal dan pantai juga tidak mau menyembunyikan dirinya dari pantauan mata kami diarah kiri. Perjalanan kami terhenti sejenak ketika perut sudah mulai bicara minta diisi saat kami akan memasuki daerah yang dinamakan dengan Salo (antara) Singgalang-Tandikek.

Setelah makan siang, perjalanan mengasikkan kembali. Kami dituntut untuk lebih jeli dalam mencari tanda jalur yang tersembunyi dibalik tumbuhan lumut yang menutupi tanda jalur tersebut. Akhirnya kami harus membuat jalur sendiri untuk mencapai puncak semu yang lokasinya tidak jauh dari puncak gunung Tandikek.

Setelah beberapa dari kami kembali dari puncak semu, kami melanjutkan perjalanan kembali untuk mencapai puncak Tandikek yang jalurnya sudah jelas kembali. hingga perjalanan terhenti kembali ketika kami menemukan sungai kecil yang merupakan sumber air terakhir sebelum mencapai puncak Tandikek.

“Yang mau bersih-bersih silahkan, tapi cepat. Dari sini perjalanan kita sekitar setengan jam perjalanan lagi,” Tegas Reni yang sudah hafal dengan daerah ini.

“Tunggu ya, aku mau kebawah bentar,” Respon Ari setelah golok digenggam ditangannya.

“Mau kemana?” tanya Adi

“Biasa….” Jawab Ari sambil sumringah.

“Hati-Hati ya, disana curam,” sahut Reni.

TANDIKE, KAMI DATANG

Jalanan dari Telaga Dewi hingga puncak Tandikek yang kami temui sangat bersih. Dimana, kami tidak menemui sampah an-organik sedikit pun. Ini menandakan bahwa jalur ini memang jarang dilewati orang. Setelah kami selesai bersih-bersih di sumber air terakhir menuju puncak Tandikek kami dengan hati-hati, karena kami berjalan dipinggir kawah mati yang dasarnya tidak tampak. Konon dulunya kawah ini tempat keluarnya lahar. Dari sana, bebatuan khas cadas pun terlihat jelas dan sedikit menakutkan. setelah melewati kawah mati, kami langsung disambut oleh tumbuhan yang entah kenapa batangnya seperti bekas terbakar. Asumsi kami, mungkin gunung ini dulunya meletus dan membakar semua tanaman yang ada disekitar puncak Tandikek. Setelah meletakkan carrier di tempat yang direncanakan sebagai lokasi camp, kami mengitari sebagian kawah besar yang masih mengeluarkan asap belerang. Hingga kami menemukan tempat untuk melepas kepenatan dan mendokumentasikan perjalanan kami. Dari sini kami dapat melihat dengan jelas seluruh isi kawah.

Setelah snack habis, kami kembali ke lokasi camp dan mendirikan tenda serta menyiapkan segala suatu untuk makan malam kami. Saat kami memasak kerupuk dan yang lain membuat tempat menjemur pakaian, pengiring pun datang. dan menggusur carrier kami yang tergolek.

“Permisi ya, Pak… kami mau mendirikan tenda disini. Boleh ga Pak?” tanya pengiring dengan nada memperolok.

“Monggo, Pak…” jawab Adi diiringi dengan canda tawa.

“Sudah berapa lama kalian sampai?” tanya pengiring.

“Sekitar satu jam-an bang,” Jawab Reni. “Yang lain mana bang?” Reni balas menanya.

“Masih di bawah, mereka mengisi veldples,” Jawab salah seorang pengiring.

Pada saat pengiring yang pertama sedang mendirikan tenda, pengiring lain pun datang. Suasana perjalanan kami kali ini diisi dengan canda tawa, meskipun para senior dalam kondisi sebagai pengiring perjalanan kami. Meskipun penuh canda tawa, namun kami tetap menghargai mereka karena walau bagaimanapun, mereka adalah senior yang telah lebih dulu memasuki gerbang MAPALA UNAND dari pada kami.

Senjapun beranjak, kami telah selesai menyiapkan makanan untuk dinikmati malam ini. Sehingga, kami dapat menikmati indahnya sunset dari puncak Tandikek dengan bebas yang keindahnya tidak kalah dengan pemandangan di gunung Merapi.

Menjelang makan malam, kami menghidupkan api unggun yang pada dua malam sebelumnya tidak dapat kami hidupkan. Setelah api unggun hidup, suara “Yang tau-yang tau” pun terdengar. Kami makan dengan lahapnya dengan ikan teri yang menjadi langganan kami jika pergi kelapangan. Ditambah sayuran yang dimasak Iis menjelang keberangkatan kami. Selesai makan kami menikmati malam yang cerah dengan perbincangan pemecah suasana, dan membicarakan tentang jadwal keberangkatan esok hari.

Malam pun semakin larut. Satu persatu dari kami pun mulai masuk kedalam tenda untuk beristirahat. Pada malam ini, Adi yang menemui pengiring untuk menanyakan tentang koordinat yang harus kami capai esok hari dan menanyakan persiapan yang harus kami lakukan mulai dari malam itu. namun alangkah senangnya hati kami setelah mendengar kalau perjalanan selanjutnya dilakukan bersama-sama dengan pengiring. Berarti tidak ada keterlambatan perjalanan kami selanjutnya yang akan menyebabkan kami dikenai sanksi TP (tindakan perbaikan). Setelah perbincangan dengan pengiring selesai. Kami mengecilkan api unggun dan tidur dengan pulasnya ditenda masing-masing.

SUATU SAAT KAMI AKAN DATANG LAGI

Pagi itu cuaca sangat cerah. Sehingga kami semangat untuk bangun pagi. Dari hasil bincang-bincang kami malam sebelumnya dengan pengiring, dimana sumber air kemungkinan akan susah didapat. Maka kami mengisi velples untuk perjalanan dan juga menyiapkan cadangan air jika suatu waktu hal terburuk terjadi.

Pagi itu, yang pergi mengisi air adalah Ari dan Reni. Mereka mengisi air dengan ditemani oleh pengiring yang juga akan mengisi air dan memasak nasi untuk makan siang mereka. sesampai di camp, sarapan kami pun siap.

“Nih, buat Ari dan Reni,” Gif memberikan dua piring nasi lengkap dengan sambal langganan kami ditambah dengan kerupuk udang.

“Pengiring,,….. Makan…??” teriak Reni, Iis, dan Diex serempak.

“Lanjut. Sambal kalian ga enak. Enakan sambal kami. he.he.he….” Jawab pengiring.

“Enak aja, pengiring belum coba sih….” jawab Iis yang sewot.

Setelah makan nasi selesai, roti dengan selai mentega tambah mieses pun menunggu untuk di santap. Saat itu, suasana benar-benar asyik dan sayang untuk dilewatkan. Meskipun kami berebutan untuk mendapatkan roti yang sebenarnya sudah dibagi-bagi rata untuk bagian masing-masing. Namun entah kenapa, ternyata sangat mengasikkan waktu kami berebutan mengambil roti tersebut.

Roti pun habis, kami semua mulai mempacking perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Saat sedang mempacking perlengkapan, terdengar suara orang dari arah sumber air. Kami pun terheran-heran hingga tiga orang anak Sispala Galapagos datang dengan sebuah gitar kecil ditangan seorang pendaki. Sebuah daypack dan sebuah carrier dipunggung pendaki yang lain. Mereka lewat didepan kami dan menghilang kembali dibalik rumput yang tingginya mencapai tinggi kami setelah berbasa-basi sebentar.

GOLOK DITANGAN

Hari sudah mulai siang, kami berjejer meninggalkan puncak Tandikek setelah terdengar suara pengiring untuk menunggu kami di simpang Batu Besar yang katanya merupakan simpang menuju tempat pelantikan (Anai Resort) dan tempat turun Tandikek jalur Ganting. Perjalananpun dilanjutkan dengan golok ditangan karena tanda jalur sudah mulai kurang jelas dan tujuan pendakian kami kali ini selain untuk pelantikan juga untuk membersihkan jalur yang telah dibuat oleh senior kami sebelumnya.

“Masih jauh ga tempat nunggunya?” tanya Diex dengan tampang memelas.

“Lumayan…. Emang napa?” Gif balik bertanya.

“Ga nih, Diex pengen buang air…..”

“Ha.ha.ha….. Buang air aja kok repot.. Disini aja. nih,” ejek Ari sambil menyuguhkan Tisu kepada Diex.

“Ga ah, Diex malas.. Soalnya ga da air. Tapi tisunya buat Diex ya. Buat jaga-jaga,” Bantah Diex sambil merebut tisu dari tangan Ari.

“Ih, kamu ini. Katanya ga mau buang air disini. Tapi tisunya diambil juga,” Tomi juga ikut mecemooh Diex.

Sesampai di Batu Besar tempat menunggu pengiring. Kami beristirahat, sedangkan Diex dan Tomi buang air walaupun disana tidak terdapat sumber air. Setelah seluruh tim lengkap dengan pengiring, kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil punggungan sebelah kanan dan tidak boleh pindah punggungan dengan mengikuti tanda jalur yang dibuat oleh senior kami. Dalam perjalanan mengikuti tanda jalur. Kami sempat berputar-putar, sebab tanda jalur yang kami ikuti hanya berupa bacok tiga pada batang kayu. karena sudah lama tidak dibersihkan, maka tanda jalur ini sudah mulai hilang dan ditutupi oleh tumbuhan. Disinilah peran golok sangat penting karena tidak mungkin membersihkan jalur hanya dengan tangan kosong. Hingga pada sebuah penurunan, waktu sudah menunjukkan untuk kami segera mengisi perut. Kamipun langsung makan siang tanpa harus memasak terlebih dulu, sebab bekal untuk makan siang telah dipersiapkan dari puncak Tandikek.

Hari mulai gelap, kabut mulai turun. Kami bergegas melanjutkan perjalanan tanpa menunggu lama. Perjalanan mulai melelahkan. sebab kami harus benar-benar cermat dalam memperhatikan tanda jalur. Hingga kami sampai pada persimpangan jalur Anai Resort dengan jalur ke Lembah Anai. Dari sini tanda jalur hilang, pengiring menyuruh kami untuk memberatkan jalan ke kanan. Hujan turun dengan lebatnya, perjalanan kami bertambah berat. Satu-persatu raincoatpun dikeluarkan. Suara aliran sungai mulai terdengar. kami mempercepat langkah agar mencapai tempat camp yang tepat dan dengan sumber air yang cukup. Hingga pengiring pun menyuruh kami untuk segera mencari lokasi camp. Tak lamakemudia, lokasi camp kami temukan.

Dalam kondisi hujan leba, kami meratakan tanah agar tempat berdirinya tenda aman dari akar kayu dan duri-duri yang dapat merusak tenda. Setelah mendirikan flysheet, tim kami langsung terpecah. Ada yang mendirikan tenda dan ada yang memasak untuk makan malam.

MALAM YANG KELAM

Dalam suasana hujan dingin dan tanah yang becek, tenda kami selesai didirikan. Rasa penat dan dingin hingga gatal-gatal akibat digigit pacetpun menyerang kami. Malam tiba, rasa lapar telah datang menghantui kami. Namun, makan malam kami masih belum juga siap. Tapi apalah daya, kami berkumpul ditemani teh hangat dan sedikit snack yang cukup untuk membuat kami melupakan rasa dingin dan lapar untuk sejenak saat itu.

Makan malampun siap. Reni membagikan nasi keatas piring yang telah disiapkan sebanyak kami mulai dari awal keberangkatan. sambalpun dibagikan. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menyantap makan malam itu dengan lahap hingga tidak ada sedikit pun nasi yang berlebih.

Makan malam pun usai dan kami menghabiskan malam itu dengan bercerita tentang MU yang tidak pernah putusnya. Susu putih yang telah dipertahankan hangatnya dalam termos pun telah habis. Namun, perbincangan kami belum juga usai. Hingga Ari tertidur lebih dulu. Disanalah akhir dari pertemuan kami malam itu.

HARI TERAKHIR

Malam begitu cepat berlalu. Pagi tersenyum cerah. hujan sudah meninggalkan kami. Dan kami pun memulai perjalanan selanjutnya. Pada perjalanan kali ini tanda jalur benar-benar hilang, kami terpaksa hanya mengikuti punggungan tanpa tanda jalur dan tanpa patokan. Kami sudah mulai jenuh dengan pacet yang tak henti-hentinya menyerbu kami dengan ganasnya tanpa rasa iba. Perjalanan kami terhenti saat kami kehilangan punggungan. Yang kami temui hanyalah sebuah tebing blank disebelah kanan, lembah curam didepan dan disebelah kiri. disini kami terpaksa memecah tim dan berpencar mencari tanda jalur dengan meninggalkan carrier.

“Gimana Di?” teriak Ari

“Jangan kesini, cari kedepan!” Teriak Adi dengan lantang.

“Oke…. Diex, kamu nyari ke kiri,” Perintah Ari kepada Diex.

“Kayaknya ga mungkin, tapi Diex coba deh. Jawab Diex kepada Ari.

Teriakan-teriakan kami terus menggema menandakan kami masih dalam kondisi aman. Setelah capek mencari jalan yang tidak memungkinkan, Ari dan Iis kembali ke tempat meninggalkan carrier. Waktu sudah menunjukkan untuk makan siang.

“Nasi gimana Is? Mungkin ga, kalo kita masak disini?” tanya Ari

“Ga mungkin, kita berpacu dengan waktu. Tadi pengiring kan sudah bilang. kita harus mencapai Anai Resort sebelum malam datang. Pokoknya ga mungkin kalo kita masak nasi sekarang,” Jawab Iis.

“Klo gitu, roti aja. Daripada kita ngelamun aja nungguin yang lain, mending kita nyiapin roti dulu. Gimana?” ajak Ari.

“Oya, agar-agar yang tadi pagi udah keras kan?” tambahnya.

“Liat dulu,” Jawab Iis sambil membuka carrier. “udah keras nih,” jelasnya.

“Kalo gitu, menu kita hari ini roti tambah agar-agar ajal,”

“Oke… Kalo gitu aku yang ngoles mentega, kamu yang naburin mieses,” Lanjut Ari.

“Kesini……………..!” Teriak Diex dari arah kiri kami.

“Pastikan dulu Diex?” teriak Iis.

“Udah….” Jawab Tomi.

“Klo Gitu, kesini dulu, cepat..” teriak Ari dan langsung memanggil Adi agar segera kembali karena jalur telah ditemukan. Sambil menunggu Adi, pengiringpun datang.

“Kok berhenti? Kemana nih jalannya?” Tanya pengiring

“Kami baru saja kehilangan tanda. Barusan kami dapat tanda diarah kiri. sekarang mau makan siang dulu,” Jawab Ari.

“Oke, kami jalan dulu. kalian harus cepat,” tambah pengiring.

Terlihat Adi tegopoh-gopoh menaiki tanjakan terjal dari arah depan kami. Ternyata Adi berputar-putar mencari tanda jalur. seperti biasanya, kami berebut mengambil Roti dan langsung menghabiskannya dengan lahap.

KAMI SAMPAI

Tanda jalur pun ditemukan setelah sekian lama terhenti sebelumnya namun jarak tanda jalur ini sangat berjauhan dan susah mencarinya. dari tempat tanda jalur ditemukan, tidak hanya kami yang mencari jalur. namun pengiring juga ikut mencari. dari satu tanda jalur yang kami temukan, kami berpencar mencari tanda jalur berikutnya dan memperbanyak bacokan, serta membersihkan jalur ini agar dapat digunakan dimasa yang akan detang. reni, diex, dan ari berjalan didepan. iis, adi,tomi dan seorang pengiring menyusul kami dengan berlari setelah mereka diserang lebah yang berhasil menggigit adi dan tomi. suara kendaraan pun terdengar dengan jelas yang membuat semangat kami muncul lagi.

“Kita sudah dekat!” teriak diex dengan semangat.

“Hajar….!!!” teriak adi menambah semangat.

Hutan lebat pun habis. kami melewati sebuah lokasi bekas penebangan yang cukup luas dan ladang yang luas. dari sini tampak pegunungan-pegunungan yang terang karena matahari sudah mulai bersinar lagi. kami pun melewati beberapa anak sungai dan dua buah sungai besar hingga kami sampai ke tepi jalan raya sebelum sore menghilang.

PELANTIKAN

Sesampai di sebuah jalan setapak yang dekat dengan sebuah sungai, kami disuruh bersih-bersih oleh pengiring. kesempatan ini tidak kami sia-siakan karena kami sudah mulai gerah. kami pun membersihkan kotoran yang menempel di sepatu dan celana yang kami pakai sejak awal keberangkatan.

Setelah selesai bersih-bersih, kami memasak makanan dan menunggu instruksi selanjutnya dari pengiring. pengiring telah selesai terlebih dulu makan sedangkan makanan kami masih setengahjadi.

Pengiring lebih dulu meningalkan kami dengan instruksi agar kami cepat memasuki kompleks anai resort dan mencari villa tempat kami pelantikan. sedangkan diantara kami tidak seorang pun yang mengetahui lokasi vila tersebut dan waktu yang diberikan pengiring pun sangat mepet. dan kami terpaksa cepat-cepat mengemasi perlengkapan dan segera meninggalkan tempat itu dan segera menuju tempat pelantikan dengan sisa-sisa energi yang kami miliki. hingga akhirnya kami dapat mencapai lokasi pelantikan sebelum batas waktu yang diberikan oleh pengiring.

Sesampai dilokasi pelantikan, kami langsung dibariskan dengan teratur, dan disebutkan berbagai kesalahan yang telah kami buat selama melakukan perjalanan. Diantara kesalahan kami, yaitu meninggalkan sampah di puncak Tandike, dan keterlambatan kami mencapai puncak Tandike, serta kurang kompaknya kami setelah sampai di tepi jalan raya.

Setelah menjalankan semua konsekwensi dari segala kesalahan kami selama perjalanan dan mendapat pengarahan dari para senior, akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, serta proses keanggotaan MU yang panjang, kami dilantik sebanyak tujuh orang dengan nama angkatan CROLL yang disingkat dengan Crl.

Kami langsung dibariskan dengan teratur, dan disebutkan berbagai kesalahan yang telah kami buat selama melakukan perjalanan. diantara kesalahan kami, yaitu meninggalkan sampah dipuncak tandike, dan keterlambatan kami mencapai puncak tandike, serta kurang kompaknya kami setelah sampai di tepi jalan raya.

Setelah menjalankan semua konsekwensi dari segala kesalahan kami selama perjalanan dan mendapat pengarahan dari para senior, akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, serta proses keanggotaan MU yang panjang, kami dilantik sebanyak tujuh orang dengan nama angkatan CROLL yang disingkat dengan Crl.

Petualangan baru saja dimulai, mudah-mudahan kami bisa mengabdi kepada organisasi tercinta, MAPALA UNAND… (Harry Kurnia/ MU 194 Crl.)

6 Comments »

  1. abink says

    Lestari..lestari..lestari….!!
    seru banget cerita kenaikan status nya….
    jadi pengen lagi mengulang kisah2 indah di jalur Singgalang, Marapi dan daerah sumbar lainnya.
    Nama ku ABINK dari LAMPALIN-UPMI Medan
    Salam buat smua kawan2 di UNAND
    Satu Hal Aq ada rencana mau Bawa Anggota2 Ku Ekspedisi Ke SUMBAR, mohon kerja samanya ya… soalnya aku dah banyak lupa jalur karena aq dah jarang pulang kampung ke sumbar

    July 8th, 2008 | #

  2. Abu Yasmin says

    cuma koreksi aja buat penulis,kalau “SAMBAL” itu di jakarta atau jawa artinya lado (bagi urang padang) jadi yang cocok itu kata-katnya diganti dengan lauk, biar lebih dipahami oleh pembaca yang bukan orang padang

    August 25th, 2008 | #

  3. mapala gapura says

    lestari teman2 pecinta alam di unand,lam kenal aj ya…. slamat ya atas prestasi yang udah diraih,tetp sukses aj dah…! bleh mampir nggak kesana,kita pgen tau gmn sih gn singgalang….he!

    August 28th, 2008 | #

  4. mapala gapura says

    salam lestari! apa kabar para pencinta alam di mapala unand,,lam kenal ya…! nama kita GAPURA, Generasi Pecinta Alam Universitas Baturaja , lestari selalu alamku……!!!!:wink::wink::wink:

    August 28th, 2008 | #

  5. agung says

    Halo salam kenal. Gw Agung anggota KAPA FTUI.Mau nanya dong. Pendakian ke Singgalang ini perintisan jalur atau pendakian biasa. Untuk Musim Pengembaraan kami tahun depan, rencananya kami ingin mendaki Gn. Singgalang juga. Namun belum tahu informasi tentang karakteristik gunungnya. Kalau tidak merepotkan Gw bakalan nanya banyak tentang Gn. Singalang ini. Boleh kan?

    September 1st, 2008 | #

  6. @_ree (MU194Crl.) says

    tengkyu atas koreksi dari abu yasmin. maksud dari ’sambal’ disana memang ’sambal’. bukan lauk.
    trus buat teman2 mapala gapura, mampir aja kesini, tar kita naik bareng.
    buat agung ; pendakian kami waktu itu cuma pendakian biasa, trus dari puncak singgalang - puncak gn tandikek masih jalur biasa sih, cuman jalurnya udah kurang jelas, jjadi kami cuma mbersihin jalur aja. klo jalur dari puncak gn tanddikek- peradaban(.red) sih ada 3 jalur; 1. tembus ke ganting (padang panjang) 2. tembus ke air terjun 3. tembus ke anai resort.
    yang biasa dilewatin orang sih jalur tembus ke ganting. jalur yang lain sih jarang dilalui, apalagi jalur yang tembusnya ke anai resort, terakhirr dilewatin aja pas pembukaan jalur oleh angkatan Altimeter skitar 1995-1996an. habis itu boleh dibilang gada info klo ada yang lewatin. mungkin agung mau nyoba jalur tembus ke anai resort nya. datang aja, tar kita naik bareng.

    January 30th, 2009 | #

Leave a comment

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

RSS feed for these comments. | TrackBack URI

MITRA MU

TANNDE.COM

Cari Duit Disini

Adsense Indonesia

© 2007 Official Site Mapala Unand