Antisipasi DBD, MU Bagi-bagi ABATE
Tidak melulu berkegiatan di alam bebas, MAPALA UNAND (MU) pun kembali menggelar aksi sosialnya. Kali ini aksi sosial yang dilakukan organisasi pecinta alam Univ. Andalas itu berkaitan dengan antisipasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). MU melakukan sosialisasi tentang DBD dan sekaligus bagi-bagi ABATE kepada warga Jati dan sekitarnya untuk menanggulangi pembiakan nyamuk Aides Agypti di daerah tersebut. Aksi simpatik ini digelar MU pada Minggu 7 Maret 2004 lalu.
Kegiatan ini, menurut Ketua MU, Muhardi (MU 147 Hmr.), merupakan salah satu bentuk kepedulian MU terhadap masyarakat yang sekarang tengah dihantui ketakutan terhadap penyebaran penyakit DBD ini.

INNALILLAHI wainna illaihi roji’un. MAPALA UNAND kembali berduka, salah seorang anggotanya yang juga merupakan salah seorang perintis berdirinya organisasi ini, Indra Merry Marjatin SH (MU 009 Anr.) berpulang ke Rahmatullah. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Dharmais pada 6 Februari 2004 sekitar pukul 20.00 WIB.
TUJUH tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengingat jalan yang pernah dilewati. Jalur Gunung Pantai Cermin didominasi hutan lumut sangat mudah rusak dan hilang ditelnh tumbuhan pionir itu. Pada batang kayu walau samar, masih menyisakan bacok tiga dan stringline.
DI usianya yang ke-21, MAPALA UNAND resmi memiliki angkatan ke-17, dengan nama angkatan Snorkle atau yang disingkat dengan Srk. Angkatan ke-17 ini terdiri dari 3 orang Anggota Tanpa Register Mapala Unand (ATR-MU) jebolan PDM XV tahun 2004 dan 1 orang ATR-MU jebolan PDM XIV tahun 2003 yakni; Heru Dahnur (MU 173 Srk.) dari Fakultas Sastra ‘03, Febri Nanda (MU 174 Srk.) dari Fakultas Ilmu Sosial Politik ‘02, Fadli Dharma Putra (MU 175 Srk.) dari Politeknik ‘02 dan Heru Mega Saputra (MU 176 Srk.) dari Fakultas Peternakan ‘04. Ceremonial pelantikan Snorkle ini dilaksanakan di Area Wisata Camping Ground Anai Resort II, Sabtu 25 Februari 2006 kemarin.
“MENDAKI tengah malam pada medan berpasir menjadi pengalaman tersendiri, sepatu lapangan terbenam kedalam jalan pasir membuat langkah kaki semakin berat. Udara malam yang dingin membuat pendaki tidak sanggup untuk beristirahat lama-lama, karena tubuh yang tidak bergerak lebih cepat terasa lebih berat…”

